Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Kecemasan Sang Ayah


__ADS_3

Suara riuh tiba-tiba saja menggema di lapangan olahraga saat itu. Semua siswa yang sedang melangsungkan pemanasan mendadak kaget kala melihat salah satu teman mereka jatuh pingsan di lapangan.


“Astaga, Lina!” teriak wanita yang menjadi salah satu temannya.


“Wah kenapa tuh? Jangan-jangan mau kesurupan lagi.”


Heboh bahkan mereka masih tampak saling bertanya hingga salah satu dari teman lainnya membawa tubuh gadis itu menuju UKS.


Setelah di baringkan, keadaan Lina masih belum sadar. Pijatan terus di gerakkan pada tubuh gadis itu seraya memberikan minyak kayu putih untuk di hirupkan.


Beberapa saat berlalu, barulah Lina mengerjap beberapa kali. Kepalanya sungguh terasa sangat pusing. Di pegangnya kening yang seperti berputar.


“Lina, kamu sudah sadar juga akhirnya. Aduh aku bingung. Sekarang kita pulang yah? Biar aku antar kamu ke rumah. Lagian guru di kelas juga sudah kasih ijin kok.” tutur gadis cantik dengan riasan tipis di wajahnya yang bernama Dinda.


Tak sanggup menjawab, Lina hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan. Berdiri pun ia di bantu oleh sang teman hingga keluar sekolah dan masuk ke dalam mobil menuju pulang ke rumah.


Di perjalanan, Lina menghubungi sang Ibu. Ia benar-benar merasa lemas di tubuhnya hingga tak sanggup lagi jika harus menahan.


“Ibu…” lirihnya saat telepon tersambung.


“Lina, ada apa Nak? Ini bukannya kamu masih sekolah? Kenapa bisa aktifkan hp?” Begitu khawatir Amanda menanyakan pada sang anak.


Lina tampak bersandar pada sandaran mobil. Sedang Dinda terus memijak kepala teman sekelasnya itu.


“Ibu, Lina pusing sekali. Lina pulang dari sekolah ini lagi di perjalanan. Perut Lina terasa di aduk-aduk, Bu.” jelasnya lemah tak ada tenaga lagi.

__ADS_1


Amanda yang sedang bersama Pradana di perusahaan sontak terkejut. Matanya membulat dan wajahnya penuh tanya.


“Yasudah, Kamu sekarang ke arah rumah sakit terdekat saja. Ibu akan ke sana sekarang juga. Kasihan kalau kamu harus di bawa ke rumah lagi. Yah? Ibu secepatnya sampai. Tahan yah Nak yah?” Mendengar perintah sang Ibu, Lina pun setuju.


Ia memberi tahu sang teman untuk menemaninya ke rumah sakit yang paling dekat dari posisi mereka saat ini.


***


Di kediaman Wandi, tampak gadis dengan keringat masih menetes deras sedang menjemur pakaian sang suami.


Sungguh ini adalah hari yang melelahkan. Laurent bahkan belum sempat mengisi perutnya sendiri. Sarapan, minum obat, membersihkan kamar, mencuci pakaian sang suami, dan memberikannya makan siang lagi. Semua tentang Raul. Tak ada waktu untuk ia memperhatikan dirinya sendiri.


Ucapan Dendi padanya yang harus memperhatikan diri sendiri pun tak Laurent ingat lagi. Waktu yang membuatnya mengerjakan semua dengan buru-buru hingga lupa akan kesehatannya.


“Ini obatnya. Ayo di minum.” ujar Laurent membantu sang suami.


“Raul, kita istirahat setelah aku makan yah? Sore nanti aku akan mengajakmu berkeliling di taman depan. Semoga pelan-pelan kita bisa terapi berjalan.” Senyuman indah di wajah Laurent ia berikan untuk sang suami.


Raul hanya diam seperti biasa. Hanya mata yang ia tampakkan menyiratkan sesuatu yang entah apa artinya.


“Kau wanita yang aku cintai, Laurent. Tapi aku belum siap untuk menikah. Aku tidak suka statusku ini!” batin Raul murka mengingat jika ia tetap bersama Laurent, itu artinya tak ada kebebasan lagi sebagai seorang bujangan.


Sedangkan jika ia bercerai dari Laurent, itu artinya statusnya akan menjadi duda. Sungguh keduanya bukanlah pilihan yang baik.


Di rebahkan tubuh sang suami, dan di berikan selimut. Laurent benar-benar merawat suaminya penuh ketulusan. Setelah memastikan semuanya selesai, barulah ia mengisi perutnya di dapur.

__ADS_1


“Non, Laurent. Non baru mau makan? Tadi pagi makannya kenapa tidak di makan, Non?” Sang pelayan bertanya saat bertemu Laurent di dapur dan melihat piring yang ia sisikan untuk Laurent masih utuh tak tersentuh.


“Iya, Bibi. Tadi sibuk ngurus Raul. Yasudah saya makan dulu yah, Bi.” Pelayan itu menganggukkan kepalanya.


Hari-hari Laurent lalui dengan penuh kelelahan. Ia tak perduli bagaimana keadaan teman-temannya di luar sana. Yang terpenting sekarang dan menjadi tujuan utamanya adalah menyembuhkan sang suami dengan seutuhnya.


Hanya itu satu-satunya penguat Laurent saat ini. Raul adalah pria yang baik menurutnya, mereka akan bisa saling menguatkan untuk hidup bersama dan keluar dari rumah ini.


“Semoga kelak ketika Raul sembuh, dia setuju untuk ku ajak keluar dari sini. Aku benar-benar tidak betah di rumah ini…” batin Laurent menatap langit-langit rumah yang menjulang tinggi dari lantai satu tembus ke lantai tiga.


Tiba-tiba ia mendengar suara seseorang tertawa keras.


“Hahaha…itu bukan suatu masalah. Biarkan saja Dayang tinggal bersama kami. Aku sangat kesepian Yul. Setidaknya anak kamu itu bisa temanin aku di rumah kalau suamiku bekerja.”


Tepat satu minggu, hari ini adalah hari kepulangan sang mertua. Laurent melihat Mawar yang berjalan sembari berbicara melalui telepon. Sedangkan pelayan membawakan koper di belakang.


“Tante…” sapa Laurent ingin mencium punggung tangan sang mertua. Tapi sayang, hal itu tak di hiraukan oleh Mawar.


Justru sang pelayan pun sedih melihat tangan Laurent yang menggantung di udara di lewati begitu saja oleh sang mertua.


“Iya…suruh datang kesini saja. Bila perlu saya langsung carikan tiket sekarang, dan suruh si Dayang berkemas. Haaah senangnya keponakan cantikku akan datang dan tinggal di sini.” Mawar duduk di sofa dengan wajah tersenyum ceria.


Hilang rasa lelah itu kala bercerita dengan sang adik yang berada di luar kota. Namanya adalah Yuli. Mereka hanya dua bersaudara.


“Semoga saja yang datang bukan malaikat pencabut nyawa…kalau tidak, habislah aku.” batin Laurent yang sudah merasakan firasat tidak enak.

__ADS_1


Hal yang di alami Laurent sungguh terasa pada sosok pria yang kini tengah duduk termenung seorang diri ruangan kerjanya.


“Apa yang kau rasakan di sana, Laurent. Ayah benar-benar khawatir. Kenapa pikiranmu sampai seperti itu berani memutuskan menikah mudah? Apa kalian sudah berbuat hal yang jauh?” Pradana bertanya-tanya dalam hati pada dirinya sendiri.


__ADS_2