
Semua mata memandang ke arah pria yang bersuara lantang. Kenzo mengernyitkan dahinya heran.
“Den, apa-apaan ini?” tanyanya tidak mengerti.
“Pernikahan ini tidak sah. Dia bukan Laurent, Ken.” ujar Dendi menunjuk ke arah mempelai wanita.
Kenzo yang menatap heran pada sosok Laurent seketika mendapatkan pelukan erat dari mempelai wanita.
“Tuan, aku sangat mencintaimu. Tolong jangan meninggalkan aku. Aku yang paling membutuhkan mu. Aku mohon.” Benar, Kenzo membulatkan matanya setelah mendengar suara yang beda dari biasanya.
Jelas suara Laurent sangat beda dari Lina. Lantas Kenzo pun tidak ragu-ragu mendorong tubuh Lina kasar.
“Berani-beraninya, kamu!” teriak Kenzo penuh amarah.
“Lina, apa yang kamu lakukan?” Pradana dan Amanda serentak bersuara penuh emosi. Mereka sungguh tak habis pikir melihat tingkah Lina yang bena-benar di luar pikiran orang waras.
“Ayah, Ibu, aku hanya ingin menjadi istrinya. Aku mencintainya. Biarkan saja Kak Laurent bersama Raul. Mereka itu lebih pantas bersama. Bukan denganku.” isak tangis Lina sembari mencoba mendekat Kenzo kembali.
“Hentikan gerakanmu! Atau akan ku potong tangan itu?” ancam Kenzo.
__ADS_1
Pria itu berlari menghampiri Dendi. “Ken, Laurent tidak sadar saat ini.” tutur Dendi dan Kenzo semakin mempercepat langkahnya.
Amanda yang geram dengan sang putri seketika mendekati Lina.
Plak! Plak!
Dua tamparan terasa adil di berikan untuk Lina.
“Ibu sudah membesarkan kamu dengan berusaha menuruti apa yang seharusnya kamu dapat. Sosok ayah yang tulus padamu, tapi apa balasan kamu, Lina? Bahkan Ayahmu sampai salah membela kamu dari pada anak kandungnya sendiri. Apa itu belum cukup? Kamu tidak pantas memikirkan siapa yang cocok bersama Raul. Tetapi yang harus kamu pikir, siapa yang pantas menjadi ayah utuk bayi itu dari wanita seperti kamu? Tidak malu kamu mengemis pada pria? Hah? Kamu lupa keadaan kamu yang sangat hina itu?”
Amanda benar-benar berkata sangat pedas. Ia bahkan tidak perduli lagi bagaimana sakit hatinya sang anak mendengar penuturannya saat ini. Sedang Pradana hanya bisa menunduk diam. Ia merasa gagal menjadi ayah sambung untuk Lina.
Kegagalan yang sudah berkali-kali membuat keluarganya malu.
Amanda pergi tanpa perduli bagaimana menangisnya Lina di sana.
“Ayah, ayo istirahat ke kamar. Ibu akan mengurus Laurent setelah itu. Ada Tuan Kenzo juga dan Dendi yang membantu Ibu.” ucap Amanda lembut.
Pradana tidak bersuara sama sekali. Ia berdiri dengan tubuh lemas tanpa tenaga.
__ADS_1
Di kamar Laurent, mata Kenzo menatap sedih melihat ada darah yang keluar dari kening sang calon istri. Meski tidak begitu banyak.
“Thanks, Den.” ucap Kenzo menerima kotak obat dari sang sepupu.
Kening Laurent ia bersihkan darahnya dan ia tempel plaster. Perhatian Kenzo sudah cukup dimana Dendi membuktikan jika pria itu memiliki perasaan pada Laurent.
“Kenzo jauh lebih baik untuk Laurent di bandingkan aku. Semoga kamu kelak bahagia bersamanya, Laurent.” batin Dendi menatap nanar pemandangan di depannya.
Tangan Kenzo memberikan Laurent aroma therapi di bagian hidunya. Cukup lama hal itu berlangsung hingga akhirnya Laurent pun menggerakkan kedua kelopak matanya.
“Aduh…” ringisnya memegang kepala yang terasa sakit dan sedikit berat saat ingin membuka mata.
“Laurent,” Kenzo dan Dendi serempak bersuara.
“Pak Dendi, bagaimana Laurent?” Amanda yang baru saja masuk memecah kecanggungan di dalam kamar itu.
Kenzo yang mulanya menatap penuh selidik pada sepupu teralihkan oleh wanita paruh baya di ambang pintu kamar.
“Dia baru saja sadar, Bu.” sahut Dendi mempersilahkan Amanda untuk masuk mendekati Laurent.
__ADS_1
“Ibu,” Laurent melihat Amanda dan merentangkan kedua tangan.
Sontak Amanda membalas memeluk anak sambungnya. “Laurent, maafkan Ibu yang gagal melindungi kamu, Nak.”