Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Keputusan Laurent


__ADS_3

Satu malam Laurent habiskan dengan tidur memeluk pria yang juga satu tempat tidur dengannya. Air mata yang sudah mengering meninggalkan bekas di sana.


Tak ada yang bisa Raul lakukan selain hanya berucap dalam hati. Sungguh berharap malam yang panjang ini ada keajaiban untuknya.


Hingga pagi mata pria itu terjaga, namun harapan tinggal harapan. Tak ada yang berubah darinya. Sama seperti sebelumnya, hanya mengedipkan mata yang ia bisa.


“Menolak pun aku tidak bisa. Ada anak yang harus menjadi tanggung jawabku…” Sungguh Raul serba salah.


Waktu terus berlalu begitu cepat hingga mentari pun mulai menampakkan sinarnya. Wanita yang terus ia pandangi satu malam ini tiba-tiba saja mengerjapkan kedua matanya.


“Hah sudah pagi? Raul, maafkan aku yang kesiangan.” Belum sempat Laurent berucap panjang lebar di luar kamar sudah terdengar ketukan pintu yang menggelegar.


Tok Tok Tok


“Laurent! Buka pintunya! Bangun, sudah jam berapa ini?” Suara Mawar, sang mertua yang Laurent jelas tahu.


“Aduh Tante pasti marah karena bangun kesiangan.” Seketika tangannya menyingkap selimut dan turun dari ranjaang.


“Iya, Tante. Maaf…” ucapnya menunduk takut.


Di depannya, Mawar sudah berkacak pinggang menatap nyalang Laurent. “Kamu kesiangan? Astaga, Laurent. Ini sudah waktunya Raul minum obat. Kamu malah baru bangun.” omel Mawar tanpa perduli dengan keadaan mata sembab sang menantu.


“Tante, maaf. Saya hanya kepikiran dengan pernikahan Raul dan Lina. Saya keberatan, Tante.” ujar Laurent mengutarakan isi hatinya.


“Kalau kamu keberatan, yah ngomong dong sama orangtua kamu. Bukan dengan saya. Mereka yang mau itu. Saya mah ogah.” Mawar berbalik badan dan meninggalkan sang menantu yang diam mematung.


Benar, keputusan semua ada di tangan sang Ayah. Bagaimana mungkin ia memohon pada sang mertua.


Pagi itu Laurent dan Raul baru saja tampak rapi dan menuju meja makan. Di sana jauh lebih ramai dari pada biasanya.


“Hai Raul, lama kita tidak bertemu.” sapa gadis cantik nan modis.


Senyuman manis ia terbitkan di sana. Penampilan yang sangat modern, rambut berwarna cokelat terang. “Itu…istrinya, Tan?” tanya gadis itu yang menunjuk Laurent dengan pandangan mata.

__ADS_1


Mawar tak bersuara selain hanya mengangguk pelan.


“Istri pertama,” ucap Mawar tanpa perasaan.


Di detik itu juga, Dendi dan Dinda sama-sama tersedak makanan yang baru mereka ingin telan.


“A-pa maksudnya, Tante? Laurent kan istrinya Raul, satu-satunya.” Dendi bertanya seolah sangat syok.


Dan ucapan pria itu mendapat dukungan anggukan kepala dari Dinda.


“Hari ini Raul akan menikah lagi, jadi sudah pasti dia itu istri pertama…” tutur Mawar acuh.


Raul kini tampak memejamkan mata menahan sakit di hatinya. Semua sudah hancur. Masa depan, cintanya, bahkan perasaan wanita yang ia cintai juga hancur di waktu yang hampir bersamaan.


“Saya minta cerai!” Entah keberanian dari mana, Laurent tiba-tiba berucap seperti itu. Ia berjalan mendekat ke arah meja makan dengan mendorong kursi roda Raul.


“Sampai kapan pun saya tidak akan mau di madu, Tante membutuhkan pengurus untuk Raul bukan? Dan Lina membutuhkan sosok Raul untuk menjadi penanggung jawab janinnya. Biarkan saya yang pergi. Pernikahan ini hanya pernikahan siri. Jadi tidak begitu sulit untuk menceraikan saya.” Mata Mawar menyala mendengar penuturan sang menantu.


“Silahkan, Tante. Silahkan jika ingin menuntut keluarga saya. Saya tidak perduli, toh orang yang saya lindungi justru menyakiti saya sangat dalam demi perempuan itu yang selama ini berstatus adik tiri saya.” Air mata Laurent jatuh membasahi pipinya.


Tak pernah ia bayangkan jika pernikahannya dengan Raul hanya hitungan bulan saja. Bahkan baru berjalan bulan kedua. Tapi, semua demi kebaikannya dan semuanya. Mungkin dengan cara ini, ia bisa lepas dari penderitaan. Sedangkan Raul bisa menjadi ayah untuk anaknya tanpa ada yang tersakiti.


“Itu bukti jika yang membuat Raul kecelakaan bukan saya. Sejak awal saya sudah mengatakan, tapi Tante tidak percaya. Jika Tante mau menuntut keluarga saya atas hubungan saya dan Raul yang merugikan kalian, silahkan. Yang penting ada bukti di tangan saya.” Laurent pergi meninggalkan semuanya dengan mulut terbuka kaget.


Sedang Dendi tampak merubah raut wajah lebih cerah. Ia salut dengan Laurent akhirnya berani mengambil keputusan tanpa memikirkan siapa pun lagi.


“Laurent…” jerit hati Raul saat melihat sang istri berjalan di samping melewatinya sembari mengusap air mata.


Air mata pria itu pun ikut jatuh, ia sungguh tak siap jika saat ini juga Laurent akan meninggalkannya.


Mawar dan semuanya terdiam bungkam. “Dinda, cepat ambil laptop dan lihat apa isinya!” pintah wanita paruh baya itu, meski tatapannya masih tertuju pada punggung sang menantu yang sudah menghilang di balik pintu.


Di dalam kamar, Laurent mengemasi barang-barangnya yang memang tidak begitu banyak. Hanya satu koper sedang. Tak ada make up atau pun barang lainnya. Hanya pakaian saja.

__ADS_1


“Aku tidak mungkin untuk pulang. Aku tidak ingin mendengar ayah bicara kasar lagi. Kemana aku harus pergi?” Laurent tertunduk setelah selesai mengemasi barangnya.


Ia bingung kemana ia pergi bahkan uang satu lembar pun ia tak punya.


Tok Tok Tok


Terdengar ketuka pintu yang memang tidak tertutup dengan rapat. Laurent terkejut dan melihat siapa yang datang.


“Pak Dendi…” tuturnya. Segera Laurent berjalan keluar membawa kopernya.


“Ayo ikut saya,” Kening Laurent mengkerut mendegar Dendi mengajaknya entah kemana.


“Pak, kita mau kemana?” Laurent bertanya sembari terus mengikuti langkah Dendi yang membawanya keluar dari rumah.


“Dendi! Mau kemana kamu?” Wandi sebagai paman dari pria itu bertanya dengan suara lantang.


“Saya ada urusan dengannya, Paman.” jawab Dendi singkat tanpa perduli tatapan keluarganya.


“Wah ini sih benar, Tan. Bukan dia yang lagi sama-sama Raul. Gadis mana ini? Ini mah lebih bocah lagi dari Laurent itu.” Dinda menggelengkan kepalanya saat melihat layar laptop yang menampakkan gadis berjalan tertatih keluar dari mobil mewah Raul yang sudah hampir hancur keseluruhan.


Mawar memijat kepalanya. “Haduh pusing kepalaku, ini gara-gara kamu Raul. Lihat, apa akibat ulah kamu ini?” Mawar menatap kesal pada sang anak yang tidak bisa apa-apa selain meneteskan air mata.


***


Di tempat lain, Dendi baru saja sampai di sebuah perusahaan ternama di kota itu. Mata Laurent menatapnya penuh tanya.


“Sudah kamu pasti akan berterimakasih denganku setelah kamu sukses nanti.” ujar Dendi tersenyum dan Laurent semakin mengerutkan keningnya.


“Selamat pagi, Tuan. Dengan keperluan apa?” wanita cantik penampilan rapi menyapa Laurent dan Dendi pagi itu.


“Si Kenzo…eh maksud saya Tuan Kenzo sudah tiba? Saya sepupunya.” sahut Dendi dengan wajah berkharisma.


“Kenzo? Siapa dia? Untuk apa Pak Dendi membawaku ke perusahaan ini? Bekerja, sepertinya tidak mungkin. Aku saja belum lulus dari SMA.” batin Laurent kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2