
Denting sendok mulai saling bersahutan. Di kediaman Wandi, mereka semua makan dengan lahap. Kecuali Laurent, gadis itu sibuk dengan suaminya.
“Lau, makanlah di sela kau menyuapi Raul. Nanti kena magg.” Dendi yang sedari tadi memperhatikan Laurent turut prihatin.
“Baik, Pak.” jawab Laurent formal. Ia menunduk namun tetap tidak menuruti perintah Dendi.
Wandi dan Mawar terus menyuap makanan ke mulut mereka. Tak perduli bagaimana sulitnya sang anak makan kala itu.
“Biarkan dia atur dirinya sendiri, Den. Kamu fokus makan saja.” sahut Mawar yang menangkap tatapan aneh di wajah sang keponakan.
“Iya, Tan.” jawab Dendi.
Mata Dendi sesekali masih mencuri pandang pada sang mantan asistennya itu. “Kasihan kamu, Lau. Coba saja Tante Mawar tidak setega itu sama kamu. Pasti sekarang kamu sedang fokus belajar.” batin Dendi dalam hatinya merasa miris.
Keheningan tercipta hingga mereka semua berakhir menuju kamar masing-masing. Yah rumah megah tersebut selalu sepi seperti itu. Tak ada kehangatan di dalamnya. Berbeda dengan rumah Laurent sebelumnya. Dan sungguh, ia sangat rindu untuk pulang.
“Mulai saat ini, aku tidak akan anggap ada Laurent lagi di keluarga kami. Pergilah, tinggallah dan tetaplah pada keluarga pria itu.” Kata-kata tegas sang ayah yang membuat Laurent ingin menangis saat itu juga.
“Ayah…Laurent rindu. Laurent ingin pulang, Yah.” jeritnya dalam hati.
Ia pun tersadar dari kesedihannya saat melihat meja makan telah kosong. Segera, Laurent mendorong kursi roda sang suami dan membawanya ke kamar untuk minum obat.
Suasana hampir sama dengan kediaman Pradana.
Usai makan, Amanda bertekad untuk menceritakan semuanya dengan sang suami.
“Ayah…” tuturnya lirih penuh rasa takut. Takut jika sang suami akan kambuh penyakitnya.
Namun, belum sempat Amanda berucap lagi, tiba-tiba saja Lina bergerak cepat memeluk kedua kaki Pradana yang sedang meneguk air minumnya.
“Ayah!” jerit gadis itu sembari meneteskan air matanya.
Amanda mengerutkan keningnya, dan Pradana menatap ke bawah dengan bingung.
“Lin, ada apa ini?” tanya Pradana.
Amanda mengehela napas kasar. Bibir yang terasa kelu itu setidaknya saat ini tidak perlu bicara apa pun.
“Baguslah, jika kau akan mengakui kesalahanmu, Nak. Semoga dengan ini kau akan sadar.” gumam Amanda menatap sang anak dengan perasaan campur aduk.
“Ayah…tolong aku. Aku hamil karena di perk***a Ayah.” Lina meneteskan air matanya dengan tubuh yang bergetar layaknya orang yang benar-benar tersakiti.
__ADS_1
Sontak hal itu membuat sepasang mata Pradana maupun Amanda membulat sempurna. Pradana jelas sangat kaget, tetapi tidak untuk Amanda. Ia sangat syok melihat sang anak yang bisa berucap kebohongan besar yang akan berakibat fatal kedepannya.
“A-apa? Lina bercanda macam apa ini?” tanya Pradana masih tidak percaya.
Seperti itulah juga yang di rasakan Amanda sebelumnya. Ia sangat tidak percaya jika sang anak sudah hamil.
“Ayah…laki-laki itu memaksaku. Aku tidak mau, tetapi dia terus mengancamku, Ayah. Dan sekarang aku hamil. Aku hamil anak pria itu, Ayah. Aku tidak mau hamil. Aku ingin sekolah.”
Sebagai seorang ibu, Amanda sungguh tidak menyangka memiliki anak yang sangat jahat seperti Lina. Bagaimana mungkin ia berkata seprti itu, dan apa yang di lakukan sang suami jika ia tahu pria yang Lina maksud adalah Raul. Suami dari Laurent.
Pradana yang pasalnya tidak tahu menahu pun kini meneteskan air matanya. Ia menggeleng melihat kesedihan di mata Lina. Di peluknya tubuh sang anak sambung.
“Siapa laki-laki itu, Lina? Ayah akan memberinya pelajaran, Nak. Ayah tidak akan tinggal diam saja. Dia sudah sangat keterlaluan.” tutur Pradana.
“Lina, bicara apa kamu? Ayah, itu tidak benar.” Amanda ingin menyadarkan sang suami, namun Lina secepatnya sudah menggeleng pada sang ayah saat menatapnya.
“Lina hanya ingin anak ini di keluarkan Ayah. Lina tidak mau sekolah Lina hancur. Ayah tolong Lina.” mohonnya pada sang ayah. Mungkin dengan begini, ia akan aman dari amukan sang ayah dan masa depan yang sudah terjanjikan untuknya.
Pradana menggeleng. “Ayah tidak akan tega melakukannya, Lina. Anak itu tidak bersalah. Kita harus tetap merawatnya. Sekarang katakan siapa pria itu?” tanya Pradana lagi.
“Dia Raul, Yah.” jawaban singkat itu di lontarkan oleh Amanda yang tidak ingin mendengarkan kebohongan sang anak lagi.
“Ayah, tenanglah. Ini kesalahan Lina. Biarkan dia bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat, Yah.” ucap Amanda menangis melihat sang suami yang kesakitan.
Segera ia berteriak meminta pertolongan supir dan juga pelayan di rumah untuk membantu sang suami ke dalam kamar.
“Raul, Amanda. Dia keterlaluan. Aku tidak rela, anak-anakku di buat seperti ini. Keluarga kita berantakan Amanda. Aku gagal menjadi pemimpin keluarga kita.” Raut kekecewaan Pradana lihatkan dengan jelas oleh sang istri.
Amanda turut memeluk sang suami. Hatinya sebagai seorang ibu juga turut sakit. Bagaimana mungkin kedua anaknya sama-sama putus sekolah dan bersangkutan dengan satu pria yang sama.
“Lina, katakan yang sejujurnya. Raul tidak mungkin seperti itu. Dia itu suami kakakmu. Mereka sudah bersama selama ini. Dan Ibu tahu, kalau kau juga menyukainya kan?” Amanda yakin jika ini hanya akal Lina untuk menjadikan Laurent semakin menderita.
Lina tidak terima, ia langsung menggelengkan kepalanya cepat. “Aku bersedia, Bu. Untuk melakukan tes DNA.”
Jika sudah begini, Amanda pun bungkam. Tidak mungkin Lina berbicara bohong lagi.
“Ayah aku mohon bantu aku untuk mengeluarkan bayi ini…” rengek Lina lagi. Dan Pradana menggelengkan kepalanya kekeh.
Tak putus asa, Lina terus merengek pada sang ayah yang bahkan sudah sulit untuk bernafas di tempat pembaringannya saat ini.
“Lina, cukup. Biarkan Ayah istirahat dulu. Kita bicarakan ini setelah keadaan Ayah membaik.” tutur Amanda berniat menyuruh sang anak untuk pergi dari kamar mereka.
__ADS_1
***
Di kamar yang luas, seharusnya Laurent merasakan kenyamanan tidur dengan kasur yang empuk. Tetapi itu semua berbanding terbalik. Matanya bahkan tak bisa terpejam sama sekali.
Di tatapnya wajah pria tampan di sampingnya kini yang sudah terlelap. Ada senyuman di wajah Laurent.
“Aku mencintaimu, suamiku. Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku tidak menyesal sama sekali. Dan aku berharap suatu hari nanti kita akan bahagia bersama dengan anak-anak kita.” tuturnya seraya mengelus pipi Raul.
Rasa lelah seharian kini telah hilang berganti dengan kebahagiaan yang ia mulai rasakan. “Dan semoga Tante Mawar dan Om Wandi secepatnya bisa menerimaku di keluarga ini. Hanya mereka harapanku. Ayah sudah tidak ingin melihatku lagi.”
Malam itu Laurent habiskan dengan curahan hati tanpa ada yang mendengar. Hingga akhirnya ia pun tertidur menyusul sang suami ke alam mimpi.
Detik, menit, terus berjalan hingga bulan perlahan mulai tak terlihat. Menandakan pagi akan segera datang.
“Aduh tubuhku rasanya masih pegal semua…” keluh Laurent meregangkan otot punggungnya yang terasa kencang. Ia duduk dan menatap pria yang juga sudah membuka matanya entah sejak kapan. Namun tak ada yang ia lakukan.
“Selamat pagi…” sapa Laurent tersenyum manis dan mencium kening sang suami.
Ia bangkit dari tempat tidur dan memilih membersihkan tubuhnya.
Selesai dengan segala pekerjaan, barulah ia membawa Raul keluar kamar usai mandi dan berpakaian.
“Pagi Om, Tante…” sapanya.
Hening. Semua hanya duduk diam di meja makan. Dendi, satu-satunya orang yang melirik kehadirannya.
“Papah, siang ini Mamah mau ke bandara. Jemput si Dinda.” sahut Mawar.
“Hem,” seperti biasa, Wandi tampak acuh kala sibuk dengan ponselnya.
“Permisi!” Suara sapaan dari arah luar rumah terdengar jelas.
Pelayan berlari untuk melihat siapa tamu yang datang sepagi ini.
“Tuan, Nyonya, di depan ada Tuan Pradana dan keluarga.” jelas sang pelayan yang baru kembali usai memastikan siapa yang bertamu.
Mendengar hal itu, Laurent seketika tersenyum. “Ayah…” tuturnya sangat bahagia.
Pikirnya mungkin ini adalah waktu yang tak ia duga, jika sang ayah akan memaafkannya.
“Mau apa lagi mereka ke sini? Bukan kah kita sudah tidak ada urusan dengan mereka?” gerutu Mawar menghempaskan gelas berisi susu itu.
__ADS_1