
Wajah lembut nan cantik milik Laurent yang biasa terpancar, kini tampak memerah penuh amarah.
“Seharian ini kamu kemana? Senang-senang di luar tidak jelas? Lina, kamu tadi pagi bicara ke aku mau bantu temani Ibu di rumah sakit. Iya kalo memang tidak mau membantu, tidak masalah. Tapi kenapa harus bohong?” Laurent menatap nyalang pada sang adik.
Di antara mereka ada Amanda dan juga pelayan yang terdiam.
“Lina, kalau apa yang di katakan kakak mu benar. Kamu keterlaluan, Lina. Siapa yang mengajari kamu berbohong seperti itu? Ayahmu sedang sakit Lina.” tutur Amanda tak habis pikir melihat perlakuan sang anak.
Lina sungguh muak mendengar Laurent maupun sang ibu bicara padanya. Gadis nakal itu hanya memutar kedua bola matanya jengah. Ia membalik tubuh dan melangkah masuk ke dalam rumah.
“Lina!” teriak Amanda serta mencengkram pergelangan tangan sang anak.
“Apalagi sih, Bu?” tanyanya sedikit meninggikan suaranya.
“Kamu tidak perlu berpura-pura simpatik pada Ayah. Kalau memang ingin bersenang-senang katakan saja. Jangan bawa nama Ayah!” tekan Laurent lalu pergi meninggalkan anak dan ibu yang masih saling bertatapan di depannya.
Pelayan yang menyaksikan mereka pun menunduk undur diri.
“Kamu sudah keterlaluan, Lina.” omel Amanda.
“Aku yang keterlaluan? Atau Ibu yang keterlaluan? Hah! Selama ini Ibu sadar tidak? Selalu saja membandingkan aku dengan anak tiri Ibu itu!” Lina meninggalkan Amanda dengan acuh.
__ADS_1
Semua pergi, kini tersisa tinggal Amanda seorang diri. Ia terduduk di kursi depan di samping pintu. Hari ini ia terlalu fokus merawat sang suami hingga tidak tahu jika sang anak di luar sana justru melakukan sesuatu yang tidak tahu apa saja di lakukannya dan bersama siapa saja.
Hari itu berlalu sangat cepat, tak terasa kini hari berganti.
Di sekolah tampak begitu ramai siswa siswi tengah berjalan memasuki gerbang sekolah. Hari ini seperti hari sebelumnya, taksi online mengantarkan dua gadis kakak beradik ke sekolah.
“Ini ongkosnya, Pak.” Tangan Laurent terulur memberikan bayaran pada supir taksi.
Keduanya turun dengan sisi yang berbeda. Namun, mereka tak melanjutkan langkah lebih saat mendengar sapaan seseorang.
“Lau, ke kelas bareng yah?” Dia adalah Raul. Senyuman lebar ia berikan untuk sang kekasih.
Laurent tentu masih waras. Ia sungguh kesal mengingat kejadian kemarin. Bahkan Raul pun juga tidak masuk di hari yang sama dengan sang adik.
“Lau! Laurent!” Raul mengejarnya.
“Raul, mau kemana sih? Anter ke kelas aku yok.” rengek Lina pada pria yang baru saja menjadi penghangat hatinya dan juga tubuhnya.
“Lina, apaan sih? Kamu jangan coba kendalikan aku di depan orang.” tutur Raul dengan tatapan penuh arti.
“Aku tidak mau tahu. Kita sudah pernah sekamar, jadi sekarang antar aku ke kelas aku.” bisik Lina sembari melingkarkan tangannya di lengan pria yang tak lain adalah kekasih sang kakak.
__ADS_1
Dengan pasrah, Raul melangkah mengikuti langkah adik kelasnya. Ia tidak melihat jika dari sudut lain ada Laurent yang menatap tingkah keduanya.
Laurent menggelengkan kepalanya. “Ini pasti ada apa-apanya. Raul tidak akan senurut itu sama Lina kalau bukan ada suatu hal yang Lina lakukan.” gumamnya.
***
Sedangkan di rumah sakit, tampak Amanda yang duduk melamun saat baru selesai menyuapi sang suami sarapan.
Pradana sadar akan tingkah aneh sang istri. “Hei…” sapanya pada Amanda sembari menggenggam tangan sang istri.
“Ada apa, Ayah? Mau minum lagi?” Amanda begitu perhatian dengan sang suami.
“Tidak. Kamu ada apa? Apa Laurent buat kamu kesal sampai melamun seperti itu?”
Ketika nama Laurent di sebut oleh Pradana, sang suami. Amanda lantas menggelengkan kepalanya cepat.
“Tidak, Ayah. Sampai saat ini Ayah tahu Laurent tidak pernah berbuat apa pun yang membuat kita jadi pikiran. Tapi, berbeda dengan Lina.” curhatnya menunduk sedih.
Pradana tersenyum lemah. Di tepuknya sekali genggaman tangannya pada tangan sang istri.
“Lina sepeti itu karena tidak merasakan seperti Laurent dulu di dampingi sosok ayah. Maklumlah dengan sikapnya. Justru Laurent lah yang seharusnya memberikan arahan pada adiknya. Sudah jangan terlalu menjadi beban mu, Amanda. Lina masih kekanak-kanakan. Kelak dia akan berubah juga.”
__ADS_1
Selalu seperti itulah sikap Pradana. Amanda merasa suaminya tidak bisa tegas pada anak-anak mereka.