
Hari yang seharusnya menjadi moment sakral itu pun batal. Pradana pulang ke rumah dengan wajah terus kian memerah. Tak ada ucapan satu kalimat pun yang ia lontarkan pada sang istri.
Amanda yang tahu betul bagaimana sikap suaminya, memilih bungkam. Ia paham jika bersuara saat ini pun hanya bisa membuat amarah sang suami semakin meledak.
“Dimana kamu, Laurent?” tanya Pradana dalam hati.
Ia diam ternyata bukan semata-mata karena amarah. Tetapi karena memikirkan apa yang terjadi semuanya di balik pernikahan sang anak yang tidak ia ketahui. Amarahnya seakan membuatnya menjadi gengsi untuk bertanya lebih dalam pada sang besan kala itu.
Bahkan Lina yang berada di dalam taksi pun tak di pikirkan oleh Pradana.
“Nda…” panggil Pradana terdengar lirih.
Seketika Amanda terkejut mendengar panggilan sang suami. “Iya, Ayah? Ada apa?” tanyanya balik.
Jika sudah panggilan sang suami seperti itu, tandanya Pradana sangat membutuhkannya.
“Kemana Laurent? Kemana kita harus mencarinya? Apakah dia mau pulang kembali dengan kita?” Amanda bungkam tak menjawab. Sejenak ia berpikir apakah mungkin Laurent mau kembali ke rumah setelah perbuatan sang ayah padanya beberapa saat lalu.
“Kita cari dulu ya, Ayah? Urusan mau atau tidak ikut dengan kita kembali, semoga Allah mempermudah jalan kita. Laurent anak yang baik, dia pasti akan menurut dengan kita.” jawabnya selembut mungkin.
“Maafkan Ibu, Yah. Selama ini Ibu juga tidak memberi tahu ayah kebenarannya. Laurent itu menangis saat mau meminta ijin menikah dengan ayah…” Wanita paruh baya itu menceritakan semuanya pada sang suami setelah menahan diri untuk tidak membuka suara.
Pradana menggeleng frustasi, ia menangis mengetahui nasib putrinya yang sangat menyedihkan. Bahkan di saat tertekan pun, Laurent masih memperdulikan kesehatan pria yang ia sebut ayah.
Sungguh, Pradana terpukul rasanya mendengar kebaikan sang anak yang tidak ia ketahui. “Bagaimana mungkin aku ayahnya setega itu pada Laurent, Amanda. Aku bahkan menyuruhnya merawat anak dari madu sekaligus adiknya. Aku benar-benar jahat.”
Amanda memeluk mengusap punggung sang suami. Ia turut meneteskan air mata.
“Sebaiknya kita ke rumah dulu, yah Ayah? Setelah Ayah minum obat kita pergi mencari Laurent. Ayah harus kuat.” ucapnya mengingat kondisi sang suami mudah sekali lemah.
Pradana pun mengangguk setuju. “Iya.” jawabnya singkat kemudian menatap wajah sang istri begitu dalam.
__ADS_1
Di raihnya pipi wanita paruh baya yang begitu ia cintai. “Terimakasih, yah? Sudah menjadi istri dan ibu yang luar biasa untukku dan Laurent. Aku benar-benar beruntung mendapatkan wanita sepertimu, Nda.” Ada seulas senyuman Pradana berikan pada sang istri.
Betapa beruntungnya ia mendapatkan Amanda yang begitu baik dan tulus pada keluarganya. Bahkan sang anak pun begitu terbuka dengannya.
Amanda tersenyum, ia mengusap air mata kemudian mengangguk.
Sesuai kesepakatan, mereka pulang ke rumah lebih dulu.
Gadis cantik dengan wajah yang tidak begitu semangat tampak menutup pintu kamar dari luar. Perutnya terasa lapar saat ini, tapi tak ada apa pun yang ia punya selain sebuah koper yang berisikan pakaian.
Matanya mengedar mencari sesuatu yang bisa ia manfaatkan dengan baik.
“Kamu anak baru yah?” Tiba-tiba seorang wanita yang berusia di atasnya sedikit menyapa saat ingin masuk ke dalam apartemen.
“Iya, Kak.” Laurent tersenyum. Ia segera mengulurkan tangannya.
“Nama saya Laurent, Kak.” ucapnya ramah.
“Aku Cantika, ini kamar aku. Oh iya kalau butuh bantuan, tekan bel kamar aku saja tidak apa-apa. Kita di sini pasti saling bantu kok.” ucap Cantika begitu memberikan napas lega untuk Laurent.
Cantika tampak menatap nanar gadis kecil di depannya, ia tahu bagaimana sedihnya menjadi Laurent. Karena mereka semua yang ada di lantai itu, punya kehidupan yang menyedihkan masing-masing.
“Jangan seperti itu, sudah. Ayo masuk. Tapi aku tidak banyak memasak. Kamu makan seadanya yah? Maklum tanggal tua, jadi aku sedikit masaknya.” Mata Laurent membulat sempurna kala mendengar ajakan Cantika padanya.
“Saya janji, Kak. Akan bersihkan apartemen Kakak.” tuturnya kembali.
Cantika tak menjawab hanya tersenyum dan menggandeng Laurent masuk. Di tuntunnya gadis itu duduk di meja makan.
“Makanlah, oh iya aku mau mandi dulu. Siapa tadi nama kamu? Lau…” ucapan Cantika menggantung lantaran tak mengingatnya.
“Laurent, Kak. Iya silahkan, Kak. Ini benaran saya boleh makan, Kak?” Sekali lagi Laurent tak percaya. Sungguh perutnya ingin melahap habis semua isi lauk yang ada di meja makan mini itu. Sayangnya ia cukup tahu diri.
__ADS_1
“Iya, makanlah. Sudah yah.”
Akhirnya Laurent asik dengan mengisi perutnya, begitu pula dengan Cantika yang asik di kamar mandi merasakan air yang segar membasahi tubuhnya.
Berbeda suasana di kediaman Wandi. Mawar menatap dalam diam sang anak yang tidak bergerak sama sekali. Raul pun ikut menatapnya.
“Kalau kamu benar ingin menikahi Lina dan menjadi ayah untuk anak itu, kedipkan matamu sekali. Kalau tidak, kedipkan tiga kali.” pintah Mawar.
Semua mata pun tertuju pada Raul.
Raul pun tampak mengedipkan pelan matanya sekali…
Yah hanya sekali, beberapa saat mereka semua menunggu. Namun tak ada lanjutan lagi.
“Hanya itu yang memang sudah jadi garisku. Bagaimana pun aku tidak bisa mengelak bahwa aku memiliki anak. Tapi, wanita itu…aku benar-benar tidak bisa menerima untuk menjadi istriku.” ucap Raul dalam hatinya.
“Aku mencintai Laurent.”
“Sudahlah, Bi. Tolong urus Raul sementara waktu sampai ia menikah dengan perempuan itu. Aku harus keluar dulu.” Mawar.
“Dayanf, Tante keluar. Kamu mau ikut?” tanya Mawar kembali melihat sang keponakan yang terdiam mencermati semuanya.
“Boleh deh, Tan.” jawab Dayang antusias.
Keduanya melangkah pergi usai memastika Wandi pergi ke kantor. Sedangkan Raul kembali ke dalam kamar yang penuh kenangan dengan sang istri.
Apakah benar nasibnya akan semenyedihkan ini? Menikah, bercerai hanya dengan keadaan pasrah. Tak ada yang bisa ia tegaskan dalam hidupnya. Semua yang ia dapat tentu ada campur tangan sang kuasa yang membuatnya sadar akan berapa banyak dosa yang ia perbuat.
Sedangkan di sekolah, tampak Dendi berdiri di ambang pintu kelas dengan memandang sesekali dalam kelas yang biasa menjadi tempat duduk Laurent. Gadis cantik yang menjadi penyemangat hari-harinya masuk ke sekolah itu.
Jika di awal niatnya ingin menjadi guru adalah sebuah pikiran iseng, justru karena bertemu dengan Laurent ia membuka pikirannya untuk mengajar dengan penuh jiwa pengabdian. Di samping kesibukannya menjadi penerbit beberapa buku.
__ADS_1
“Semoga kehidupanmu jauh lebih baik setelah ini, Laurent. Aku menunggu usiamu yang mapan. Akan ada waktu aku menunjukkan perasaan ini padamu…tapi bukan saat ini.”
“Semoga penantianku tidak akan sia-sia, Lau.”