Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta

Di Ujung Pernikahan Penuh Cinta
Kedatangan Sosok Yang Tepat


__ADS_3

Belum usai pria paruh baya itu mengatakan, tangannya sudah mencengkram erat dadanya yang kembali sesak dan terasa panas.


“Ayah!” Laurent berteriak takut, ia menangis melihat pria yang sangat ia sayang kesakitan di depan matanya.


“Dokter! Dokter!” Teriakan gadis itu memenuhi ruangan. Segera Dendi dan Amanda berlari keluar meminta pertolongan.


Kesedihan terasa begitu menyayat di hati Laurent. Pria ini adalah pria yang sangat ia sayangi. Pria yang pernah membuatnya merasa hidup seperti di neraka. Tapi, saat ini ia hanya ingin menggantikan posisi sang ayah.


“Ayah, berikan sakitnya pada Laurent saja. Jangan ayah yang sakit. Tuhan tolong hilangkan rasa sakit ini dari Ayah, dan pindahkan padaku.” jeritnya memohon belas kasih.


Semakin Pradana mendengarnya, semakin sedih pula hatinya. Rasa bersalahnya pada sang anak benar-benar mendalam. Meski memang tidak butuh waktu lama keduanya saling bersitegang, dan memang itu adalah pertama kalinya ia sekasar itu pada sang anak.


“Bunda, maafkan Ayah. Maafkan Ayah yang sudah menelantarkan anak kita, Bunda. Ayah bersalah. Tolong ampuni, Ayah. Ampuni Ayah…” Di sela sakit yang menyerangnya, Pradana tiba-tiba teringat mendiang sang istri yang menitipkan Laurent padanya.


Flashback on


Suara pendeteksi jantung terus terdengar di ruangan itu. Wajah pucat wanita cantik dengan buliran air mata yang terus menetes di kedua pelupuk matanya tak urung membuat genggaman seorang pria paruh baya melepaskan.

__ADS_1


“Bunda, Ayah mohon. Bertahanlah.” Saat itu Pradana begitu erat menggenggam tangan wanita bernama Voni. Beberapa kali pun ia melabuhkan ci**annya di sana.


“Bunda tidak kuat, Ayah. Bunda mohon maafkan Bunda yang belum bisa menjadi istri yang baik untuk, Ayah. Bunda tidak bisa menemani kalian lebih lama.” Suara lirih bergemetar terdengar sulit di ucapkan oleh Voni saat itu.


Tak ketinggalan juga anak kecil cantik yang menangis memeluk tubuh wanita lemah tersebut.


“Jaga Laurent, Ayah. Apapun yang terjadi, berjanjilah tidak membuatnya menangis. Bunda mohon…ayah menikahlah. Jangan biarkan Laurent hidup tanpa sosok ibu di sisinya. Bunda ikhlas, Ayah.” Jelas Pradana tahu, siapa pun tidak akan bisa rela melihat orang yang ia cintai bersama orang lain.


Namun, apa yang Voni lakukan semata demi mereka bisa melanjutkan hidup kedepannya.


Bibir Voni bergetar, hatinya mendadak sakit sekali membayangkan semua miliknya akan di miliki oleh wanita lain. Tak ada yang bisa ia lakukan selain hanya pasrah, anak dan suami adalah nyawa yang ia punya. Biarkanlah ia pergi, asalkan kedua orang itu tetap bisa bahagia.


“Ayah…lakukanlah demi Bunda. Bunda sangat menyayangi Laurent. Bunda hanya ingin istirahat, Ayah. Bunda lelah…” Pelan namun pasti mata berkelopak pucat itu kini tertutup dengan sempurna.


Voni pergi meninggalkan suara jeritan sang anak dan suami di ruangan itu.


Bahkan tenaga medis pun berdatangan mendengar keributan, dan benar. Pasien sudah tidak bisa di selamatkan lagi.

__ADS_1


Flashback off


Kini, Pradana sudah terpejam kembali matanya setelah mendapatkan beberapa penanganan dari sang dokter.


Laurent yang masih penasaran dengan ucapan sang ayah, terus menunggu dengan gelisah di luar. Amanda bahkan tak melepaskan pelukan sang anak.


Di genggamnya, di usapnya tangan sang anak sambung yang dingin itu. “Ayah akan baik-baik saja, Nak. Dia hanya terlalu sedih karena sudah bersalah padamu. Percaya dengan Ibu…” tutur Amanda.


Dendi yang berada di kursi tunggu seberang bisa melihat ketulusan wanita itu pada Laurent.


Sedangkan Laurent menengadah. Air matanya tak berhenti sejak ia datang pertama kali di sana. “Laurent sudah memaafkan, Bu. Laurent tidak marah dengan Ayah. Yang Laurent butuhkan Ayah sembuh, Bu.” tangis gadis itu.


“Laurent!” Suara berat dan besar terdengar menggema di ruangan itu.


Semua mata menoleh, tak terkecuali Laurent. Manik mata yang terpenuhi dengan air mata itu kini semakin menyipit kala melihat kehadiran seseorang.


Pelukannya ia lepas dari tubuh sang Ibu, ia berlari memeluk seseorang yang baru saja tiba itu.

__ADS_1


Irama jantung tiba-tiba saja bergemuruh saat itu. Kedua mata hitam legam itu membulat kala mendapatkan pelukan secara tiba-tiba di sana.


__ADS_2