
Hari yang semula terik kini berubah menjadi sejuk bahkan kesejukan itu membuat tubuh merinding. Yah, langit kini sudah berubah menggelap. Namun sayang, keadaan masih sama menyedihkan seperti tadi siang.
Sudah cukup jauh mobil Pradana berjalan menyusuri jalanan, dan hingga kini belum juga menemukan sosok yang ia cari bersama sang istri. Tampak sesekali pria bahkan menguap manhan kantuk setelah meminum obatnya.
“Ayah…kita pulang dulu. Besok kita lanjut mencari Laurent lagi.” ucapnya pelan sembari memegang lengan sang suami.
Pradana terdiam beberapa saat. Ia juga berpikir tidak ingin memaksakan diri dan berakhir menambah keadaan semakin sulit jika sampai ia kambuh.
Akhirnya, pelan ia mengangguk. Amanda tersenyum. Ia sangat mencintai suami dari ayahnya Laurent.
Mobil pun berputar arah kembali menuju ke kediaman. Sedangkan gadis yang mereka cari, hingga malam masih tampak membersihkan beberapa cucian baju kotor anak-anak yang Laurent minta memakai tenaga.
“Lau, kamu tidak istirahat?” tanya gadis bernama Cantika.
“Em ini masih dua kresek lagi, Can. Tidak apa-apa kamu istirahat duluan saja.” sahut Laurent yang menoleh sekilas.
Cantika menggeleng. “Lagi pula kamu bisa makan sama aku dan yang lainnya kok. Bantu bersih-bersih saja sudah cukup. Kenapa kamu sampe segitunya?” Cantika heran karena untuk hari ini saja Laurent sudah mendapatkan uang dua ratus lima puluh ribu tanpa istirahat.
“Aku buat pegangan saja, Can. Takut tiba-tiba ada sesuatu yang mendesak dan mengeluarkan uang. Selagi ada kesempatan yah aku gunakan saja. Lagi pula aku juga bosan jika harus berbaring di kamar. Sedangkan untuk urusan paket, aku masih menunggu beberapa waktu lagi.” terang Laurent jelas.
“Yasudah. Baiklah, aku istirahat duluan yah…besok mau masuk pagi. Ada perjalanan ke luar kota untuk meninjau lokasi. Oh iya mungkin aku bermalam satu malam di sana. Kamu kalau butuh sesuatu atau bahan masak, masuk saja. Nanti aku berikan kartu akses.” Laurent tersenyum mendengar betapa baiknya Cantika padanya.
Tak bisa menahan diri, Laurent berdiri memeluk gadis yang bicara padanya tanpa perduli dengan tangan yang berbusa.
“Terimakasih, Cantika. Belum genap sehari kita kenal. Tapi kau seperti kakak untukku.” tuturnya begitu terharu.
“Ah…kamu ini. Sudah jangan melow. Lihat leherku kena busa cucian.” Keduanya terkekeh lalu berpisah setelahnya.
Jarum jam menunjuk di angka satu malam. Baru saja usai dengan kegiatan mencuci baju, kini Laurent merasakan tubuhnya begitu lelah. Bahkan ia baru makan sore tadi, dan sekarang sudah merasakan lapar kembali.
Tubuh lelahnya ia baringkan di tempat tidur yang empuk. Sungguh nasib yang baik, tak perlu merasakan tempat yang buruk. Tetapi, suara perut yang minta di isi membuat kedua matanya tak bisa tertutup.
“Aduh pakai lapar segala lagi, mana udah mau subuh. Tapi di luar kayaknya banyak yang jualan deh kan ini di pusat kota.” ujarnya dengan semangat bangkit dari pembaringan.
Laurent pun mengambil jaket lalu pergi keluar, benar dugaannya. Banyak pedagang kaki lima maupun kafe yang masih buka. Bahkan ada salah satu tempat yang memang khusus buka di malam hari. Senyuman Laurent mengembang.
“Tidak sia-sia aku kerja seharian sampai malam. Sekarang bisa isi perut dengan enak.” Rasa lapar semakin membuatnya bersemangat membayangkan rasa makanan di depan mata.
Kini gadis calon janda iti menikmati makannya, “Pak, minta satu nasi lagi yah?” ujar Laurent merasakan perutnya masih belum kenyang.
“Wah neng…kecil-kecil porsinya kuli juga yah?” celetuk sang penjual sembari terkekeh bercanda.
Laurent juga ikut terkekeh, jika di lihat benar adanya. Padahal porsi yang di hidangkan sudah cukup lebih banyak. Maklum itu adalah makanan yang murah meriah namun tak mengurangi rasa nikmat.
“Hehe iya Pak. Maklum. Saya kan juga kerja seperti kuli. Ini saja baru selesai kerjanya.” celoteh Laurent.
Di sela-sela perbincangan saat Laurent makan dengan porsi kedua, ia teringat dengan Cantika. “Sebaiknya aku beliin dia juga deh. Sebentar lagi pagi, pasti Cantika buru-buru berangkatnya.” gumam Laurent.
“Pak…” panggil gadis itu kembali, namun tiba-tiba saja terdengar suara seperti kendaraan yang tabrakan.
“Astagfirullah…” teriak Laurent serta beberapa orang yang berada di sekitar sana.
__ADS_1
“Waduh siapa tuh kecelakaan?” Si penjual pun melongok dan Laurent segera membayarnya.
“Ini Pak, kembaliannya nanti yah Pak?” Ia berlari mendekat tempat kejadian.
“Aduh…kenapa lagi-lagi aku orang pertama sih?” gerutunya saat berada di posisi paling dekat dengan kecelakaan terjadi.
Ini adalah kedua kalinya Laurent melihat hal serupa. Sebelumnya ketika ia mendapati Raul. Dan sekarang…
“Hah? Tuan Kenzo!” pekiknya terkejut kala melihat wajah pria yang terkeluar tubuhnya sebagian dari pintu mobil yang rusak.
Darah berceceran di kening pria tampan itu. “Tolong! Tolong!” teriak Laurent ketakutan.
Bukan takut terjadi suatu hal pada pria itu, ia lebih takut jika harus menikah untuk bertanggung jawab lagi. Sungguh ini tidak lucu.
“Pak, tolong panggilkan taksi!”
Segera setelah mendapatkan taksi, ia membawa pria yang akan menjadi bosnya kelak menuju rumah sakit.
Di tengah kepanikan, Laurent mencoba menghubungi satu-satunya kontak di ponsel baru itu.
Panggilan pertama, tak ada jawaban. Panggilan kedua masih sama, hingga saat panggilan ketiga, Laurent menghentikan aksinya.
“Duh…pasti Pak Dendi tidur.” Laurent bingung saat ia di minta untuk mengurus pendaftaran pasien di IGD.
Berbekal keberanian, gadis itu menyebutkan nama Kenzo Aprilio dan data lainnya dari salah satu sumber di internet.
“Aaa…sakit!” Setengah jam akhirnya pria yang terbalut perban di kepalanya bersuara.
“Ah, sakit…kamu?” Kenzo menunjuk wajah gadis di depannya.
Laurent tersenyum senang melihat keadaan Kenzo. “Syukurlah…akhirnya Tuan sadar juga.”
Mata hitam pria itu menatap seluruh ruangan. Beberapa saat ia ingat apa yang terjadi.
“Ada apa dengan mobilku?” tanyanya dalam hati. Mengingat keadaan mobil yang ia kendarai sepulang lembur di kantor. Ia berkendara seperti biasa, namun entah mengapa tiba-tiba saja ada kendaraan motor yang melintas dan ia yang panik seketika ingin mengerem, ternyata yang terjadi justru ia menaikkan laju mobilnya. Kecelakaan pun tak terhentikan saat kakinya justru ingin menginjak rem namun ia merasa rem mobil itu tak berfungsi dengan baik.
“Tuan tadi naik mobilnya ugal-ugalan kata penjual di sana.” tutur Laurent pelan.
“Aku harus segera pulang.” Kenzo hendak bangun, Laurent dengan takut-takut mencegahnya.
“Tuan, anda baru sadar.” Saat itu Kenzo merasakan kepalanya sangat sakit.
“Lihat, kepala anda masih sakit, bukan? Istirahatlah dulu. Pagi kita baru keluar. Saya akan jaga anda, Tuan.” ucapan lembut penuh perhatian dari gadis cantik di depannya membuat Kenzo patuh.
“Tunggu, biar saya panggilkan dokter.” Laurent bergegas meninggalkan Kenzo di ruangan IGD. Beruntung lukanya tidak begitu parah, hanya benturan serta luka yang sedikit lebar membuatnya banyak mengeluarkan darah.
“Gadis itu apakah gadis yang sama?” tanya Kenzo dalam hati.
“Permisi, Tuan Kenzo. Saya periksa sebentar.” Sang dokter mulai memeriksa dan ia bernafas lega.
“Bagaimana Dok? Saya bisa segera pulang?” Kenzo masih ingin pulang kala itu.
__ADS_1
Dokter tersenyum. “Maaf, Tuan. Untuk saat ini kondisi Tuan belum memungkinkan pulang. Kemungkinan besok pagi semua akan membaik, karena memang tak ada luka yang serius.”
Kenzo terdiam, hingga perlahan pria itu kembali tertidur karena pengaruh obat setelah kepergian sang dokter.
“Ayah, semoga hari ini kita bisa menemukan Laurent yah?” Amanda menyerahkan segelas susu yang baru ia tuang untuk sang suami.
Pradana mengangguk sembari menghela napasnya kasar. “Semoga saja kita cepat menemukan dan membawanya pulang.” tutur Pradana penuh harap.
Di depan keduanya ada Lina yang memutar malas kedua matanya. “Ayah, bagaimana dengan pernikahanku? Aku tidak mau seperti ini terus, Yah? Aku juga tidak mau merawat bayi ini.” tutur Lina ketus.
“Itu akibat ulahmu, Lina. Ayah harus memastikan keadaan kakak mu dulu. Bagaimana Ayah bisa tenang, sedangkan kakakmu di luar sana kesulitan untuk berteduh. Kamu seharusnya sebagai adik juga cemas. Tapi justru ikut memberikan masalah.”
Lina terbungkam seketika, ini sudah hari kedua ia tidak masuk sekolah.
“Bu, bagaimana sekolahku?” tanya Lina yang ingat jika besok ia sudah harus kembali sekolah karena ijinnya sudah berakhir hari ini.
“Kamu kembali sekolah sampai kita menemukan jalan. Dan juga Laurent. Kamu sudah harus memenuhi kewajiban kamu kelak menjaga anak dan mengurus suamimu, Lina. Ibu tidak pernah mengajarimu untuk tidak bertanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat. Kakakmu harus kembali meneruskan hidupnya, sudah cukup selama ini dia menderita.” Mulut Lina terbuka lebar mendengar ucapan sang Ibu.
Itu artinya tak ada impian sekolah keluar negeri bagi Lina? Yah benar, Amanda meminta anaknya untuk tetap menjadi istri Raul selamanya. Demi anak dan pernikahan mereka.
“Lina, pernikahan bukan hal yang main-main. Kemarin Ibu diam saja, karena itu keputusan Ayah. Tapi saat ini, Ayah sudah memberi Ibu kesempatan bicara dan mengambil keputusan.” lanjut Amanda kembali lagi.
Kesal mendengar penuturan sang Ibu. Lina masuk ke kamar dengan menghentakkan kakinya kesal.
Pintu ia banting sekeras mungkin. Brak!!!
Pradana sampai terjingkat kaget.
***
Kediaman megah pagi itu tampak begitu banyak pelayan yang huru hara membersihkan bagian pekerjaan mereka masing-masing.
Ada yang memotong daun bunga, ada yang mengepel lantai, ada yang mengelap seluruh sudut rumah kaca itu. Ada juga yang menata sarapan di atas meja makan besar dan panjang.
Pagi yang menyenangkan bagi mereka dan juga mengherankan.
“Tuan Kenzo tumben tidak pulang?” tanya salah satu pelayan.
“Iya, biasanya pagi-pagi ada saja yang berlari di sekitar sini.” sahut pelayan lainnya lagi.
Di saat yang bersamaan, mobil taksi memasuki halaman luas itu usai security membuka pagar dengan tombol di pos jaga.
“Wah…mewah dan besar sekali rumah ini?” batin Laurent berdecak kagum dalam hati saat melihat keadaan sekitar di depan sana.
“Masuklah dulu untuk sarapan. Nanti supir akan mengantarkan mu pulang.” ucap Kenzo tanpa menatap gadis di sampingnya.
“Tuan, apa tidak ada pernikahan?” tanya Laurent seketika tersenyum kikuk. Sedangkan Kenzo mengerutkan keningnya.
“Pernikahan?” tanya Kenzo bingung dan mengulang ucapan itu.
“Iya, saya semalam takut. Saya sudah menyiapkan diri pasti kecelakaan semalam sama seperti kecelakaan mantan suami saya. Setelah kecelakaan, saya di suruh menikah dan merawatnya. Untung Tuan tidak parah, sepertinya saya tidak perlu bertanggung jawab.” jawab polos Laurent yang di luar dugaan Kenzo.
__ADS_1
“Anak ini benar-benar masih polos. Sepolos senyumannya. Tapi, apa benar dia sudah pernah menikah? Astaga jaman sekarang banyak sekali bocah menikah muda dan bercerai seenak jidat mereka.” gerutu Kenzo dalam hatinya.