
Satu minggu berada di rumah sakit, kini Dokter telah memberi izin pada Pradana untuk pulang ke rumah.
Pagi itu, Pradana sudah bersiap dengan tas pakaian untuk keluar ruangan rawat. Senyuman bahagia menghiasi wajah pria itu.
“Laurent senang, akhirnya Ayah pulang juga…” ucap Laurent memeluk Pradana penuh kasih sayang.
“Iya, Ayah semangat seperti ini juga berkat kamu, Nak. Ayah ingin melihat anak ayah menikah secepatnya.” tutur Pradana yang seketika membuat senyum di wajah Laurent pudar.
Manik mata wanita itu bergerak menatap pria yang berdiri masih dengan wajah datarnya di depan pintu.
Kenzo hanya diam tanpa berkomentar apa pun. Entah mengapa ia juga tidak merasa keberatan untuk memenuhi permintaan Pradana.
Amanda yang sadar akan kecanggungan di ruangan itu segera bersuara. “Yasudah… ayo kita keluar. Di rumah, Ibu sudah suruh Bibi juga siapkan makanan. Untuk menyambut kepulangan Ayah.” Pradana seketika mengangguk pelan.
Mereka semua akhirnya pulang bersama dengan mobil milik Kenzo. Di dalam perjalanan pun suasana tampak hening.
__ADS_1
Sedang di rumah, wajah ceria Lina kala itu sangat terpancar. Make up tipis ia usapkan di wajah cantik miliknya.
“Bi, semuanya sudah siap kan?” tanya Lina di depan meja makan.
Bibi yang melihat wajah sumringah Lina tampak heran. Tak biasanya wanita itu berucap ramah padanya.
“Eh iya Nona. Semuanya sudah siap.” sahut Bibi.
Di ambang pintu, Lina beberapa kali mondar mandir. “Aku harus berpikir. Kak Laurent kali ini harus mundur buat aku. Apa pun akan aku lakukan. Pokoknya aku tidak perduli lagi soal si Raul dan anak ini. Aku yakin, mendapatkan suami kaya dan tampan seperti Kenzo pasti bisa menyelesaikan semua masalahku. Lagi pula, dia menikah dengan Kak Laurent juga karena Ayah. Itu artinya, tidak masalah aku juga bisa menggantikan posisi Kak Laurent.” gumam Lina penuh percaya diri.
Tak lama kemudian, manik mata Lina menangkap kendaraan beroda empat memasuki halaman rumah setelah security membuka pagar rumah dengan lebar.
Pradana hanya tersenyum kecil tanpa berniat membalas sapaan sang anak. Amarahnya pada Lina masih belum bisa ia hilangkan.
“Lina, biarkan Ayah masuk.” tegur sang ibu yang melihat Lina terlalu berlebihan kali ini.
__ADS_1
Lina yang sadar akan respon sang ayah, akhirnya menyingkir. Semua masuk dengan Pradana yang di tuntun Laurent.
“Selamat datang di rumah kami, Tuan Kenzo. Inilah kesederhanaan rumah kami…” Lina menyapa Kenzo, namun detik berikutnya ia tampak menghilangkan senyumannya. Lantaran pria di depannya berwajah datar bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun padanya.
Di meja makan, sekali lagi. Lina lebih cepat meraih mangkuk lauk untuk Kenzo. Pria itu menggantung tangannya kala Lina sudah ingin menyendokkan lauk ke piring pria itu.
“Boleh jika calon istri saya yang mengambilkan lauknya?” Semua mata menatap ke arah Lina dan Kenzo.
“Laurent,” tegur Pradana lirih.
Laurent yang patuh segera mengambil alih mangkok di tangan sang adik.
“Lina, sebaiknya kamu ambilkan untuk Pak Dendi saja.” ujar Amanda yang melihat sedari tadi Dendi terus memperhatikan Laurent.
“Em, tidak usah, Tante. Biar saya ambil sendiri saja.” ucap Dendi segera.
__ADS_1
Di sana, Laurent menyendokkan beberapa lauk ke piring Kenzo. Kemudian ia pun duduk di samping Kenzo. Tentu, hal itu sangat membuat Lina kesal.
“Awas aja, aku pasti berhasil. Mungkin benar, Raul itu memang buka jodohku. Makanya sejak kemarin aku batal menikah dengannya. Kali ini, aku harus berhasil menjadikan Tuan Kenzo suamiku. Dan kamu, Kak Laurent nikmati masa jandamu itu!” ucap Lina dalam hatinya penuh rasa iri pada sang kakak tiri.