
Jika di mata orang pernikahan adalah sesuatu yang sungguh membahagiakan tentunya. Tetapi, tidak berlaku untuk wanita yang kini perutnya sudah semakin membuncit.
Meski terlihat enggan mengurusi pria yang berstatus suaminya, kini Lina tidak memiliki pilihan lain lagi untuk yang lain. Pergi dari rumah mertua dan meneruskan impiannya bukanlah pilihan yang mudah.
“Ayah dan Ibu sudah tidak ingin memaafkan aku dan menerima ku lagi di rumah. Baiklah, mungkin ini karma yang ku dapatkan untuk mengurus suami seperti Raul selamanya. Aku akui aku salah.” Air mata pagi itu menetes kala Lina menyeka seluruh tubuh suaminya yang masih tak ada perkembangan.
Terapi dan pengobatan tradisional pun sudah di lakukan. Sayangnya, semangat Raul untuk pulih kembali tidak ada lagi, ia hanya pasrah dengan hidupnya mengingat wanita yang ia inginkan bukanlah Lina.
Setiap hari, Lina mulai terbiasa melakukan kewajibannya merawat suami dan rumah besar milik sang mertua.
“Lina!” Panggil Mawar pada sang menantu.
Mendengar namanya di panggil, Lina meninggalkan cucian piring dengan membasuh lebih dulu tangannya.
“Iya, Bu?” sapa Lina patuh.
“Ini uang bulanan. Kamu kelola yah. Jangan lupa susu hamil itu kamu beli stok langsung saja biar nggak kehabisan. Saya mungkin dua minggu baru pulang. Kamu rawat Raul dengan baik.” Penuturan Mawar juga tampak mulai tak sekasar dulu lagi setelah beberapa waktu memperhatikan Lina banyak berubah.
__ADS_1
Yah, Lina berubah usai menerima kenyataan saat pulang dari rumah kedua orangtuanya. Usia belia membuatnya tak punya keberanian untuk berjuang di luar sana menghidupi diri sendiri apalagi dengan perut yang membuncit.
***
Siang berganti dengan malam begitu cepat. Hari pun terlewatkan begitu saja. Dan kini, ketika sosok pria terlihat baru turun dari mobil usai pulang kerja.
Manik mata Kenz terlihat bergerak memperhatikan langkah wanita yang berjalan menyambutnya di teras rumah. Tak lupa senyuman Laurent kembangkan selebar-lebarnya.
“Mas, aku kangen.” ucapnya manja memeluk sang suami dengan erat.
Inilah obat yang sesungguhnya bagi pria yang bekerja, mendapat sambutan hangat dari sang istri.
“Ada apa? Hem? Tumben seperti ini?” Kenzo mendaratkan ciuman di kening sang istri.
“Kamu pasti bakalan senang, Mas. Aku positif.” bisik Laurent sontak membuat Kenzo membuka lebar mulutnya.
Matanya menatap dalam sang istri. “Lau, kau tidak bercanda?” tanyanya.
__ADS_1
Laurent tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Nggak mungkin aku bercanda, Mas.” jawabnya senang bukan kepalang.
Mendengar berita baik, Kenzo tersenyum dan memeluk erat tubuh sang istri. Sungguh rasanya bahagia sekali. Perjuangan Laurent pun selama ini rasanya tidak sia-sia. Ia mendapatkan suami yang begitu sempurna di matanya.
Dan kebahagiaan yang berlimpah Tuhan berikan di rumah tangga mereka.
“Terimakasih, Sayang. I love you.” ucap Kenzo.
Keduanya pun berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah berseri-seri.
Seperti biasanya, Laurent mengurus kebutuhan mandi sang suami dan mereka segera makan malam usai Kenzo mandi.
Mungkin bagi yang tidak menikmati, aktifitas sebagai istri sangat membosankan. Tapi bagi Laurent itu adalah sebuah kebahagiaan yang tidak bisa di beli siapa pun.
“Sayang, besok kita periksa ke dokter yah?” Di sela-sela makan malam, Kenzo meminta pada Laurent.
Seperti biasanya, tak ada penolakan. “Iya, Mas. Tapi apa kamu nggak sibuk di kantor? Aku periksa sendiri nggak apa-apa kok, Mas.” jawab Laurent penuh pengertian.
__ADS_1