Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Permintaan Pradana


__ADS_3

Suara langkah kaki terdengar cepat malam itu. Sebuah rumah sakit yang baru saja mereka datangi tenyata salah.


“Tidak ada nama pasien Pradana di data ini, Mba. Mungkin anda bisa mencari di rumah sakit lainnya.” Laurent menatap Dendi yang menghela napas kasar.


Keduanya kini masuk di dalam mobil milik Dendi. “Apa kamu tidak bisa menghubungi mereka, Lau? Atau siapa pun yang bisa kita tanya.” usulnya.


Laurent terdiam, ia paham ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan perasaannya. Ada hal yang lebih serius, yaitu kesehatan sang ayah.


“Baiklah. Tunggu sebentar, Pak.” Dendi melihat Laurent meraih ponsel barunya.


Tangannya tampak mengetik angka yang berupa nomor ponsel seseorang lalu menghubunginya. Jelas terlihat wajah gugup.


Beberapa saat keadaan mobil pun kembali hening. Hingga tak lama kemudian sambungan telepon Laurent di angkat.


“Halo…” sapaan di seberang sana.


Sebelum berucap, Laurent sempat menggigit ujung kukunya. “Halo…Bu, ini Laurent.” tuturnya pelan.


Dendi bisa mendengar samar-samar suara Amanda, sang ibu sambung Laurent kaget kala mendengar siapa yang menghubunginya.


Hingga akhirnya percakapan pun usai setelah Laurent mendapatkan informasi dimana sang ayah kini di rawat.

__ADS_1


Keduanya menuju ke rumah sakit yang di beritahu Amanda.


Hingga kini akhirnya mobil milik pria yang diam-diam mengagumi sosok Laurent akhirnya tiba di rumah sakit. Segera berjalan tergesa menuju ruangan yang di sebut Amanda pula.


Tangis haru menyambut kedatangan Laurent. Air mata dia wanita itu berjatuhan saat mereka berpelukan. Sungguh, Amanda sangat senang melihat sang anak kembali lagi. Susah payah mencari, sampai mengantar sang suami ke rumah sakit. Dan kini Laurent datang sendiri demi sang ayah. Dan melupakan semua yang telah ayahnya perbuat padanya beberapa saat lalu.


Tak perduli bagaimana perihnya hati kala melihat perlakuan sang ayah padanya, demi sang adik tiri.


“Bagaimana Ayah, Bu? Apa yang terjadi sampai seperti ini?” tanyanya menatap Pradana yang kini terpejam matanya.


Menurut Amanda, pria itu baru saja sadar beberapa saat lalu. Namun, ia sudah tertidur setengah jam lalu mungkin karena pengaruh obat.


Laurent menggelengkan kepalanya. Ia memeluk dan menyandarkan kepalanya pada pundak sang ibu.


“Bukan salah Ibu. Laurent yang memintanya, Bu. Sudah tidak perlu minta maaf. Laurent paham semuanya, Bu. Semuanya sudah terjadi dan terlewatkan. Yang penting saat ini, Ayah baik-baik saja, Bu. Itu sudah lebih dari cukup, Bu.”


Malam itu mereka berbincang sampai larut malam. Sedangkan Dendi hanya sesekali ikut berbicara saat keadaan sudah jauh lebih tenang.


Keadaan semakin larut, namun sampai saat ini juga Dendi mau pun Laurent belum melihat wajah Lina. Entah kemana perginya wanita itu. Sungguh miris, Laurent melihat bagaimana ayahnya saat ini, dan bagaimana Lina begitu di bela sang ayah. Semua seperti tak seimbang.


Namun, keberadaan Amanda sangat cukup untuk Laurent. Ia benar-benar bangga memiliki ibu tiri seperti Amanda.

__ADS_1


Hingga, pagi menjelang. Semua terbangun ketika mendengar suster datang untuk memeriksa sekaligus menyapa di awal jam tugasnya yang baru berganti dengan lainnya.


“Laurent…” Pradana bersuara berat seraya menunjuk ke wajah sang anak.


Laurent tersenyum dan menyambut tangan sang ayah. Di genggamnya hangat tangan pria paruh baya itu. Di peluknya kemudian.


“Laurent kangen, Ayah. Ayah lekas membaik yah?” Senyuman hangat dan manis tak lupa perempuan cantik itu sematkan.


Ada air mata di kedua sudut mata Pradana. Keadannya masih sangat lemah, belum cukup banyak tenaga untuknya berbicara saat ini.


“Laurent, Ayah ingin meminta sesuatu padamu. Boleh kah?” tanya Pradana terdengar lirih.


Laurent melihat bagaimana keadaan sang ayah yang jauh menurun dari beberapa waktu lalu saat di rawat di rumah sakit juga.


Ia sangat sedih, semua amarah yang ia tumpuk beberapa waktu belakangan hilang tak tersisa lagi.


Segera, ia menganggukkan kepala cepat. Bibirnya ia tutup serapat mungkin agar tak masuk air mata yang berjatuhan.


“Ayah, katakanlah. Apa pun yang Ayah minta. Laurent akan berusaha menyanggupinya.” ujar wanita itu dengan tulus.


Pradana semakin sedih, tubuhnya tampak bergetar menangis. Rasa bersalahnya pada sang anak semakin besar. Mengapa ia begitu tega meminta sang anak untuk mengijinkan Lina menikah dengan suami anaknya sendiri, bahkan tak sampai di situ. Kekejaman Pradana berlanjut menyuruh Laurent untuk merawat anak Lina ketika lahir dan membiarkan Lina melanjutkan kehidupannya usai berpisah dari Raul. Sungguh menyakitkan jika mengingat perbuatannya yang layaknya seperti ayah tiri.

__ADS_1


__ADS_2