
Tepat dua hari usai pernikahan antara Laurent dan Kenzo. Pagi ini adalah pagi kedua bagi Laurent tidur begitu lelap. Bagaimana tidak, aromaterapi yang ada di kamar luas milik sang suami terasa memijat seluruh tubuhnya. Begitu menenangkan.
“Lau, Laurent,” pelan tangan kekar Kenzo bergerak membangunkan sosok Laurent.
Sungguh Kenzo jatuh hati setiap kali melihat kedua mata sang istri terpejam. Kelopak mata kecil dan bulu mata yang yang lentik nan panjang. Sangat indah di mata pria itu.
Beberapa detik tak ada pergerakan, Kenzo memberanikan diri mengusap pipi mungil di depannya.
“Laurent,” panggilnya sekali lagi namun masih pelan.
“Eugh!” Lenguhan pelan serta gerakan tangan sukses membuat Kenzo menarik kembali tangannya.
Dadanya terasa bergemuruh karena gugup. “Astaga, ada apa denganku? Seperti maling ketahuan saja. Dia istriku.” umpat Kenzo yang kesal karena ia sangat gugup.
“Tuan, aku kesiangan lagi?” Syok Laurent bangun dengan wajah kaget. Matanya berkeliling melihat keadaan ruangan yang sudah cerah oleh sinar mentari.
“Em iya. Sudah jam 8. Kau harus bersiap kita akan liburan.” Kata-kata Kenzo seketika kembali membuat Laurent semakin membulatkan matanya terkejut.
__ADS_1
“Hah? Liburan? Tapi aku…” matanya menatap tubuh yang sama sekali belum siap. Bagaimana mungkin mereka berangkat sedang ia belum ada persiapan sama sekali. Terlebih Laurent melihat suaminya sangat rapi dengan pakaian casual.
Kenzo tiba-tiba tersenyum. “Mandilah. Setelah itu pelayan yang akan membantumu bersiap.” Kenzo pergi dari kamar usai mengusap kepala sang istri.
Tanpa perduli setelah kepergiannya pun Laurent masih diam mematung. Tangannya meraih dada miliknya sendiri.
“Perasaan apa ini? Ded degan mules bahkan kepalaku rasanya kram. Ini lagi perut kok jadi sakit nggak karuan yah?” Wanita berstatus janda muda itu bingung lantaran merasakan hal yang aneh pada tubuhnya.
Cukup lama ia berdiam di tempat tidur tanpa menyingkirkan selimutnya. Tangannya terus mengusap dadanya yang terasa begitu mendebarkan.
“Apa Tuan Kenzo tadi memegang kepalaku dengan alat strum? Tapi aku tidak merasakan apa pun.” batinnya bingung.
“Nona Laurent, mari kami bantu bersiap. Saya akan siapkan keperluan mandi dulu yah? Dan yang lain membantu Nona Laurent melepas pakaiannya.” Tiga orang pelayan datang mendekat.
Laurent tergugu mendengar pakaiannya akan di lepas oleh mereka. “Eh jangan! Jangan! Biar saya mandi sendiri dan lepas baju sendiri.” tolaknya merasa malu.
Bahkan suami pertamanya hingga kedua pun belum pernah menyentuh atau melihat tubuh Laurent.
__ADS_1
“Tapi, Nona…”
“Tidak. Saya tidak terbiasa. Maafkan saya.” tolak Laurent lagi.
Secepat kilat wanita mungil itu berloncat dari ranjang dan lari menuju kamar mandi. Tiga pelayan pun saling pandang dan tersenyum.
***
“Wah…pantainya indah sekali jika di lihat dari ketinggian seperti ini, Tuan.” Laurent tersenyum bahagia usai turun dari helikopter.
Kaki mungil dengan sneakers putih itu berpijak pada tanah di puncak ketinggian. Dari sanalah pemandangan indah lautan yang begitu indah dengan warna biru tampak jelas.
“Yah, tapi akan lebih indah jika melihat dengan posisi kamu berada di antara pemandangan itu.” Mata Kenzo menatap dalam wanita yang baru dua hari menjadi istrinya ini.
Laurent tersenyum kikuk melihat tatapan dalam sang suami. Ia menunduk sembari memperbaiki rambutnya yang berterbangan.
“Lau,” Kenzo meraih kedua tangan Laurent. Di genggamnya tangan mungil itu.
__ADS_1
Laurent masih menunduk gugup. “Aduh perutku mules. Ini bukan strum kan? Ini apa? Tidak mungkin tubuh Tuan Kenzo ada daya strumnya.” batin Laurent yang semakin tidak bisa mengkondisikan jantungnya dan tubuhnya secara bersamaan.
Debaran jantung yang semakin liar, perut yang semakin terasa di aduk, kepala yang seperti di remas, bahkan seluruh suhu tubuh wanita itu terasa dingin. Namun, telapak tangannya sudah bercucuran keringat. Tentu Kenzo bisa merasakan tangan basah oleh keringat itu.