Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Pradana Jatuh Sakit


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang kini terdapat lampu menjadi penerang tampilan layar monitor sekaligus menjadi teman tidur seorang wanita yang tertelungkup di meja.


“Hei…hei…” tepukan pelan mengejutkan Laurent sore itu. Ia menengadah demi melihat wajah tampan yang membungkuk di hadapannnya.


“Ada apa?” tanyanya tanpa dosa.


“Sudah mau malam. Pulanglah.” titah Kenzo lalu pergi dari ruangan.


Laurent mengusap kedua mata yang tampak silau oleh cahaya lampu. “Astaga…ternyata sudah malam. Aduh gawat, aku malah belum menyetrika baju-baju.” Gadis itu panik dan segera berlari keluar rumah megah yang sudah ia tempati seharian ini.


Ia bahkan melewati seluruh pelayan dan juga seorang pria yang duduk menikmati kopi di ruang tengah.


Mata Kenzo menatap kepergian Laurent. Ia menggelengkan kepalanya.


“Nona, mari.” Supir di depan yang sudah menyediakan mobil terbuka membuat Laurent yang hendak berlari terhenti sesaat.


“Ada apa, Pak?” tanya gadis itu sopan.

__ADS_1


“Tuan Kenzo menyuruh untuk mengantar anda pulang.” jawab sang supir mempersilahkan Laurent masuk dengan isyarat tangannya.


Laurent pun tanpa pikir panjang masuk ke dalam mobil. “Hehehe lumayan uangnya buat makan besok.” batin Laurent terkekeh mengingat ia yang hampir mencari kendaraan umum.


Mobil pun saat ini mulai berjalan keluar dari halaman seorang Kenzo Aprilio. Wajah Laurent tercengang memikirkan jika ia baru saja ingin berlari untuk mencari kendaraan.


“Astaga…aku lupa. Kalau tadi berlari keluar pagar bisa jadi aku pingsan di jalan. Lagi pula di perumahan seperti ini mana ada kendaraan umum kalau tidak memesan. Huh untung saja Tuan Kenzo baik.” Pak supir terkekeh mendengar ucapan gadis yang ia bawa saat ini.


“Nona adalah orang pertama yang memuji Tuan Kenzo.” tuturnya terkekeh melirik spion tengah.


“Iya Nona. Nanti setelah bekerja, anda baru tahu pujian atau kekesalan yang anda lihat. Tuan Kenzo itu sangat menakutkan orangnya. Makanya yang bekerja di perusahaan itu adalah orang-orang terpilih dengan kecerdasan dan juga ketulusan hati yang besar. Kalau tidak mereka pasti banyak yang mengundurkan diri seperti awal kepemimpinan Tuan.”


Cukup lama mereka berbincang terus dengan sang supir yang menceritakan bagaimana menakutkannya seorang Kenzo jika murka, dan Laurent yang tetap bersikukuh untuk memuji pria yang ia anggap malaikat tak bersayap.


Hingga akhirnya mobil pun kini tiba di loby apartement tempat Laurent tinggal saat ini.


Gadis itu berlari memasuki lift setelah mengucapkan terimakasih pada sang supir.

__ADS_1


Tanpa perduli dengan malam yang tiba, ia segera menemui para pelanggan cucian bajunya yang sudah ia janjikan untuk menyetrika. Satu persatu apartemen ia ketuk dan mulai mengerjakan pekerjaan paruh waktu itu.


Tak kenal lelah, yang gadis itu pikirkan saat ini hanyalah mencari uang sementara untuk bertahan hidup. Jika ada sisa ia akan tabung untuk keperluan di waktu lain.


Kesedihan pun kini hanya tinggal kenangan yang mungkin sudah terlupakan untuk seorang Laurent. Keluarga, suami atau pun sang adik tak lagi ia pikirkan.


Hingga ia tidak tahu bagaimana keadaan sang ayah yang kini kembali masuk ke rumah sakit setelah berkunjung ke kediaman Raul.


Kedua keluarga itu berkelahi mulut. Hingga berakhir Amanda membawa sang suami ke rumah sakit karena tidak sadarkan diri.


“Bu…kenapa harus ngurus Kak Laurent sih? Aku pikir kita ke sana untuk mengurus pernikahan ku.” ucap Lina kesal sekali malam itu.


Amanda yang memijat kepalanya pusing sebab terlalu cemas menunggu sang suami sadar, justru semakin marah mendengar hal itu.


“Lina! Keadaan seperti ini, kamu masih bisa egois? Ayahmu bertaruh nyawa karena memikirkan Laurent. Kamu tidak berpikir? Ini semua berasal dari kamu? Hah! Semua masalah yang terjadi adalah kamu penyebabnya.” Amanda menunjuk-nunjuk kepala sang anak penuh emosi.


Lina yang mendapatkan perlakuan kasar sang ibu tampak bernapas dengan penuh amarah. Dadanya bergemuruh.

__ADS_1


__ADS_2