Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Pembagian Saham


__ADS_3

Sesuai perjanjian kemarin, kini di ruangan yang sejuk tampak seorang wanita dengan jas putih melekat di tubunhnya tampak tersenyum pada monitor di depan sana.


Sebelah tangannya bergerak-gerak memeriksa perut wanita cantik yang masih rata.


“Syukurlah, Ibu benar hamil. Itu kantung janinnya sudah terlihat meski masih sangat kecil.” Tunjuknya dengan tatapan mata.


Senyuman lebar pun merekah di wajah Kenzo dan Laurent saat ini.


Bahkan tanpa sadar Kenzo yang berdiri di sisi tempat tidur kini mendekat dan mencium kening sang istri yang berbaring di ranjang pemeriksaan.


“Mas,” desis Laurent tak enak melihat tingkah sang suami.


Dokter tersenyum penuh pengertian. “Tidak apa-apa, Ibu. Ini berita menggembirakan. Patut di rayakan.” Laurent hanya membalas dengan senyuman kaku.


“Mulai sekarang nggak ada lagi pikiran mau kerja atau lanjut sekolah.” Kini Laurent mendengar ucapan yang ia takutkan selama ini.


Yah, tekadnya ingin sukses tanpa bergantung pada Kenzo masih sangat besar meski ia sudah menikah.


“Mas, nanti kita bicarakan di rumah.” jawab Laurent. Pandangan bahagianya mereduk seketika.

__ADS_1


Namun, Kenzo yang ingin menegaskan lagi kini menyadari jika mereka berada di tempat yang tidak seharusnya membahas hal pribadi.


“Ehem.”


Kecanggungan yang terjadi pada dokter membuat Kenzo berdehem.


“Baik. Bapak, Ibu, sesuai hasil pemeriksaan, kandungan Ibu baik-baik saja. Dan nanti biar bidan yang berikan buku hamilnya yah? Dan ini resep vitamin untuk Ibu. Selebihnya baik-baik saja.” Kenzo mengambil kertas yang baru saja di beri coretan pulpen di sana oleh sang dokter.


“Kalau begitu terimakasih banyak, Dokter.” sahut Laurent.


“Permisi, Dok.” Kenzo menggenggam tangan sang istri.


Pagi ini ia bahkan rela untuk meninggalkan pekerjaan demi menjenguk sang buah hati.


Mengambil vitamin dan membayar, kini mereka sudah berada di dalam mobil.


“Mas, kamu nggak serius dengan ucapan kamu barusan kan?” tanya Laurent kembali berusaha menarik perhatian Kenzo yang menatap hasil print usg dari dokter.


Kenzo seketika menghilangkan senyumannya.

__ADS_1


“Lau, apa lagi yang mau kamu cari? Aku mohon ini demi anak kita.” tutur Kenzo menggenggam tangan sang istri.


Laurent menunduk tak berani menatap wajah Kenzo. “Mas, itu adalah masa depan Laurent jika kelak terjadi sesuatu dengan…”


“Ssssst, tidak ada yang terjadi dengan kita. Oke, kalau kamu takut ada apa-apa ke depannya dan menyangkut masa depan kami, baiklah. Kita ke kantor sekarang. Kamu ikut aku. Aku akan kasih jawaban sekarang juga tentang masa depan kamu.” Seketika Kenzo tak mau lagi jika ia lemah dan membiarkan Laurent memohon padanya.


Ini semua demi ketentraman istri dan anaknya. Ia akan lakukan apa pun.


***


“Bagaimana? Apa masih kurang 50% saham yang aku punya atas namamu?” tanya Kenzo sembari membelai lembut rambut Laurent yang kini ia dudukkan di pangkuannya saat mereka berada di ruangan kerja sang suami.


Laurent terdiam tak bisa mengatakan apa pun. Bibirnya seperti beku melihat surat yang baru saja di bawa oleh sekertaris ke ruangan tersebut.


Laurent menatap kertas itu lalu berganti menatap wajah sang suami lagi.


Bukan seperti ini yang Laurent inginkan. Ia ingin memiliki kemampuan, bukan ingin mendapat secara instan berupa materi saja.


“Setiap penghasilan perusahaan, akan masuk menjadi keuntungan untukmu juga. Dan itu sampai kedepannya tidak akan pernah habis. Jadi, aku mau tetaplah di rumah menungguku pulang. Aku mohon, Lau…”

__ADS_1


“Mas, ini terlalu berlebihan.” Laurent bersuara setelah cukup lama ia bungkam melihat surat yang jelas membuatnya tidak pernah menyangka.


Ini jelas seperi kaya mendadak namanya. Andai keadaan Laurent tidak sedang takut akan masa depannya dan pernikahannya, mungkin saja ia akan meloncat kegirangan.


__ADS_2