Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Perlakuan Lina


__ADS_3

Usai pernikahan dan segala ungkapan kedua orangtua Laurent, gadis itu pun kini menerima genggaman tangan Kenzo menuju mobil.


Tentu ada rasa khawatir yang sangat mendalam di hati Laurent. Bagaimana jika sang suami ternyata membuatnya sedih? Laurent sangat takut dalam pernikahan kedua ini kembali gagal.


Matanya terpejam mengucapkan doa-doa sebelum benar-benar meninggalkan kediaman orangtuanya.


“Ayo,” Suara hangat Kenzo membuat Laurent membuka mata usai menyematkan doa yang singkat dan harapan yang begitu indah.


Tanpa mereka sadari, di samping kedua orangtua Laurent, ada manik mata yang menggenang cairan bening.


“Laurent, berbahagialah. Kenzo pantas untukmu. Semoga air mata sedihmu kini berganti air mata bahagia hingga akhir.” Itulah ucapan Dendi yang hingga kini masih bisa memendam perasaannya.


***


Sedangkan di hari yang sama, namun di rumah yang berbeda.


“Uek! Uek! Uek!” Lina beberapa kali terus memuntahkan isi perutnya. Tubuhnya terasa lemas hari itu.

__ADS_1


“Bibi!” Panggilnya di depan kamar.


Dengan langkah terburu-buru, sang pelayan datang. “Iya Non Lina? Ada apa?”


“Buatkan saya sarapan, susu hamil, dan buah yang sudah siap makan. Jangan lupa jus jeruk.” Perintah Lina lengkap tanpa bantahan.


Belum saja pelayan berbalik badan hendak pergi, suara majikannya sudah menggema.


“Eh eh apa itu? Kamu belum makan atau rakus?” tanya Mawar mendelik tak suka melihat tingkah menantu keduanya ini.


“Mah, perut aku mual. Aku butuh itu semuanya. Ini cucu Mamah loh.” ucap Lina merubah nada bicaranya.


“Tidak. Enak saja, sudah Raul tidak bisa kerja, kamu lagi datang mau menambah pengeluaran. Tidak bisa! Kalau mau makan, sana ambilkan suamimu lebih dulu. Dan ingat, Lina. Pembantu di rumah ini tidak berlaku untuk kamu.”


Lina tercengang mendengarnya. “Mah, itu apa-apaan sih? Aku lagi hamil. Siapa yang mau mengurus aku? Mamah?” ucapnya tak terima. Terlebih keadaannya saat ini sangat lemah.


“Saya tidak mau tahu, kamu harus mengurus Raul sekali pun kamu juga sedang hamil dan sakit. Itu sudah kewajiban kamu sebagai istrinya.” ucap Mawar melangkah pergi.

__ADS_1


Pelayan pun juga di perintahkan pergi oleh Mawar kala itu.


Di kamarnya, Lina membuang semua bantal, selimut serta apa pun yang ia pegang. Raul yang berbaring lemah seketika terlonjak kaget dan membulatkan matanya.


“Raul! Cepat sembuh! Kamu tidak lihat aku lemah sekarang? Aku hamil anak kamu? Siapa yang mau mengurusku? Ibumu bahkan mau menyiksaku dengan menyuruh mengurus suami seperti kamu!” Wanita itu terus berteriak mengeluarkan segala emosinya.


Raul yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa memejamkan mata mendengarkan setiap teriakan sang istri.


“Harusnya Tuan Kenzo mau menerimaku menjadi istrinya. Bukan menjadi istri dari pria sepertimu! Kenapa kamu harus menanam benih ini di rahimku? Kenapa!”


Lina terus berteriak dan menangis. Tak lama kemudian ia pun berlari kembali ke kamar mandi. Seluruh isi perutnya pun habis terkuran hingga hanya cairan saja yang keluar dari mulutnya.


Beberapa saat setelah merasa jauh lebih baik, ia bertekad untuk turun ke bawah dan mengambil apa yang ingin ia makan dan minum. Tenaganya sudah benar-benar lemas kali ini.


Di dapur, sang pelayan yang merasa iba melihat keadaan Lina segera membantu menyiapkan makanan. Karena mereka tahu, Mawar sudah pergi keluar rumah.


“Ini, Non. Jangan lupa susunya di habiskan biar lebih enakan.” ucap pelayan perhatian.

__ADS_1


“Sudah deh, jangan sok perhatian. Sana pergi. Sekalian itu si Raul di bersihkan. Saya lemas.” ketus Lina menjawab. Meski sudah lemas ia masih tetap memiliki tenaga untuk menindas.


__ADS_2