
Semua mata kini bergerak berkedip pelan, meyakinkan apakah benar yang terjadi di hadapan mereka. Apakah benar yang mereka lihat saa ini?
“Laurent…apa hubungan mereka?” Sontaj Dendi bertanya hal itu meski hanya dalam hati. Matanya yang membulat seakan mulai merasa ada hawa panas yang menguap.
“Tuan, Ayah ku sakit karena aku…” isak tangis gadis itu di dalam pelukan seorang Kenzo.
Dengan wajah kaget, tangan yang kaku pria tampan itu menarik kaca mata hitam yang bertengger sempurna di hidung mancungnya. Ia mengusap pelan punggung Laurent. Mungkin adalah adalah tindakan refleks yang Laurent lakukan lantaran hatinya sedang panik. Begitulah pikir Kenzo.
Beberapa saat keduanya saling menempel. Kenzo dengan tenang menghadapi situasi yang terjadi.
“Tenanglah, Laurent. Semuanya akan baik-baik saja. Ayah pasti segera membaik. Maafkan aku yang baru datang, Dendi memberitahuku baru saja.” tutur Kenzo sembari memegang kedua lengan Laurent.
Pelukan mereka pun terlerai begitu saja, sedang Amanda yang masih diam mematung bisa melihat bagaimana penurutnya Laurent pada pria di depan sana.
Di satu sisi lagi, ia bisa menangkan raut wajah yang memunculkan begitu banyak praduga. Dendi, pria itu menunduk sesekali memejamkan mata. Seolah hanya itu yang ia bisa lakukan untuk menguatkan diri dan mengontrol hatinya yang terluka.
__ADS_1
Apa yang Laurent lakukan barusan, tentu membuatnya sangat terkejut. Semalam sampai saat ini, ia setia berada di sisi wanita itu. Namun, Kenzo yang baru tiba justru seperti malaikat tanpa sayap untuk Laurent.
Melihat keanehan terjadi, Amanda dengan sigap menyadarkan Laurent. “Lau…benar apa yang di ucapkan. Ayah pasti akan baik-baik saja. Saat ini Ayah hanya terlalu sedih karena merasa bersalah padamu. Percayalah, Nak.” ucap Amanda mengusap punggung Laurent.
Kenzo yang melihat Amanda, hanya menganggukkan kepala tanda hormatnya. Dan Amanda segera membalas dengan senyuman hangatnya.
“Permisi, keluarga pasien.” Suara seorang perawat tiba-tiba saja terdengar.
Semua mendekat ke arah sumber suara dengan wajah antusias.
“Pasien ingin bertemu dengan keluarganya. Semua.” Lanjut suster menatap satu persatu orang di hadapannya yang memiliki pahatan wajah berbeda-beda.
Bagaimana mungkin keluarga, sedangkan mereka semua tampak jauh berbeda. Begitu pikir suster namun ia memilih acuh saja.
“Ayah…” teriakan dan tangisan Laurent tiba-tiba menyapa seorang pria yang terbaring lemah di ranjang pasien.
__ADS_1
Pradana meneteskan air matanya. “La-urent…Ayah, ing-in ka-mu…” mata tua pria itu bergerak tertuju pada sosok lelaki asing di matanya. Namun begitu hangat di hatinya kala memandang wajah tegas pria itu.
Ia tidak memperdulikan lagi tangis sang anak yang memeluknya. Bahkan Laurent yang masih ingin melanjutkan kesedihan itu tiba-tiba saja terhenti mendengar penuturan sang ayah. Matanya kini bergerak menoleh ke belakang. Dimana mata sang ayah tertuju.
“Dia…Tuan Kenzo, Ayah. Orang baik yang membantu Laurent.” ujarnya memperkenalkan sosok yang di tatap sang ayah.
“Kenzo?” Suara serak dan berat Pradana kala itu segera di angguki Laurent.
“Sanggupkah…kau menja-ga putri-ku? Aku berharap kalian bisa menikah…” Kalimat yang di lontarkan Pradana sukses membuat Amanda, Dendi, Laurent, dan juga Kenzo membulatkan mata mereka dalam hitungan detik yang sama.
“Saya sanggup.” Kedua kalinya semua kembali terkejut. Entah apa yang ada di dalam pikiran Kenzo kala itu. Yang jelas ia secara sadar berucap tanpa memikirkan apa pun.
“Hah?” hanya kata itu yang terdengar dari mulit Laurent. Bibirnya yang bungkam sejak awal kini tampak terbuka semakin lebar.
Matanya bergerak memandang dua wajah pria itu bergantian.
__ADS_1
Sedangkan yang ia lihat. Kenzo dan sang ayah terus bertatapan penuh arti. Tak ada pembicaraan setelah ucapan Kenzo yang menyanggupi keinginan sang Ayah kala itu.