Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Kegigihan Laurent


__ADS_3

Sesuai rencana siang itu Lina sudah berdiri di depan pintu rumah yang baru beberapa hari ia datangi bersama sang ayah dan ibu.


Di ketuknya pintu rumah yang terbuka namun tampak sunyi.


Tak lama seorang pelayan pun datang dengan sikap sopannya. “Cari siapa, Nona?” tanyanya pada Lina.


“Saya mau bertemu dengan Tuan dan Nyonya kalian.” ujar Lina menampakkan wajah angkuhnya.


“Maaf Nona. Mereka sedang tidak di rumah. Baru saja pergi.” jawab si pelayan.


“Kapan mereka pulang? Saya menunggu di sini saja.” sahut Lina kembali ingin melangkah masuk ke dalam rumah melewati pelayan.


Namun pelayan itu segera mengejar gadis berwajah tembok itu. “Maaf, Nona. Mereka kemungkinan akan pulang malam. Sebaiknya Nona kembali besok pagi sebelum Tuan dan Nyonya pergi lagi.” saran wanita paruh baya.

__ADS_1


Lina yang merasa kesal hanya mampu memutar matanya. Ia tahu Raul ada di rumah, tetapi rasanya tidak mungkin jika ia bicara pada pria itu. Hanya membuang waktu.


“Yasudah, aku pergi.” dengus Lina yang membatalkan tubuh untuk duduk di sofa mewah.


Kepegian Lina membuat sang pelayan hanya berdecak heran. Rasanya bertemu dengan gadis itu beberapa menit saja sudah membuatnya naik darah. Apalagi nanti jika Lina sudah menjadi Nyonya muda di rumah itu.


“Huh…kemarin ada Nona Laurent aman-aman saja rasanya hari. Tapi nanti ada Nona yang ini sepertinya rumah ini selalu panas rasanya. Coba saja Nona Laurent tidak pergi…” ingatan pelayan pada sosok gadis yang baik dan murah senyum itu sungguh membuatnya membandingkan dua gadis yang berbeda karakter.


***


“Tuan Dendi…cari Laurent yah?” tanya salah seorang yang juga tinggal di dekat apartement Laurent.


Dendi menoleh. “Iya. Dia keluar yah? Saya hubungi juga tidak di angkat.” jelas Dendi cemas pada gadis cantik yang berhasil menyentuh dasar hatinya.

__ADS_1


“Laurent sepertinya sejak semalam belum pulang, Tuan. Soalnya pagi tadi saya bangun kamarnya masih belum terbuka juga sampai sekarang. Kemarin sih masih ada.” Dendi mengangguk lalu tersenyum mendengarnya.


Ia mencemaskan Laurent yang entah kemana perginya saat ini. Terakhir semalam Laurent menghubungi ponsel Dendi, dan pria itu baru bisa menghubungi kembali Laurent saat ia terbangun siang tadi. Yah, semalam ia terlalu lelah bekerja hingga siang tadi baru membuka matanya.


“Apa terjadi sesuatu dengan Laurent yah? Tengah malam gadis itu menelponku…” batin Dendi menerka-nerka.


Segera pria itu pergi dari sana dan beberapa kali menghubungi ponsel Laurent. Ia tidak tahu jika di sini lah Laurent tengah sibuk dengan laptop dan beberapa kertas yang sudah Kenzo coret dengan pulpen.


Sementara ponsel gadis itu, berdering terus di kamar tamu tanpa ada yang mendengarnya.


“Kemana kamu, Laurent?”


Tatapan mata hitam melihat bagaimana cekatannya gadis kecil di depannya mengerjakan dengan serius.

__ADS_1


“Sepertinya benar kata Dendi. Aku tidak perlu meragukan kemampuannya. Dia hanya butuh berlatih lebih banyak dengan dokumen ini semua. Pasti akan mudah memberinya kerjaan.” batin Kenzo mulai bisa melihat keunggulan gadis di depannya.


Laurent bahkan tak perduli dengan pinggangnya yang ingin lepas rasanya. Bayangkan saja, sejak semalam, bukan. Lebih tepatnya sejak kemarin ia terus bekerja. Hanya beberapa saat saja memejamkan mata di rumah sakit tanpa istirahat dengan baik. Dan kini ia harus duduk dengan tumpukan kertas yang baru ia kenal pagi tadi.


__ADS_2