
Ketukan pintu di luar kamar hotel membuat dua pasang yang terlelap pagi itu saling melepaskan pelukan mereka sejak keringat mulai mengering.
Malam yang terasa panjang untuk pertama kalinya bagi Kenzo dan Laurent. Berkali-kali melakukan penyatuan yang memabukkan seolah tak perduli sakit yang mendera bagian inti wanita itu. Laurent larut dalam kenikmatan yang Kenzo tawarkan padanya.
“Morning,” senyuman hangat pertama kali selama mengenal, Laurent lihat di wajah sang suami tampannya.
Kenzo tersenyum dan mendaratkan bibirnya pada kening sempit sang istri. Sejenak Laurent menatap dalam penuh cinta pria di hadapannya.
Niat tulus untuk memberikan semua yang menjadi hak seorang suami nyatanya membuat hubungan kaku mereka kini menjadi lebih akrab. Sungguh di luar dugaan. Laurent tak menyangka ini terjadi sesingkat itu.
Tok tok tok
Kembali ketukan terdengar di pintu kamar mereka. “Sebentar, Tuan.” Laurent berniat ingin menuju pintu.
Secepat kilat Kenzo menangkap tangan istri mungilnya. “Biar aku saja. Kau istirahatlah lagi.” tuturnya begitu hangat.
Laurent yang mendengar bagaimana nada bicara seorang Kenzo padanya berubah drastis tak bisa menahan diri lagi. Bahagia begitu menguasai sosok Laurent.
“Terimakasih, Tuan. Berjanjilah untuk tetap bersamaku.” Pelukan tiba-tiba Laurent berikan membuat Kenzo juga sangat senang. Ia membalas pelukan itu sekilas lalu mereka mengurai pelukan masing-masing.
“I love you, Lau.” ucap Kenzo mencium puncak kepala Laurent dan berjalan menuju pintu.
__ADS_1
“Sarapannya, Tuan.” Seorang resepsionis pria tampak memegang nampan lebar yang berisi sarapan dan lainnya. Sesuai permintaan Kenzo untuk mengantar sarapan pagi ini.
Karena ia yakin, pagi pertamanya akan menghabiskan tenaga. Alangkah baiknya sarapan di kamar saja.
Seperginya resepsionis itu, Kenzo melangkah membawakan sarapan untuk mereka. Laurent yang ia suruh istirahat justru masih duduk memperhatikan sang suami yang mendekat ke arahnya.
Siang yang manis bukan? Keduanya sarapan dengan perasaan tak lagi canggung.
***
“Mas, apa kita tidak beritahu Ibu dan Ayah kepulangan kita ini?” tanya Laurent saat mereka tiba di halaman depan rumah Kenzo yang besar.
Yah mereka menghabiskan waktu dengan banyak kegiatan mendebarkan yang berbau 21+. Hingga waktu liburan pun usai dan mereka pulang dengan keadaan yang sudah semakin harmonis.
“Tidak usah, nanti malam kita kesana saja. Sekalian bawa oleh-oleh untuk mereka.” jawab Kenzo.
Laurent pun menurut saja. Ia patuh pada suami tanpa bantahan sedikit pun.
Tak habis-habisnya keromantisan mereka, kini Laurent berteriak tertawa cekikikan di kamar mandi. “Mas! Geli!” pekiknya sembari berguling-guling di dalam bathup yang berisikan dua orang.
Kenzo, dengan wajah datar tampak tak menghiraukan teriakan sang istri. “Laurent, cepatlah duduk di sini. Aku hanya memainkan bukan menggigitnya.” kilah Kenzo tanpa dosa.
__ADS_1
Bahkan wajah Laurent pun sudah memerah karena menahan geli yang luar biasa.
“Mas, aku kegelian. Jangan pegang-pegang lagi yah?” mohon Laurent dengan menutup dua buah miliknya yang selalu membuat Kenzo candu untuk memegang.
“Masa geli? Ayolah Laurent. Aku menginginkannya.” pintah Kenzo lagi.
Laurent menggeleng.
Hingga candaan lainnya terus terjadi di kamar mandi itu.
Menjelang malam, keduanya tampak bersiap menuju kediaman Tuan Pradana.
Wajah cantik dan berseri-seri tampak pada Laurent malam ini. Bulan madu singkatnya bersama Kenzo sepertinya adalah hal yang membahagiakan untuknya.
***
“Ayah, Lina mohon. Lina tidak tahan di rumah itu lagi.” Tangis wanita yang memohon pada Pradana tak sedikit pun membuat kedua orangtua di depannya melirik.
Amanda sebagai Ibu kandung sangat geram. Anaknya sangat membuatnya malu pada sang suami. Bagaimana pun juga, Pradana sudah cukup baik menyayangi dan menghidupi anaknya hingga dewasa.
Namun, Lina tidak henti-hentinya terus membuat masalah.
__ADS_1
Tidak tahan lagi, Amanda bergerak mencekal lengan Lina.
“Pulang kamu, Lina. Itu pilihan kamu kan? Rumah tanggamu kamu hadapi sendiri. Ibu tidak mau yah kamu buat masalah lagi. Sudah cukup kamu mempermalukan keluarga ini, Lina!” Amanda membulatkan matanya seakan benar-benar murka melihat kedatangan Lina malam itu dengan derai air mata.