Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Permintaan Pradana


__ADS_3

“Ayah…” saat itu juga Laurent dengan wajah tersenyum bahagia berlari menuju pintu. Semua yang terjadi, ia lupakan begitu saja.


Yang ada di dalam pikirannya, ayahnya akan datang untuk menjenguk dan memperbaiki hubungan mereka.


“Biarkan saya masuk.” Begitu dingin Laurent mendengar nada bicara sang ayah bahkan ia pun berhenti mendekat. Tubuhnya mematung seketika.


Amanda sangat sedih melihat genangan air di dalam mata sang anak kala itu. Laurent gadis yang sangat baik, bagaimana mungkin ia di perlakukan seperti itu oleh sang suami.


“Ada apa ini?” Wandi berdiri lebih dulu melihat wajah tegang sang besan.


Pradana mengarahkan pandangan pada pria tampan yang hanya berdiam diri di kursi roda tanpa tahu menahu.


“Laki-laki keterlaluan! Apa yang kau perbuat pada kedua anakku? Apa salahku?” Pradana bertanya dengan nada tinggi.


Mendengar pertanyaan yang ambigu, Wandi serta sang istri segera mendekat pada Raul. Mereka berniat melindungi sang anak. “Tunggu. Ada apa ini? Kalian datang pagi-pagi dengan membawa keributan? Lebih baik kalian pergi dari rumah kami!” Amarah Wandi seketika memuncak. Ia menunjukkan tangannya dengan gemetar ke arah pintu.


Kedua keluarga yang sama-sama terbakar api amarah, dan Laurent mengernyitkan dahinya bingung. Apa maksud pertanyaan sang ayah dengan mengatakan kedua anaknya?


Pradana berjalan mendekat ke arah meja makan. Tangannya menghempaskan satu alat kecil berbentuk seperti stik.


“Itu, itu adalah hasil perbuatan anak kalian yang ca**t itu!” Mawar mendekat dan meraih benda yang baru saja di berikan oleh sang besan.


Wajah amarahnya seketika terkekeh. “Hahaha bercanda macam apa ini? Anakku Raul tidak mungkin melakukan ini. Kalau pun mungkin itu pasti dengan Laurent. Apa tadi katamu? Kedua anakmu? Tidak. Lina itu gadis yang memang berperilaku tidak baik. Pasti itu dari laki-laki lain.” tutur Mawar meremehkan adik dari sang menantu.


Laurent masih saja berdiam. Ia terus mendengar perdebatan demi perdebatan. Wajahnya tampak syok dan setengah mengingat kejadian sebelum ia menikah dengan Raul.


“Maaf, jika mungkin kedatangan kami kesini kurang sopan. Tapi, kami berniat kemari untuk mencari jalan keluar bersama. Kami pun bingung, karena Raul sudah menikah dengan Laurent, bagaimana dengan keadaan Lina? Tidak mungkin untuk kami menghilangkan janin itu.” Akhirnya Amanda yang masih bisa mengontrol emosi bersuara demi jalan keluar yang mereka inginkan.

__ADS_1


Pradana dan juga Wandi sama-sama tampak mengatur napasnya yang terengah-engah.


Sedangkan Lina, gadis itu hanya menunduk tak berkomentar apa pun.


Dalam kebisuannya, Raul membulatkan mata. “Apa? Lina hamil anakku? Ini tidak mungkin? Astaga Tuhan, cobaan apa lagi ini? Aku ingin segera sembuh. Agar bisa meneruskan masa mudaku yang tertunda, tapi kenapa gadis itu justru membawa masalah untukku juga? Sudah cukup dengan kehadiran Laurent dalam hidupku.” batin Raul ingin marah.


“Keadaan Raul masih belum bisa bicara atau pun memberikan kode. Kami tidak ingin mengambil langkah apa pun sampai Raul bisa memberikan kami keyakinan jika anak itu benar anak Raul.” Wandi berucap dengan tegas.


“Lalu maksud kalian, harus menunggu Raul sembuh dan membiarkan perut anak kami membesar? Tidak. Ini tidak benar. Kami mau Raul mempertanggungjawabkan perbuatannya.” Pradana menekankan nada bicara seolah memberitahu jika ia tidak main-main.


“Ayah, itu tidak mungkin.” Laurent meneteskan air mata melihat kegigihan sang ayah memperjuangkan hak sang adik.


“Cukup nikahi Lina. Dan sampai ia melahirkan. Setelah itu kalian bisa mengurus perceraian mereka. Biarkan Laurent yang menjadi ibu untuk bayi itu. Karena Laurent sangat mencintai Raul. Sedangkan Lina, hanya korban dari anak kalian.” Semua terkejut kembali mendengar penuturan Pradana yang sangat tidak masuk akal bagi mereka.


Amanda turut meneteskan air matanya. “Ayah, itu tidak adil untuk Laurent. Dia juga korban, Ayah.” ucapnya yang tak ingin menyembunyikan lagi dari sang suami.


“Aku mau sembuh. Aku mau sembuh. Aku tidak mau di jadikan boneka seperti ini oleh mereka semua.” Susah payah Raul ingin menggerakkan tubuhnya, tetapi sangat sulit.


“Besok kalian harus bersedia menikahkan Raul dengan Lina. Jika tidak, saya akan menuntut anak kalian atas perbuatannya dengan Lina. Dan Laurent, dia adalah pria pilihanmu. Jadi kau harus bersedia menerima apa pun yang berkaitan dengan suamimu. Itu akibat karena kau tidak mendengar ucapan ku.” Pradana bergegas pergi dari rumah tersebut tanpa menatap wajah semua yang ada di rumah itu.


Seketika, tubuh Laurent jatuh lemas terduduk di lantai. Ia menangis tanpa ada yang perduli padanya. Amanda berlari mengejar sang suami di susul oleh Lina juga.


“Ayah, tidak bisa seperti itu. Laurent menikah dengan pria itu bukan keinginannya. Ayah kenapa justru memberikan tekanan lagi pada Laurent, Ayah?”


Brak!!


Pradana menghempas keras pintu mobil tanpa menjawab ucapan sang istri.

__ADS_1


Sedangkan di dalam kediaman Wandi, Raul tiba-tiba sedih melihat tangisan sang istri. Air matanya hampir jatuh.


“Laurent, kasihan sekali kamu. Kamu harus menjadi perawatku seumur hidup di bawah tekanan orangtuaku. Dan sekarang justru Lina ikut memberikan masalah padamu. Astaga, kesalahan ku sungguh terlalu besar. Bagaimana bisa aku terperdaya oleh bocah itu?” rutuk Raul dalam hatinya menyesal kala mengingat hubungannya dengan Lina di waktu lalu.


Setelah kepergian sang ayah dan lainnya, Laurent mengejar sang mertua yang berjalan menuju ke kamar saat itu.


“Om, Tante, saya mohon jangan turuti permintaan Ayah saya. Saya tidak ingin di madu? Saya tidak ingin menjadi ibu sambung anaknya. Saya berjanji akan setia mendampingi Raul seumur hidup saya. Tapi saya mohon untuk kali ini…” Laurent menangkupkan kedua tangannya.


“Terus, apa jalan keluarnya? Kamu jangan hanya tahu memohon saja? Bantu kami berpikir. Kamu pikir kami senang berkaitan dengan keluargamu lebih banyak?” sahut Mawar segera bergegas menuju kamar.


Laurent terdiam, benar apa yang di katakan sang mertua. Jalan apa yang harus mereka tempuh kali ini? Tidak mungkin mereka membiarkan Raul lari dari tanggung jawabnya.


Ia pun dengan wajah sedihnya kembali mendekat pada sang suami. Dibawanya Raul menuju taman depan rumah.


Disanalah Laurent menangis memeluk suaminya yang tak bereaksi apa pun.


“Raul, kenapa kalian melakukan hal itu? Kenapa? Sekarang seperti ini jadinya. Apa yang harus lakukan sekarang? Aku benar-benar bingung, Raul. Segeralah sembuh. Aku mohon…” tangis Laurent.


Hanya air mata yang mampu Raul jatuhkan saat melihat dan mendengar betapa tersiksanya sang istri. Dan ini belum seberapa jika di bayangkan bagaiamana kedepannya kalau hal itu benar terjadi?


Di jalanan, tepatnya di dalam mobil. Amanda terus menasehati sang anak.


“Lina, kamu sudah membuat Ayah dan Ibu semakin pusing. Kenapa harus sampai bergaul sejauh itu? Bahkan dengan pria yang tidak memiliki status apa pun denganmu?” Amanda menggelengkan kepalanya.


Lina hanya diam. “Bodooh amatlah. Pasti Ayah juga tidak akan menolak permohonanku. Ibu selalu saja membela anak tirinya itu.” batin Lina menggerutu kesal.


“Ayah benar-benar kecewa dengan kalian berdua. Dan kamu Lina, kamu mengapa bisa jadi perempuan seperti itu? Pria mana pun tidak akan bisa menghormati perempuan yang rendaahaan seperti mu!”

__ADS_1


__ADS_2