Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Tanta Group


__ADS_3

“Ini Kenzo Aprilio,” Dendi menyebutkan nama seorang pria yang wajahnya terpampang di bingkai foto ruangan itu.


Laurent dan juga Dendi kini sudah berada di ruang kebesaran pemilik perusahaan yang mereka kunjungi saat ini.


Tanta Group, perusahaan yang berdiri tunggal sebagai penggerak usaha susu ibu hamil. Yah, perusahaan yang awal mulanya adalah milik ibu dari Kenzo yang saat ini sudah almarhumah.


“Masih sangat muda…jadi, tujuan kita kesini untuk apa, Pak?” Laurent bertanya kembali.


“Kamu akan di bantu oleh pria itu untuk mendapatkan gelar setelah mengambil paket nanti. Laurent, kamu sangat berpotensi jadi saya wajib membantu kamu untuk melanjutkan sekolah selanjutnya. Meski pun tidak bisa membantu seluruhnya. Saya yakin kok kamu pasti mampu.” Senyuman terbaik pria itu berikan untuk Laurent.


Wanita berstatus calon janda itu sungguh sangat cantik. Rasanya sayang sekali jika di sebut janda.


“Tapi, Pak saya ragu bisa menjalankan itu. Saya hanya ingin memikirkan mencari tempat tinggal dan juga makan sehari-hari dulu. Bapak tahu, ini pertama kalinya saya hidup sendiri. Saya tidak ada pengalaman sama sekali, Pak.” Sungguh menyedihkan, Dendi bahkan ingin memelik wanita di depannya ini, namun ia cukup tahu diri.


Di tepuknya pundak Laurent seketika. “Ada saya, saya akan usaha bantu kamu, Laurent.”


Air mata Laurent jatuh menatap Dendi. “Bapak sudah sangat baik dengan saya. Terimakasih, Pak. Bapak sudah seperti kakak bagi saya. Apa pun yang bapak perlukan dengan bantuan saya, saya pasti akan usahakan Pak.” ucap Laurent tulus.


Dendi pun membalas dengan anggukan kepala.


“Ehem,” Tiba-tiba saja percakapan keduanya terhenti saat mendengar suara deheman seorang pria yang baru saja masuk di ruangan tersebut.


Laurent segera mengusap air matanya dan menunduk. Sedangkan Dendi tersenyum menyapa sang sepupu.


“Tumben mampir?” Sapaan seorang Kenzo terdengar akrab oleh Dendi. Meski tampak wajah pria itu tetap saja datar. Tak ada hangat-hangatnya.


“Iya, aku butuh bantuan mu…” ujar Dendi.


Kenzo melepas jas lalu menanggalkan di sandaran kursi singgasananya. Ia duduk menaikkan sebelah kaki ke sebelahnya lagi.


Perbincangan pun di mulai. Tanpa ada yang Dendi tutupi. Ia menceritakan panjang lebar kisah Laurent dan juga Raul.

__ADS_1


“Yah, sekarang bantuanmu untuk Laurent melanjutkan sekolahnya. Seperti yang sering kamu lakukan sebelum-sebelumnya dengan anak-anak yang bekerja di sini.” Dendi tahu jelas bagaimana Kenzo berhasil mendidik banyak anak yang sukses menjadi pengabdi di perusahaan ibunya.


“Dengan cara apa saya bisa percaya kalau dia mampu untuk jadi anak didik perusahaan ini?” tanya Kenzo ragu.


“Dia di sekolah adalah asisten saya untuk penelitian, Ken. Jadi saya jamin untuk otaknya sudah mencukupi dan tidak akan membuatmu perlu banyak mendidiknya. Asal itu saja, harus ada paket C dulu. Karena Laurent belum sempat lulus SMA.” ucap Dendi memperjelas kembali.


Kenzo terdiam, tangannya mengusap dagunya yang di tumbuhi rambut-rambut halus. Matanya menatap wanita yang sejak tadi tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


“Oke, urus dia. Antar ke apartemen karyawan, Den. Saya harus segera pergi meeting.” Dendi menghela napas lega. Akhirnya Laurent bisa di terima juga oleh Kenzo.


Dengan sigap, ia mengajak Laurent menuju tempat yang di sebutkan sang sepupu.


Sebelum tangan Kenzo meraih jasnya kembali, Laurent untuk pertama kalinya menatap wajah tampan itu dan bersuara. “Tuan, terimakasih banyak bantuannya, Tuan.”


Kenzo melihat wajah sembab yang menutupi wajah cantik di depannya. Hanya anggukan kecil yang ia berikan dan segera berlalu dari ruangannya usai menepuk pundak sang sepupu.


Kini Laurent bersama Dendi berjalan menuju lift. “Pak Dendi…” panggil Laurent ragu.


“Itu beneran sepupu, Bapak? Kok wajahnya garang gitu sih?” tanya Laurent takut-takut jika Dendi akan tersinggung.


Namun, yang ia lihat justru sebaliknya. Dendi terkekeh geli mendengar pertanyaan itu. “Kamu ini, Laurent. Garang, tapi hatinya tidak kan? Buktinya dia menerima kamu dan banyak anak di luar sana yang butuh sosoknya.”


Laurent tersenyum malu. Benar yang di katakan Dendi barusan.


Keduanya yang kini sibuk bahkan tidak perduli dengan keadaan di kediaman orangtua Raul.


Penghulu, saksi serta pihak kedua keluarga sudah hadir di sana. Namun, saat keluarga Pradana datang, mata mereka tampak mencari sosok yang tak ada di rumah itu.


“Dimana Kak Laurent?” Seperti biasa Lina tak bisa menahan rasa penasarannya.


Amanda menyikut lengan sang anak, “Jaga ucapan kamu, Lina. Laurent pasti sedih. Kamu ini keterlalaun sekali sih!” bisik sang ibu pada anaknya.

__ADS_1


“Laurent sudah pergi pagi-pagi sekali. Dan yah, jika dia pergi itu artinya kami tidak bisa bertanggung jawab penuh atas anak itu. Lina wajib merawat anaknya dan juga Raul.” Mawar melipat kedua tangannya dengan angkuh.


Semua pihak keluarga kaget mendengarnya. “Apa-apaan ini? Kalian mempermainkan keluarga saya?” Pradana mulai tersulut emosi kembali.


“Ayah…sabar dulu.” Amanda mengusap punggung sang suami.


“Maaf, tolong bisa jelaskan pada kami, Bu? Laurent pergi kemana? Lalu bagaimana dengan pernikahan ini?” Amanda bertanya dengan nada yang sopan.


“Lauren tidak setuju di poligami, apalagi harus merawat anak itu. Saya pun sebagai perempuan juga tidak akan setuju jika di posisinya. Dan kamu Lina.” jemari telunjuk Mawar menatap kesal pada gadis yang berdiri dengan kebaya putih anggun itu.


“Hei apa ini? Mengapa dengan anak kami?” Pradana.


“Saya mengancam Laurent untuk menikah dan merawat Raul karena saya pikir dia penyebab kecelakaan itu. Ternyata bocah ini? Kamu sudah mengkambingg hitamkan kakakmu sendiri yah?” Lian yang semula tertunduk kini mendadak menengadah menatap calon ibu mertuanya.


“Bu-bukan, Tante…bukan saya.” elaknya masih berusaha menutupi segalanya.


“Haduh bagaimana ini? Kenapa pakai acara terbongkar segala sih? Ayah bisa marah besar padaku.” Lina ketakutan saat melihat napas sang ayah yang naik turun menahan emosi.


“Jadi, pernikahan Laurent dan Raul bukan atas dasar kemauan mereka?” Pradana syok mendengar ini. Ia memegang dadanya kala melihat Mawar menaikkan sebelah alisnya dan mencebikkan bibir.


“Kami memaksa Laurent, agar bisa mengurus Raul dan bertanggung jawab. Karena kami tida tahu kalau Lina lah yang bersama anak kami saat kejadian itu. Mereka berdua mabuk dalam perjalanan.” tutur Wandi dengan wajah bersalahnya.


Pradana menangis di sana, hingga beberapa detik berikutnya ia memejamkan mata tak sadarkan diri.


“Ayah!” pekik Amanda memeluk sang suami.


Semua riuh, Wandi turut membantu Pradana serta para pekerja di rumahnya untuk membawa ke dalam mobil agar di bawa ke rumah sakit.


“Ibu, bagaimana pernikahan ku?” Lina berlari mengejar sang ibu menuju mobil.


Plakk!! Tamparaaan keras Amanda layangkan pada sang anak. Matanya berkaca-kaca anatara sedih dan marah melihat wajah Lina.

__ADS_1


“Puas kamu, Lina? Kamu menghancurkan semuanya!” Amanda pergi meninggalkan sang anak yang berdiri mematung sembari sebelah tangannya memegang pipi yang merah.


__ADS_2