
Langit yang biru kini mulai bergantu menjadi jingga seiring mentari yang bergerak perlahan menghilang. Indahnya suasana sore itu nyatanya tak membuat hati seorang wanita yang duduk di depan jendela kamarnya teralihkan.
Pandangan matanya menatap nanar ke depan sana. Laurent yang sejak kepergian Kenzo, kini hanya diam melamun.
Kening yang tertutup perban kecil membuatnya sadar jika ia juga telah gagal menjadi seorang kakak.
Bayangan di masa lalu dimana ia dan Lina sempat sangat dekat setelah pernikahan ayah dan ibu mereka. Namun, sikap Amanda yang sering kali memuji sang kakak, pelan-pelan menimbulan rasa iri di hati Lina.
“Sayang, ayo makan dulu. Kamu harus kembali sehat.” Suara lembut Amanda membuyarkan lamunan Laurent kala itu.
Wanita cantik dengan mata sembab itu menoleh sekilas. “Bu…” lirihnya dengan wajah kembali memandang ke depan.
__ADS_1
“Hem? Ada apa, Nak? Lina jangan kamu pikirkan lagi. Dia sudah bersama suaminya. Kamu harus memikirkan besok. Hari ini jadikan pelajaran yah?” Amanda tersenyum sangat hangat. Tangannya bahkan menghsap lembut rambut panjang sang anak.
“Laurent merasa gagal menjadi kakak. Lina adalah adik yang baik.” ucapnya sedih.
Tentu saja, perlakuan Lina siang tadi benar-benar seperti orang memiliki penyakit mental. Sebab tak ada orang yang waras berani bertingkah seberani Lina.
“Bukan, Nak. Bukan kamu yang gagal. Ibulah yang salah. Ibu membiarkan Ayahmu selalu memanjakannya dan Ibu justru memanjakan mu. Seharusnya kami sebagai orangtua bersikap adil. Ibu tahu, Lina sudah sangat keterlaluan. Tapi, semoga dengan pernikahannya bersama Raul membuatnya bisa berubah. Terlebih setelah anaknya lahir nanti. Ibu berjanji akan sering menjenguk Lina bersama Ayah. Jadi, kamu tidak perlu sedih lagi yah?”
Seketika, Laurent menghambur memeluk sang ibu sambung. “Laurent sayang sekali sama Ibu.” ucapnya dengan tulus.
Laurent terkekeh mendengar ejekan sang ibu. Ia pun menurut dan makan dengan lahap.
__ADS_1
Setelah memastikan Laurent makan dan tenang, Amanda menemani anak sambungnya untuk berbaring.
Malam yang menjadi terakhir wanita itu tinggal di rumah orangtuanya. Sebab, siang tadi Kenzo memang berniat ingin membawa Laurent pergi bersamanya. Tetapi, Laurent ingat jika ia memiliki kedua orangtua yang akan melindunginya. Akhirnya, malam ini ia memilih menetap di rumah ayah dan membiarkan Kenzo pergi seorang diri.
“Bu, apa pernikahan kedua ini bisa membuat Laurent bahagia dan tetap bertahan dengan Tuan Kenzo?” Pertanyaan yang beberapa hari ini membuat Laurent terbebani.
Pasalnya ia sangat tidak ingin jika kembali harus berpisah. Usianya masih sangat muda, apa penilaian orang-orang jika ia harus kembali menjanda untuk kedua kalinya dalam pernikahan siri itu.
“Ikuti kata hatimu, Nak. Apa yang kau rasakan?” Amanda menyentuh dada sang anak. Mata mereka saling bertemu.
“Rasanya baik-baik saja, Bu. Tidak ada rasa debaran yang membuat Laurent takut.” jawab wanita itu apa adanya.
__ADS_1
Amanda tersenyum mendengarnya. “Hati tidak pernah bohong, Lau. Ayah mu sudah memilihnya dan Tuan Kenzo juga pria yang tegas dalam urusan hati. Jawabannya saat menerima permintaan Ayah membuat Ibu bisa melihat dia pria yang bertanggung jawab dan mampu melindungimu.”
Malam itu ibu dan anak itu menghabiskan waktu untuk saling mencurahkan hatinya. Banyak sekali kata-kata yang membuat Laurent tenang dari sang ibu. Hingga tanpa sadar ia pun terlelap dengan tenang.