Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Kepulangan Dari Rumah Sakit


__ADS_3

Sudah empat hari Pradana berada di rumah sakit saat itu. Kini wajah Amanda, Pradana dan juga Laurent tampak tersenyum sumringah kala mendengarkan perkataan sang dokter.


“Semuanya sudah kembali stabil. Dan infusnya akan segera di lepas. Hari ini Pak Pradana bisa segera pulang di waktu siang setelah semua administrasi selesai di urus yah, Ibu?” tutur sang dokter dengan tersenyum.


“Baik, Dokter. Terimakasih banyak Dokter.” sahut Amanda dengan wajah lega.


Mereka sangat senang akhirnya setelah bolak balik rumah dan rumah sakit, malam ini mereka bisa berkumpul dengan nyaman di rumah dan tidur di kasur yang lebar.


“Ibu, biar Laurent saja yang berkemas. Ibu suapin Ayah saja makanannya.” tutur gadis cantik itu.


Amanda tersenyum senang mendengar perhatian dari sang anak sambung. “Laurent…” panggil Amanda pelan.


Laurent dan Pradana menoleh seketika.


“Kalau Ibu yang sakit seperti ini, apa Ibu juga akan mendapatkan perhatian seperti ayahmu saat ini?” tanya Amanda dengan wajah sendu.


Ia sadar ini adalah hal yang tidak sepantasnya ia pertanyakan. Mengingat Laurent juga adalah anaknya meski tidak dari rahimnya.


“Kamu ini bicara apa, Amanda? Lina dan Laurent anak kita. Mereka akan merawatku dan dirimu juga.” sambung Pradana yang tidak mengerti kekhawatiran sang istri.


Amanda menggelengkan kepalanya. Kejadian saat ini sudah cukup membuatnya paham, bagaimana rasa perduli sang anak, Lina pada mereka.


Laurent yang berkemas di bawah, segera berdiri dan berjalan. Ia memeluk tubuh sang ibu dan tersenyum.


“Ibu adalah satu-satunya Ibu Laurent. Mau Ibu sakit atau pun sehat, Laurent akan tetap perduli dan lakukan apa pun yang bisa buat Ibu dan Ayah senang. Ibu jangan berpikiran tidak-tidak yah? Laurent senang sekali karena Allah kasih Laurent kesempatan punya ibu untuk kedua kalinya. Iya kan, Ayah?” Senyumnya terarah pada sang ayah.


Pradana segera mengangguk cepat. Mereka bertiga pun akhirnya segera bersiap untuk pulang.

__ADS_1


Hari ini adalah hari jum’at. Dimana sekolah Laurent tidak mengadakan prosesi belajar. Dan gadis itu memilih untuk ijin dari sekolah karena ingin menjemput kepulangan sang ayah dari rumah sakit.


Berbeda dengan sosok Lina. Hari ini entah sudah hari keberapa ia bolos sekolah. Jika beberapa saat lalu, Laurent dengan senang hati mengijinkannya untuk libur. Tidak hari ini dan seterusnya.


“Lin, aku mau ada acara malam ini. Nanti orang tua ku bisa marah kalau aku sampai buat keburukan di sekolah. Udah berapa hari kita bolos. Aku tidak ingin yah malam ini acara yang aku tunggu-tunggu sama teman-teman jadi gagal gara-gara kemauan kamu ini.” Raul tampak mulai enggan dengan sikap Lina yang terus menerus tak bosa berduaan dengannya.


Lina mengerucutkan bibirnya. Jemari lentiknya ia putar di dada polos sang kekasih. Yah, keduanya tengah berada di atas tempat tidur dengan selimut putih tebal khas hotel menutup sebagian tubuh keduanya.


“Kamu apa kurang puas dengan aku? Kamu masih mengharapkan Kak Laurent?” tanya Lina manja di iringi suara yang lemah lembut.


“Dari awal aku sudah bilang, Laurent adalah satu-satunya wanita yang buat aku tergila-gila. Dan kamu yang mohon dengan aku bukan? Untuk mencoba menerima kamu sampai kamu bisa menggantikan nama Laurent di hati aku. Tapi lihat, sampai detik ini semuanya tidak ada perubahan.” panjang lebar Raul berucap.


Keringat di tubuh pria itu tak ia hiraukan. Segera Raul mengenakan kembali seragam sekolahnya dan meninggalkan Lina yang berada di atas tempat tidur.


Tatapan mata Lina sangat tajam melihat punggung Raul yang semakin menjauh meninggalkan kamar dan pintu pun tertutup.


“Kak Laurent, aku tidak boleh kalah darimu. Semua yang aku mau harus jadi milikku.” batin Lina menggeram.


Malam sabtu. Malam ini adalah malam yang begitu lama terencana dan akhirnya bisa terealisasi.


Para muda mudi berkumpul di sebuah kafe yang tampak ramai dan tertata sedemikian rupa. Lampu yang tidak terlalu remang dan tidak terlalu terang, menampakkan beberapa pasang pelajar mulai berdatangan.


Yah malam itu adalah acara khusus siswa siswi kelas 3. Sebagai acara penyambutan ujian beberapa minggu lagi.


Tentu acara di selenggarakan di luar kesepakatan sekolah dengan wali murid. Namun, hal seperti ini bukanlah hal yang asing.


Raul dengan wajah tampannya datang melewati banyaknya mata siswi yang menatap kagum padanya. Raul adalah pria yang terbilang paling sempurna di antara yang lainnnya. Kaya, tampan, tidak nakal, nilai pun standar.

__ADS_1


“Wah wah sendiri aja nih. Mana gandengannya? Yang paling pintar, atau yang paling liar? hahaha.” Bagas, salah satu geng Raul tampak menggoda sahabatnya.


“Yah masa iya bawa adik kelas? tidak mungkin lah. Laurent pasti datang sebentar lagi.” tuturnya menatap ke arah pintu masuk para teman-teman seangkatannya.


“Woy, Raul! Mana istri kecil mu itu?” tanya Bia teman wanita Raul lagi.


Raul yang mendengar banyaknya ledekan dari teman-teman hanya bisa terdiam dan tersenyum simpul. Kepalanya ia gelengkan pelan.


Tangan Raul bergerak meraih ponsel di saku celana.


“Aku sudah di depan.” Pesan singkat yang ia baca di ponsel saat mengusap layar ponsel yang terkunci.


Senyuman di wajah Raul terbit saat itu juga. Ia berjalan meninggalkan para gengnya untuk menyambut sang kekasih.


Seperti biasa dan jauh dari ekspektasi, Laurent tampail memukau. Sangat cantik, bibir yang berpoles lipstik dan di padukan dengan lipglos sungguh membuat jiwa Raul begitu lapar.


Dress slim dengan rambut lurus panjang itu bergerak seirama dengan langkah kaki yang terus melangkah mendekat pria yang mematung menatapnya.


“Sudah kan? Sekarang bicaralah! Ada apa dengan Lina?” yah pertanyaan Laurent malam ini adalah tentang Lina.


Baru tadi siang sang ayah keluar dari rumah sakit. Rasanya Laurent sungguh tidak tega jika harus pergi meninggalkan sang ayah meski di rumah ada sang ibu.


“Sayang maafkan aku. Ayo kita masuk ke acara sambil bicara santai. Tidak mungkin kan kau datang secantik ini dan hanya berdiri di sini lalu pulang?” Raul menggandeng tangan Laurent dengan mesra.


Sontak semua mata memandang ke arah mereka. Keduanya adalah pasangan yang serasi memang.


“Lau, aku sangat mencintaimu.” bisik Raul di telinga Laurent.

__ADS_1


Plak!! Suara tamparan mendarat keras di pipi Raul saat itu juga.


Bahkan pembicaraan pun belum di mulai. Keduanya baru saja ingin mulai menikmati makanan dan minuman. Namun, entah mengapa sejak awal kedatangan, Laurent sudah berusaha menahan amarah di dadanya.


__ADS_2