Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Permohonan


__ADS_3

Malam harinya, kini tampak hidangan lezat tertata rapi di meja makan.


Amanda sebagai seorang istri mulai menyendokkan beberapa lauk ke dalam piring sang suami. Kedua, piring Lina dan terakhir piring Laurent.


“Ayo makan.” ajak wanita paruh baya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


Jika semua tampak makan dengan tenang dan nikmat, berbeda halnya pada Laurent. Merasakan perpaduan bumbu saja ia tidak bisa merasakan. Hatinya yang sangat kalut, sungguh bingung apa yang harus ia lakukan kali ini.


Besok adalah hari pernikahannya. Bagaimana caranya ia meminta ijin pada sang ayah?


Air mata tanpa terasa menetes kala berpikir kata apa yang pertama akan ia keluarkan setelah ini.


Sendokan demi sendokan terus berayun. “Masakan mu masih sama seperti biasanya, Amanda. Tidak pernah kurang apa pun. Selalu enak.”


“Sudah bukan waktunya menggombal, Ayah. Malu sama anak-anak.” sahut Amanda yang enggan melanjutkan perbincangan hangat itu.


Matanya bisa melihat bagaimana kesedihan di raut wajah Laurent sekarang.


Usai makan malam, pelayan pun mulai merapikan kembali meja makan setelah memastikan para majikan meninggalkan meja makan menuju ruang tengah.


Seperti biasa, tidak ada yang boleh ke kamar setelah makan.


Pradana selalu mengingatkan keluarganya jika makan dan langsung berbaring di kamar itu sangat tidak baik.


Seluruhnya berkumpul menonton siaran di televisi. Hingga tak ada yang menduga jika tiba-tiba Laurent, putri tunggal pewaris perusahaan yang di miliki Pradana menangis memeluk kedua kaki sang ayah yang duduk di sofa.


Manik mata Pradana menatap bingung pada anak dan istrinya. Seolah bertanya ada apa ini?


Tangan pria itu mengusap puncak kepala Laurent, “Anak Ayah, ada apa ini? Kau menangis seperti ini, Laurent katakan apa yang terjadi, Nak?” Pradana yang masih belum tahu apa pun bahkan sudah meneteskan air mata.

__ADS_1


Laurent bukan gadis yang lemah menurutnya.


“Ayah, Laurent mohon. Kali ini kabulkan permintaan Laurent. Laurent ingin menikah, Ayah.” Suara Laurent terdengar sesenggukan. Hatinya sangat tidak rela mengeluarkan kata ini.


Rasanya sungguh berat, andai saja ia bisa berteriak dan menjatuhkan semua bebannya. Mungkin semuanya akan lepas dari pikirannya.


Mendengar permintaan sang anak, Pradana terdiam. Mulutnya tercengang tak percaya. Ia menggelengkan pelan kepalanya.


“Me-menikah? Apa Ayah tidak salah dengar?” tanya Pradana melepas tangannya dari pundak sang anak.


“Laurent! Katakan! Apa ini hanya bercanda?” Nada suara Pradana kini meninggi.


Laurent di bawah sana masih menangis tanpa bisa menjawab pertanyaan sang ayah.


Semua menegang, termasuk Lina yang sangat penasaran apa yang terjadi selanjutnya.


“Ayah, Laurent mohon restui Laurent. Besok adalah hari pernikahan Laurent. Ampuni Laurent, Ayah. Laurent tidak ingin semua ini, tapi takdir yang sudah membawa Laurent ke jalan ini, Ayah.”


“Siapa laki-laki itu? Siapa yang memikirkan untuk pernikahan ini? Apa tujuan kalian menikah? Apa kalian akan berhenti sekolah? Apa pernikahan itu bukan karena hamil?” Begitulah banyaknya pertanyaan yang Pradana lontarkan pada sang putri.


Tangannya bahkan sudah mengusap dadanya yang terasa sesak dan panas.


“Ayah, tahan emosi Ayah. Ini obatnya.” Kali ini Lina bergerak mencari perhatian dari sang ayah.


Satu butir obat Pradana letakkan di dalam mulutnya tepat di indera perasa.


Matanya yang merah terus menatap kepala yang menunduk di bawah kakinya.


“Tidak, Ayah. Laurent tidak hamil. Ini semua karena Laurent sangat mencintai Raul, Ayah. Laurent ingin merawat dia sepenuh waktu, Ayah. Laurent akan mengambil paket saat nanti Raul sudah sembuh, Ayah.” Ini adalah alasan yang sudah Laurent pikirkan sejak tadi sore.

__ADS_1


Ia tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Namun, semua terkadang yang terjadi sulit untuk di kendalikan sesuai dengan harapan.


“Itu pilihan yang sangat salah. Dia punya keluarga, kalian baru pacaran cinta anak labil. Bukan hubungan serius. Tidak sepatutnya kau yang bertanggung jawab atas pria itu sepenuhnya, Lau. Ayah kecewa! Lina yang sangat sulit di atur setidaknya jauh lebih bisa berpikir panjang.” Pradana untuk pertama kalinya bicara dengan tegas pada sang anak tanpa mau menatap wajah Laurent lagi.


Ia mengarahkan wajahnya ke samping. Sedalam mungkin Pradana menarik napas. “Jika itu terjadi, mulai saat ini juga nama mu akan di keluarkan dari pewaris perusahaan.”


Laurent, Amanda, dan juga Lina sama-sama membulatkan mata mereka terkejut.


Belum sempat mereka menghirup udara, Pradana bersuara kembali. “Untuk nikah saya akan hadir. Tapi jangan pernah datang ke rumah ini lagi. Lina, satu-satunya anak yang ada di rumah ini dan di akui.”


Sakit! Sungguh hati Laurent ingin berteriak kesakitan. Air matanya jatuh tanpa henti. Ayah yang sangat ia hormati begitu murka dengan keputusannya.


Orang tua mana pun tentu akan sangat marah jika anak yang mereka banggakan melakukan hal yang menurutnya di luar pikiran.


Bagaimana mungkin, di usia yang masih sangat belia. Bahkan sang pria pun dalam keadaan tidak bisa melakukan apa pun, mereka menikah hanya berdasarkan kekasih yang harus merawat kekasihnya yang tidak bisa bangun dari tidurnya.


“Tidak! Ayah jangan usir Laurent. Laurent sayang sama Ayah. Jangan seperti ini, Ayah.” mohonnya pada sang Ayah.


“Satu-satunya orang yang tidak pernah aku sangka akan mengecewakanku. Justru kini dia menjadi orang yang seperti ingin mencabut nyawaku. Apa arti hidup ini? Sekarang aku tidak akan menghalangi apa pun keputusanmu. Hanya karena laki-laki itu, semuanya jadi tidak berarti.”


Percakapan keduanya, membuat Amanda sungguh tidak sampai hati. Air matanya mengalir, hatinya tak kuat melihat bagaimana sakitnya menjadi Laurent.


“Yah…sudah cukup. Ucapan Ayah begitu sakit.” Amanda memeluk sang suami yang bersandar di sofa sembari meneteskan air mata.


“Itu tidak sesakit apa yang saya rasakan, Amanda. Harapan saya hancur. Saya gagal menjadi Ayah.”


“Sudah sebaiknya kita istirahat. Semuanya kita bicarakan besok saja. Ayo Ayah sudah drop. Bahaya.” Pradana mengikuti langkah sang istri yang menuntunnya menuju kamar untuk istirahat.


Tanpa ada yang perduli dengan Laurent yang masih berlutut di lantai beralaskan ambal. Semuanya pergi termasuk Lina yang tersenyum di tengah langkahnya menuju kamarnya.

__ADS_1


“Hahaha tidak bisa terbayangkan hidup mengabdi dengan pria yang tidak bisa melakukan apa-pun.” Lina tertawa puas di dalam kamar.


__ADS_2