
Malam yang baru menyapa kala itu tampak begitu melelahkan bagi wanita paruh baya yang tengah menatap berbagai hidangan yang baru saja di sediakan di meja makan.
"Wah Nyonya, makan sendirian nih? Kok Non Lina nggak pulang-pulang juga, Nyonya?" tanya sang pelayan yang mendekat melihat seorang Amanda duduk seorang diri di kursi meja makan.
"Heh Lina itu tidak tahu kemana saja hari ini, Bi? Laurent saja yang selalu bisa di andalkan selama ini." keluh Amanda mengingat tingkah sang anak gadis yang sangat sulit di atur.
Sang bibi mengingat, hari ini bahkan anak dari majikannya itu tidak sekolah dan di jemput oleh pria yang tidak asing bagi mereka. Yah pria yang sering beberapa kali datang menjemput dan mengerjakan tugas kelompok di rumah tersebut.
Keheningan terjadi saat Amanda mulai menikmati makan malamnya. Sungguh rasa lapar yang ia rasakan membuatnya tidak bisa makan dengan nyaman. Sebab kesendirian malam ini membuatnya sangat kesepian. Suapan demi suapan terus ia lakukan perlahan.
"Bi," panggil Amanda di sela suapannya.
"Iya, Nyonya?" suara sang bibi menyahut penuh hormat.
"Hem...Laurent dulu bagaimana ibunya mendidik anak itu?" tanya Amanda.
__ADS_1
Wajah sang bibi mengernyit bingung untuk menjawab pertanyaan sang majikan. "Maksud, Nyonya?" tanyanya ragu dan bingung.
Kedua tangan Amanda mengaduk-ngaduk isi di piring memikirkan apa yang terjadi pada sang anak. Sungguh kekhawatirannya pada anak gadis begitu besar.
"Anakku tumbuh dengan sikap sulit di aturnya seperti itu, padahal aku adalah ibunya yang selalu berada di sampingnya, Bi. Sedangkan Laurent, anak itu besar tanpa seorang ibu. Saat ini lihatlah, Bi. Mereka berdua jauh berbedanya." Tampak jelas manik mata Amanda mengembun mengingat bagaimana ketakutannya saat ini.
Namun, sayang belum usai percakapan mereka malam itu justru sorot mobil yang terang menembus jendela rumah megah tersebut menghentikan semuanya.
Mata Amanda dan sang pelayan bersamaan tertuju pada pintu utama yang tertutup.
"Lepasin, Kak!" Suara Lina menggema.
Suara keributan di depan pintu membuat wanita yang duduk di meja makan semula berjalan mendekati suara gaduh tersebut.
"Laurent? Lina?" Amanda menatap satu persatu wajah anak sambung dan anak kandungnya dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Sudah ah! Aku capek." Lina menghempaskan kembali genggaman tangan Laurent yang mencengkram kuat pergelangan tangannya.
Keadaan tentu tidak baik-baik saja saat ini. Amanda paham kedua anaknya sedang terjadi sesuatu pada mereka.
"Ibu, Laurent tidak tahu bagaimana lagi sekarang. Lina hari ini bahkan bolos sekolah. Ibu tahu apa yang di katakan pada Laurent?" tanya Laurent pada sang ibu yang enggan menutupi kesalahan sang adik.
"Oh jadi mau adu-aduan nih? Oke." sahut Lina tidak terima.
"Tunggu. Lina bolos sekolah hari ini? Lina apa benar itu? Lalu untuk apa?" Amanda sangat terkejut mendengar perkataan anak tirinya barusan.
"Heleh...Ibu mau tanya soal itu atau hal yang lebih penting lagi dari itu?" Lina berusaha mengalihkan permasalahan yang bersumber darinya.
"Kak Laurent, sejak kapan kalian pacaran sejauh itu? Kakak yang sok polos selama ini ternyata sudah mengerikkan yah gaya pacarannya? hehehe tidak menyangka sih. Kalau Ayah tahu pasti bakal tamat hari ini juga."
Plak! tamparan keras Laurent layangkan di pipi sebelah kiri sang adik tiri yang tertawa meremehkannya kini sungguh membuat semua mata membulat sempurna. Laurent yang lemah lembut, dan sangat baik tak di sangka berani menggerakkan tangannya seperti itu.
__ADS_1
"Berani menamparku?" Lina berteriak penuh amarah. Bahkan tubuhnya bergetar keseluruhan mendapatkan perlakuan seperti itu.