Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Kedatangan Lina


__ADS_3

Mendapatkan jawaban dari pria asing, membuat wajah pucat Pradana mendadak tersenyum hangat.


Tak perduli bagaimana tatapan bingung dan terkejut sang anak saat itu. “Ayah, Ayah bercanda kan? Masa iya Laurent menikah dengan Tuan Kenzo?” tanyanya masih tidak paham.


“Dia sudah menyanggupi, Laurent. Ayah merasakan keyakinan yang besar jika dia bisa menjagamu, Nak. Ayah sudah sakit-sakitan. Ayah tidak bisa menjadi Ayah yang sempurna untuk mu. Bahkan Ayah sudah berburuk sangka padamu. Biarkan Ayah memberi kesempatan untukmu hidup bahagia bersama pria yang Ayah pilihkan.” Air mata Laurent jatuh mendengar penuturan sang ayah.


Sedalam itu kah rasa penyesalan sang ayah padanya, sampai kata maaf pun tak cukup membuat hati Pradana tenang dan lega?


“Lau, bisa kita bicara sebentar?” Suara berat milik Kenzo terdengar. Sontak manik mata Laurent menatap pria yang tinggi itu. Tak ada jawaban yang ia berikan hingga Kenzo segera meraih pergelangan tangan Laurent.


Mereka keluar dari ruangan melewati semua, termasuk Dendi. Pria yang sedari tadi berusaha mengembalikan kesadarannya usai mendengar ucapan yang tidak pernah ia sangka.


Mungkin bisa di bilang membawa Laurent ke hadapan Kenzo, sama saja membawakan istri untuk pria itu.


Di luar rumah sakit.

__ADS_1


“Ayahmu saat ini sedang lemah. Biarkan dia bahagia. Lagi pula menikah denganku bukanlah sebuah kesalahan yang berakhir kesedihan di kemudian haru.” ucap Kenzo menatap dalam manik mata yang berembun di depannya.


“Tuan, bagaimana mungkin di usiaku yang masih belasan tahun ini mau menikah untuk kedua kalinya? Apa kata orang, Tuan? Saya tidak mau mempermainkan pernikahan. Saya juga tidak mau gagal untuk kedua kalinya…” Sungguh hati Kenzo terhenyak kala melihat wajah yang tersedu-sedu di hadapannya.


Laurent benar, ia tidak salah jika takut gagal dalam pernikahan keduanya. Segera, tangan kekar Kenzo menarik tubuh Laurent ke dalam pelukannya.


Dari arah sudut lain, tampak sepasang mata yang menatap nanar dua insan yang berpelukan.


“Wah…Kak Laurent. Ninggalin suami yang lumpuh ternyata demi pria lain yang lebih ini?” Tiba-tiba saja Laurent dan Kenzo terkejut dengan suara nyaring Lina.


“Tuan, maaf. Saya mau ke toilet.” Laurent memilih pergi meninggalkan Lina yang bertolak pinggang.


Tatapan tajam Kenzo menatap Lina dingin. Namun, yang ia dapat adalah senyuman manis Lina.


“Aku Lina. Adik Kak Laurent.” Uluran tangan Lina hanya mendapat tatapan enggan dari sosok Kenzo tanpa membalasnya.

__ADS_1


“Tidak ada adik yang berkata kasar pada kakaknya.” celetuk pria itu memilih pergi menjauh.


Kepegian Kenzo di tatap dalam oleh Lina. “Yang seperti itu tuh yang aku mau. Gara-gara bayi ini nih. Aku harus memikirkan gimana caranya mengatasi ini semua. Jangan sampai karena bayi saja kehidupanku jauh dari harapan. Kalau bisa pria itu saja, enak saja si Laurent, cerai dari Raul langsung dapat yang gagah seperti itu. Itu cocok sama aku.”


“Lina, kenapa kamu baru datang?” Amanda baru saja keluar dari ruangan ingin menelpon sang anak untuk menanyakan keberadaannya.


Tanpa berniat bicara, Lina seketika mengulurkan tangannya yang menggenggam tas mini berisi pakaian sang ibu dan ayah.


“Ini, pakaiannya. Oh iya, Bu. Laki-laki yang tadi itu siapa?” tanya Lina antusias.


Amanda pun mengerutkan keningnya bingung. “Yang mana? Pak Dendi?” tanya Amanda.


Lina menggeleng. “Bukan, yang pakai jas itu loh? Kok Pak Dendi sih?” gerutu Lina.


Amanda menghela napas kasar. Sepertinya dia tahu tujuan apa sang anak bertanya tentang Kenzo. Sengaja, Amanda berucap yang sangat mengejutkan sang anak. “Itu calon suami Kakak kamu.”

__ADS_1


Mata Lina membulat besar. “Calon?” pekik Lina yang sangat terkejut.


__ADS_2