Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Kenzo Dan Laurent


__ADS_3

Sesuai ucapannya, pagi itu Kenzo sarapan di temani gadis cantik yang sangat lucu. Laurent makan benar-benar lahap.


“Pelan saja makannya. Kau membuat selera makan ku jadi hilang.” tegurnya setelah menenggak setengah gelas air putih.


Laurent tersenyum mendengarnya. “Maaf, Tuan. Mumpung makan enak lagi.”


Kening Kenzo mengernyit mendengar penuturan Laurent yang membuatnya penasaran dengan satu kata, ‘lagi’.


“Maksudmu? Oh maaf aku lupa. Apa sebelumnya hidup mu lebih nyaman dari yang saat ini?” tanyanya.


Dan seketika Laurent mengangguk cepat, tampak kedua pipinya menggelembung berisi makanan.


“Tuan lupa? Saya sekarang kerja di apartemen sambil menunggu daftar paket C itu? Mana mungkin saya makan seperti makanan rumahan. Yang ada, hutang saya dimana-mana terus nanti bukannya sekolah, malah di penjara karena banyak hutang.” Ia menunduk saat bicara seperti itu.


Laurent teringat, sebelumnya kehidupannya sangat tenang. Jauh dari kata menyedihkan. Dimana banyak orang menganggap kehadiran ibu tiri akan membawa neraka, justru membuat gadis itu merasa terhibur dengan keberadaan Amanda.


Sikap adil dan kasih sayang perempuan itu membuat Laurent sangat nyaman. Sekali pun ia sering di buat kesal oleh Lina. Ia tak menyangka jika adik tirinya itu justru membawa pengaruh begitu besar pada kehidupannya.


Kenzo terdiam memperhatikan raut wajah Laurent yang menahan kesedihan sembari terus mengunyah makanannya.


“Hari ini tinggallah di sini. Aku ingin melihat kemampuanmu…” Sontak kedua mata Laurent membola.

__ADS_1


“Apa, Tuan? Tinggal di sini? Bukan…jadi istri atau mengurus Tuan, kan?” Ia memastikan sekali lagi takdir yang serupa tidak datang padanya kali ini.


Kenzo berdecih mendengarnya. “Kau tidak lihat berapa banyak pelayan di sini?” Pria itu menunjuk beberapa pelayan dengar seragam berdiri berjajar menundukkan kepala mereka.


Laurent mengangguk. “Saya lihat, Tuan…” jawabnya.


“Tenagamu tidak aku butuhkan. Aku hanya mau membantumu.”


Laurent menelan kasar sesuatu yang terasa kering di tenggorokannya. Benar, apa yang di katakan Kenzo. Sekali pun pria itu tidak bisa bergerak, akan banyak tenaga yang bisa mengurusnya dengan baik. Berbeda dengan Raul, yang memang tidak sekaya pria di depannya saat ini.


“Bi, tunjukkan kamar tamu dan suruh dia membersihkan dirinya. Setelah itu, suruh temui saya di ruang kerja.” ucap Kenzo pada salah satu pelayan.


Ia tidak tahu jika di tempat lainnya sang ayah dan ibu sudah susah payah mencari keberadaan gadis itu.


Beberapa menit berlalu, Laurent keluar dari kamar tamu dengan rambut yang ia biarkan tergerai setengah basah. Beberapa pelayan yang berlalu menunduk dengan wajah yang sulit di artikan.


“Wajah orang di sini aneh-aneh. Tapi, tak apalah. Semoga hatinya baik-baik.” tutur gadis itu berjalan mengikuti satu pelayan yang mengarahkannya di depan sana.


“Masuk!” Kenzo berseru kala mendengar ketukan pintu dan suara memanggil namanya.


“Pft!! Apa yang kau pakai?” tanyanya kala mendapati Laurent tampak dari belakang pelayan yang bergeser permisi meninggalkan Laurent di ambang pintu yang baru terbuka.

__ADS_1


“Yang mana, Tuan? Sabun? Bedak? Atau…” ucapan gadis itu terdengar bingung dengan pertanyaan Kenzo yang mengernyitkan dahinya.


“Apa harus memakai piyama?” tanya Kenzo dengan mata berpaling menatap laptopnya.


“Maaf, Tuan. Saya kesulitan mengganti baju di kamar mandi. Jadinya baju saya jatuh di kamar mandi dan basah. Sementara saya pakai ini dulu. Tidak tahu ini baju siapa?” jelasnya tetap menundukkan kepalanya.


Kenzo menggeleng pelan. Mata terus pening mengingat pemandangan yang baru ia lihat.


“Sudahlah, sekarang kemari. Ada yang harus kau perhatikan. Jika kau bisa mempelajarinya dengan baik, kau akan mendapatkan pekerjaan sementara sebelum sekolah. Setelahnya bisa lebih memudahkan kau untuk bekerja di perusahaan atau saat magang nanti.” Senyuman seketika terbit di wajah Laurent.


“Tuan, apa besar kemungkinan saya bisa bekerja di perusahaan anda?”


Tak ada jawaban yang Kenzo berikan selain hanya deheman saja.


***


Jam dinding menunjukkan angka setengah dua belas. Lina baru saja membuka matanya yang silau akan sinar mentari.


“Astaga kenapa kesiangan begini sih? Aku harus ke rumah Raul. Kalau Ayah tidak mau mengurusnya, aku bisa. Aku berhak minta pertanggung jawaban.” Ia bangun dan bergegas membersihkan dirinya.


Lina berniat ingin mendesak keluarga Raul untuk menikahkan mereka dan secepatnya ia akan memikirkan masa depannya. Sebelum perut semakin besar, ia tak ingin teman-teman menggunjingnya dengan hinaan hamil di luar nikah. Meski kenyatannya memang benar.

__ADS_1


__ADS_2