Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Pernikahan


__ADS_3

Di kediaman orangtua Raul, pria yang duduk di kursi roda lengkap dengan jas hitam serta kupiah tampak menatap nanar pada keadaan di sekelilingnya.


“Tidak! Aku tidak ingin menikah. Tolong jangan lakukan ini padaku!” teriak Raul dalam hati.


Mencintai wanita secantik Laurent adalah suatu kebahagiaan tersendiri untuknya. Tetapi, menikah di waktu yang masih ingin ia jadikan masa muda untuk bersenang-senang bukanlah keputusan yang tepat.


Namun, semua jeritan yang ia keluarkan hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.


Bibir tak bisa berucap apa pun, bahkan menggerakkan tangan pun ia sama sekali tidak bisa. Raul di vonis cacat usai sadar dari kritisnya.


Kedua pihak keluarga telah berkumpul pagi itu. Seperti permohonan dan persetujuan antar Laurent dan sang ayah. Mereka tak ada ikatan apa pun lagi setelah pernikahan terjadi.


Laurent tertunduk meneteskan air mata, wajah cantik itu kini tampak sembab setelah semalaman meratapi nasib yang akan terjadi ke depannya.


Pernikahan yang di langsungkan dengan wali dari mempelai pria.


“Hah? Ini benar Laurent menikah dengan Raul? Ada apa ini sebenarnya?” Pria yang bernama Dendi tampak merasa ada sesuatu yang tidak benar di dalam pernikahan sepupunya dan sang asisten saat di sekolahnya.


Berbagai pertanyaan timbul di benaknya hingga Dendi tak sadar kala ijab kabul telah selesai.


Acara sederhana, bukan acara yang meriah seperti pernikahan pada umumnya.


“Semua sudah selesai. Kami harus kembali ke rumah.” Pradana berdiri dari duduknya tanpa mau menatap wajah sang anak di sana yang tertunduk menangis tanpa henti.


“Terimakasih, Tuan Pradana. Kami sangat senang dengan hubungan baru keluarga kita ini.” Wandi, suami dari Mawar berucap dengan wajah tersenyum. Meski ia tahu ada raut kemarahan di wajah sang baesan.


Tak ada sahutan yang di berikan oleh Pradana, ia pergi dari kediaman Wandi bersama dengan sang istri dan anak tiri.


“Kak, kami pulang dulu yah.” Lina pergi bersama kedua orangtuanya dengan penuh rasa senang.

__ADS_1


Dalam hatinya merasa sangat sayang melihat keadaan pria tampan yang menjadi pujaannya, kini terlihat sangat tidak bisa melakukan apa pun.


***


Hari pertama menjadi seorang istri, hari ini juga Laurent menghentikan air mata yang terus mengalir.


Tak ada guna menangisi hal yang sudah terjadi dan tak akan bisa kembali seperti semula. “Laurent, ini bubur untuk Raul. Ini jam makan siangnya. Dan ini kertas data obat yang harus di minum Raul. Saya mau keluar kota satu minggu ini.” Mawar mengusap sejenak kepala sang anak.


Laurent menatap wajah sang mertua dengan tatapan datar. “Mah, bagaimana bisa aku mengerjakan ini sendirian? Apa tidak ada suster untuk bantu yang lainnya?” tanya Laurent lembut.


Mawar terkekeh sinis. “Semua sudah lengkap di dalam catatan itu. Kamu bisa praktek semuanya dan mulai membiasakan diri. Ingat pakaian Raul semuanya harus di cuci dengan air hangat tanpa mesin cuci.”


Laurent mulai menyuapi bubur yang di buat khusus untuk sang suami oleh pelayan. Untuk hari ini semua masih di bantu, namun esok hari adalah hari kedua yang harus ia lakukan serba sendiri.


“Prft!” Suara semburan tiba-tiba terdengar kala Laurent menyuap sang suami bubur.


“Raul, ada apa? Buburnya tidak enak? Ini makanan yang sehat. Ayo makanlah.” Laurent dengan sabar berkata.


“Emp! Emp!” Pria itu mengamuk dengan suara terbungkam di mulut. Tak ada yang bisa ia ucapkan saat ini.


“Raul, makanlah. Biar cepat sembuh. Tolong, jangan seperti ini. Aku bingung.” Laurent memohon namun tetap saja Raul berusaha berontak dari kursi rodanya.


Makan tak bisa ia berikan, Laurent bergegas memberikan roti yang di sediakan pelayan dan mulai melihat beberapa rentetan daftar apa saja yang harus ia lakukan.


Ada kesedihan yang berusaha Laurent pendam hari ini. Dimana ia benar-benar berperan menjadi seorang istri sedangkan biasanya ia masih mengenakan seragam sekolah SMA dan nongkrong bersama temannya di kantin.


Begitu pula di sekolah, para teman Laurent mau pun Raul semua sangat kaget mendengar seorang guru memberitakan dua teman mereka sudah tidak bisa bergabung di sekolah lagi.


“Semoga setelah ini tidak akan ada lagi yang mengikuti jejak mereka. Ibu harap kalian akan mengejar cita-cita kalian setinggi mungkin. Bukan membina rumah tangga di usia dini. Ibu benar-benar tidak menyangka jika Laurent adalah orang pertama yang membuat harapan sekolah dan juga Ibu sendiri pupus.” Wanita berkaca mata yang berdiri di depan para siswa dan siswi itu bahkan menggelengkan kepalanya pusing.

__ADS_1


***


“Laurent,” panggil pria yang baru saja mencekal pergelangan tangannya saat tengah asik menyikat baju basah penuh busa sabun.


Pria yang juga tinggal di rumah tersebut sangat membuat Laurent kaget.


“Pak Dendi,” sahut Laurent melihat sosok pria yang berdiri di belakangnya.


Tampak gadis cantik duduk mencuci beberapa lembar pakaian. Keringat mengucur deras di dahinya.


“Sudah, tinggalkan. Itu ada mesin cuci. Kenapa harus susah payah mencuci pakai tangan?” Dendi menatap banyaknya peralatan cucian yang berserak di sepan Laurent.


Segera, Laurent menepis tangan pria yang mencengkramnya. “Pak Dendi, tolong jangan seperti ini. Jika ada yang melihat saya takut ada salah paham.”


Dendi paham ia mengangguk. Mundur beberapa langkah demi menjaga jarak.


“Kenapa harus seperti ini, Laurent?” tanya Dendi.


“Seperti ini apanya, Pak? Saya mencintai Raul.” sangkal Laurent menahan tangisnya.


Kata cinta yang di lontarkan Laurent terasa seperti hal yang sangat bertolak belakang dengan apa yang di lihat Dendi di mata Laurent.


“Lau, katakan apa yang sebenarnya? Tolong jangan menutupi apa pun dari saya.” Dendi tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menggenggam kedua tangan Laurent.


Ia tahu gadis seperti apa Laurent, ini tidak mungkin kemauannya sendiri. Laurent tidak seperti itu pola pikirnya.


Keduanya saling bertolak. Laurent ingin melepaskan genggaman, sedang Dendi berusaha kuat menggenggam tangan wanita cantik yang baru beberapa saat sah menjadi istri dari pria ca**t.


Semua masih menjadi teka teki, sedangkan di tempat yang berbeda.

__ADS_1


Seorang gadis yang baru masuk ke toilet di sekolah terus menerus merasakan gejolak yang begitu tidak enak di perutnya.


“Aduh…apa lambungku kambuh lagi yah?”


__ADS_2