Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Amanda Takut


__ADS_3

Di rumah sakit tepatnya di ruangan pemeriksaan kandungan. Tampak Amanda terduduk syok setelah mendengar penjelasan sang dokter.


Dengan tangan gemetar dan juga kedua mata yang berkaca-kaca, wanita paruh baya itu menunduk. Tetesan air mata jelas terlihat di sana jatuh.


“Ha-hamil, Dokter? Anak saya benar hamil? Bagaimana mungkin, Dokter? Ini pasti ada kesalahan pemeriksaan.” selanya masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar dan lihat.


Dokter memperlihatkan monitor usg di atas sana, ada setitik bulat berwarna hitam di dalam rahim sang anak.


“Usia kandungannya masih sangat muda, jadi untuk kantungnya masih belum terlalu jelas, Ibu. Untuk lebih memastikan, setelah ini silahkan Nona Lina melakukan tespack.” tutur sang dokter.


Amanda, sebagai seorang ibu masih terdiam tak bicara apa pun. Matanya langsung tertuju pada Lina yang sama terkejutnya.


“Aku hamil? Tidak. Aku mau kuliah di luar negeri. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Kesempatan emas sudah di tanganku. Ayah tidak boleh melihatku buruk juga saat ini.” Dalam hati Lina masih sempatnya mengingat kemenangannya dari sang kakak, Laurent yang kini sudah tidak baik lagi namanya di mata sang ayah mereka.


“Dan untuk memperkuat janin…saya sarankan untuk menebus-“ Dokter menggantung ucapannya kala melihat wajah marah dari wanita paruh baya yang sudah mencengkram kuat pergelangan tangan sang anak.


“Ayo pulang. Lina, pertanggung jawabkan perbuatan kamu sekarang. Kamu benar-benar keterlaluan. Lihat, kelas berapa kamu sekarang? Lihat lambang seragam kamu, Lina!” Amanda menunjuk-nunjuk lambang kelas sang anak di seragam sekolahnya kala itu.


Bahkan beberapa mata tertuju pada anak dan ibu yang mengakibatkan suara ribut di depan pintu ruang praktek dokter kandungan.


“Bu, Lina tidak tahu ini bisa terjadi. Lina tidak mau hamil, Ibu.” rengek bocah ingusan itu mendadak takut.


Usia yang masih muda membuatnya sangat tidak berpengalaman dalam hal seperti ini. Apa lagi jika harus mencari jalan keluar, ia sangat bingung.


Amanda yang menyadari tatapan orang, akhirnya menarik anaknya lagi ke luar rumah sakit tersebut. Bahkan keluhan dari Lina yang pusing dan lemas tak lagi di rasakan saat ini. Yang ada hanya rasa takut.


“Katakan Lina! Anak siapa itu?” Mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil yang di bawa oleh Amanda.

__ADS_1


Lina menunduk. Memangnya anak siapa lagi jika bukan pria yang ia usaha rebut dari sang kakak sebelumnya.


“Lina!” pekik Amanda geram pada sang anak.


Sebelah tangannya menyetir, dan sebelah tangannya lagi berusaha menekan cengkraman di lengan sang anak.


“Ra-raul, Bu.” ucap Lina terbata dan detik itu juga mobil berhenti mendadak.


Bruk!!


Suara benturan pun terdengar dan terasa menggoyang mobil yang mereka tumpangi.


“Raul? Raul siapa? Kamu bukan menunjuk nama kakak ipar kamu, kan Lina?” Amanda masih mengintrogasi sang anak.


Lina menggeleng dan mengangguk kemudian. Tentu jawaban itu semakin memicu kemarah sang ibu. Amanda bahkan sudah mengangkat tangannya ingin melayangkan pada pipi sang anak. Namun, tertahan saat terdengar suara ketukan di jendela mobil.


“Ada apa? Saya lagi ada urusan sama anak saya. Tolong jangan ganggu.” Untuk pertama kalinya wanita paruh baya itu tak ada ramahnya pada orang yang baru ia kenal.


Helaan napas kasar Amanda keluarkan. Ia sadar amarahnya sudah menguasai akal sehatnya saat ini. Segera ia menurunkan emosi dan keluar dari mobil.


“Lihat! Bagaimana ini?” tanya pria itu menunjuk mobilnya yang rusak.


Beruntunglah itu adalah mobil standar yang tidak terlalu mewah semacam mobil sport. Amanda dengan sabar berbincang. Meminta maaf serta mencari jalan keluar bersama.


Masalah pun akhirnya selesai setelah beberapa saat keduanya saling menghitung kerugian dan Amanda siap membayarnya.


***

__ADS_1


Dari perjalanan pulang, sampai di rumah. Anak dan ibu selalu bertengkar. Lina yang awalnya takut, kini mulai menjawab ucapan sang ibu lantaran kesal mendengar banyaknya umpatan sang ibu.


Hingga malam hari, kini waktunya Amanda menyambut kepulangan sang suami dari kantor.


“Huh, sudah jam tujuh. Ayah sebentar lagi sampai. Apa yang harus aku katakan padanya? Kepalaku sangat sakit. Laurent, apa ini karma karena Ibu tidak membela mu di depan Ayah? Bahkan pria yang menjadi suami mu, adalah ayah dari anak yang di kandung adikmu…” Amanda memijat kepalanya saat duduk di kursi meja makan.


Hidangan yang tertata rapi, tidak membuat perutnya tergugah untuk melihat pun.


“Ya Tuhan…kenapa nasib kedua anakku bisa berada di tangan pria yang sama? Mengapa? Tidak mungkin Laurent bercerai dengannya. Tidak mungkin juga Lina menikah dengan iparnya. Lalu apa yang harus kami lakukan?” Ia menunduk. Sangat pusing memikirkan masalah ini.


Sedang di kamar, Lina melempar semua make up di meja riasnya. Matanya memerah. Ia benar-benar tidak rela jika hamil di usianya yang sangat muda. Ia ingin menjadi satu-satunya anak di keluarga Pradana.


“Aku harus memikirkan cara. Yah, aku harus punya cara agar Ayah tetap membuatku menjadi satu-satunya di rumah ini. Aku tidak perduli lagi dengan Ibu. Biarkan saja dia marah, toh yang punya segalanya adalah Ayah. Jika saja Raul tidak seperti itu, tentu dengan senang hati aku merebutnya. Tapi lihat sekarang? Untuk melipat dompet saja dia tidak bisa.” gumam Lina tampak menggerutu membayangkan bagaimana keadaan Raul saat ini.


Dulu, pria tampan itu sangatlah di agung-agungkan satu sekolah. Dan sekarang semuanya berubah sekejap mata. Satu pun wanita tidak ada yang mengingat namanya usai mengetahui bagaimana keadaan pria idola tersebut. Hanya dari Laurent, yang dari dulu hingga sekarang setia berdiri di sampingnya.


Kembali pada lantai bawah. Amanda sangat kaget saat merasakan ada kedua tangan yang memegang pundaknya dan menyandarkan dagunya di sana.


“Nda…ada apa? Kau mengantuk menungguku pulang?” tanya Pradana.


Amanda terperanjat dan menatap wajah sang suami.


“Ayah sudah pulang? Tidak. Aku tidak mengantuk. Ayo aku temani bersih-bersih setelah itu kita makan bersama.”


Keduanya menuju kamar dengan senyuman yang mengembang.


Pradana sangat bersyukur bisa mendapat wanita seperti Amanda.

__ADS_1


Sepersekian menit, tibalah semua di meja makan. Begitu juga dengan Lina. Manik mata Amanda menatap kedua orang yang berada satu meja dengannya.


“Ya Tuhan? Bagaimana jika masalah ini membuat Ayah drop? Tolong aku, Tuhan. Lina adalah anak bawaanku, tidak mungkin dia yang membuat suamiku benar-benar menderita. Aku tidak ingin itu terjadi. Aku tidak ingin Lina menjadi penyebab suamiku sakit lagi. Apa yang harus ku katakan pada Laurent jika sampai itu terjadi?” Amanda terus membatin hingga tanpa sadar tangannya hanya mengaduk-aduk makan di piringnya.


__ADS_2