Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Laurent Pasrah


__ADS_3

Hari ini adalah tepat satu bulan berlalu setelah kejadian naas malam itu. Dan untuk yang ke sekian kalinya, Laurent menangis bersujud di kedua kaki wanita paruh baya yang bertampilan elegan.


“Kamu harus menikahi anakku! Kamu sudah bikin anak ku seperti itu. Lihat mata, kaki, dan tangannya tidak bisa berfungsi lagi. Kamu Laurent, kamu kekasihnya. Menikah sekarang atau saya akan tuntut kamu dan keluarga kamu?”


Di bawah lantai rumah sakit, Laurent menggelengkan kepalanya sembari menangis? Menikah katanya? Bagaimana mungkin Laurent saat ini bahkan belum menyelesaikan sekolahnya. Ia belum siap untuk membina rumah tangga sekali pun ia sangat mencintai Raul dahulu.


“Tante, saya mohon jangan lakukan itu. Kejadian malam itu saya sama sekali tidak tahu. Saya hanya datang menolong Raul saja, Tante.” kedua kaki dengan heels tinggi di raihnya penuh permohonan.


“Besok, kalian akan menikah. Saya tidak mau tahu. Raul butuh kamu untuk mengurusnya. Dan ingat! Laurent, kamu bertanggung jawab penuh atas diri anak saya. Anak saya tidak punya masa depan, begitu juga harus yang kamu alami.” Wanita angkuh bernama Mawar menghempaskan kedua tangan Laurent dan bergegas pergi dari sana.


Pagi itu Dokter sudah menyatakan, jika Raul sudah bisa pulang dan melakukan perawatan jalan. Tentu itu adalah hal yang bahagia serta berita menyedihkan juga bagi keluarga dan Laurent.


“Ayah lemah jantung. Tidak mungkin jika mereka mengancam Ayah. Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus aku yang menjadi tersangka? Bahkan cctv sudah aku berikan, tapi mereka tetap tidak terima.” Laurent menunduk sedih.


Satu-satunya orang yang bisa ia ajak berbagi kesedihan ini adalah Amanda. Yah, wanita yang berstatus ibu sambungnya itu pasti akan memberikan saran yang baik untuknya dan juga untuk semuanya.


Seragam sekolah yang melekat di tubuh Laurent kali ini masih tetap ia pakai. Pergi dari rumah sakit setelah menjenguk dan mengurus sang mantan. Lalu ia memutuskan pergi pulang ke rumah.


Dalam perjalanan, Laurent terus menerus meneteskan air mata. Akankah ia harus meninggalkan semua cita-cita dan memilih mengabdikan diri untuk pria bernama Raul? Bagaimana ia harus menghadapi hal ini pada kedua orang tuanya.


Tangisan terus menemani perjalanan sore itu di dalam taksi online. Tak perduli apa tanggapan supir, bagi Laurent ia benar-benar berada di jalan buntu dan hanya pasrah.


“Maaf, Non. Sudah sampai.” Pak supir seketika membuyarkan lamunan Laurent. Ia mengusap cepat air mata, memberikan ongkos lalu segera keluar dari taksi.


Kedua matanya menatap nanar pemandangan yang sangat memilukan hatinya.


Di sana, dua buah kursi menjadi tempat duduk bagi kedua orangtuanya. Sungguh, mereka tampak sangat bahagia.

__ADS_1


“Tuh, Bu. Kakak sudah pulang. Padahal jam pulang sekolahnya sudah dari tadi loh.” Lina berteriak di teras rumah kala baru selesai membersihkan kuku di teras rumah. Lengkap dengan masker yang membalut wajah mungilnya.


“Laurent,” panggil Pradana menatap wajah sang anak yang merah di bagian ujung hidung dan kelopak mata yang membengkak.


Laurent terdiam beberapa saat, matanya bahkan mulai mengembun lagi.


“Ayah…di sini dulu yah? Biar Ibu yang ajak Laurent masuk. Ayah tenang saja.” ucap Amanda lemah lembut.


Selama ini kemunikasi keduanya cukup baik, dan hal itu membuat Pradana sangat percaya dengan peran sang istri pada anaknya.


“Ayo, Ibu bantu membawa tas kami.” Amanda menggenggam kedua bahu Laurent.


Tak ada jawaban yang terdengar, Laurent hanya diam seribu bahasa, melangkah masuk ke rumah bersama sang ibu.


“Ehem…Ibu, Kakak itu pulangnya telat. Apa tidak ada niatan mau di nasehatin seperti aku biasanya?” cibir Lina sembari tersenyum sinis.


Tangis dan pelukan erat seketika membuat Amanda sangat terkejut. Belum saja tiba di kamar, Laurent sudah memeluk dan terisak di pelukan sang ibu tiri. Hatinya bingung, ia tidak siap dengan semua ini.


Rasa bersalah pada sang ayah, tekanan dari keluarga Raul. Sungguh membuatnya benar-benar tak bisa bernafas lega saat ini.


“Nak, ada apa? Apa yang terjadi? Katakan pada Ibu? Apa yang membuat kamu sampai seperti ini?” tanya Amanda yang berusaha melerai pelukan Laurent.


Laurent terus mendekapnya erat. Ia belum sanggup bicara, setelah selama satu bulan rasa tekanan yang terus ia dapatkan. Hari ini, waktu yang ia takutkan terjadi.


“Ibu…” tangisnya lirih.


Pelayan yang kebetulan lewat ingin memberikan segelas air, di cegah oleh Amanda dan memintanya segera pergi.

__ADS_1


Setiba di dalam kamar, Amanda mendudukkan sang anak di tepi ranjang.


Dan saat itu juga, Laurent tampak mengusap air mata. Menarik napas dalam dan menghembuskannya.


“Bu…” Semua rentetan kejadian sebulan lalu ia ceritakan tanpa tertinggal satu pun. Hingga hari ini satu permintaan dari keluarga Raul membutanya tak bisa berbuat apa-apa lagi.


Amanda sangat tidak menyangka jika keluarga pria yang sempat ia kenal ternyata sekeras itu. “Ini sangat tepat jika di bicarakan sekeluarga. Tapi, Ayah kamu sangat rentan terkena jantung, Lau. Kalau Ibu yang datang memohon pada mereka, pasti kamu sendiri tahu jawabannya. Mereka akan memandang Ibu rendah. Bahkan jika Ayah pun yang datang mereka akan berlaku sama. Kecuali ini di sangkut pautkan dengan pengacara.” Panjang lebar Amanda menjelaskan bagaimana perannya sebagai wanita rumahan yang tidak banyak tahu dunia luar.


Sudah pasti keluarga Raul akan memandang sebelah mata dirinya.


“Laurent tidak ingin Ibu dan Ayah terlibat. Karena itu bisa jadi ancaman untuk perusahaan Ayah juga, Bu. Laurent tidak ingin Ayah pusing memikirkan perusahaan yang di sebabkan Laurent, Ibu.”


Keduanya berpelukan menangis bersama. “Inilah yang Ibu inginkan, Lau. Kalian, Lina dan kamu harus berpendidikan. Agar segala sesuatunya bisa kalian selesaikan sendiri, tanpa seorang pria. Bukan wanita seperti Ibu yang tidak mengerti apa-apa dunia luar. Tapi bagaimana itu bisa terjadi jika kamu sudah di paksa oleh mereka untuk menikah di usia semuda ini?” Di usapnya lembut rambut panjang anak sambung itu.


“Laurent takut, Ayah akan semarah apa jika tahu Laurent memilih putus sekolah nantinya demi menikah, Bu? Laurent tidak sanggup melihat kekecewaan Ayah.” tuturnya begitu panjang menerawang ke depan.


Akan banyak badai yang harus ia hadapi saat mengambil keputusan tersebut.


“Ibu akan terus mendukungmu, Nak. Ibu akan tetap mendoakan mu apa pun yang terjadi. Ibu sungguh ikut merasakan sakit ini, Lau. Kamu anak yang tidak lahir dari rahim Ibu. Tapi kamu benar-benar anak yang sangat Ibu sayangi. Kamu anak baik. Allah pasti sedang menguji kamu, Nak.”


Sungguh menyedihkan, keduanya sama-sama tidak mendapatkan jalan dari masalah.


Bahkan tanpa mereka sadari, kedua mata tampak mengintip di sela pintu yang tidak begitu rapat.


“Hahaha rasain. Urus tuh laki-laki yang tidak bisa apa-apa. Dengan begitu, aku jadi anak satu-satunya di rumah ini. Ibu juga tidak akan membanding-bandingkan aku dengan siapa pun lagi.” Lina tampak tersenyum puas mendengar semua cerita Laurent yang menurutnya ini semua terjadi karena ketidak sengajaan. Dan sangat membuatnya senang mendapat kejutan tak di duga.


“Semuanya beres. Seperti keinginan kita.” Pesan singkat Lina kirim pada seseorang di ponselnya tanpa nama kontak.

__ADS_1


__ADS_2