
Di kediaman Wandi, tampak Dendi yang baru tiba di sana mendapat tatapan sinis dari sang keluarga.
“Dari mana saja kamu, Den? Tante pikir sudah lupa jalan rumah ini.” cetus Mawar sembari melipat kedua tangannya di dada. Matanya bahkan tak lepas menatap sang keponakan yang baru tiba di depannya.
Seperti biasa, Dendi selalu menghadapi masalahnya dengan sikap tenang. “Banyak penelitian, Tan. Lagi pula sekarang Laurent sudah nggak ada. Jadi semua keteteran Dendi kerjakan sendirian.” jelas pria itu tak ada yang ia tutupi.
Mawar memutar matanya malas. “Keluarganya itu bahkan tadi kemari. Sampai tidak tahu deh sekarang, apa ayahnya itu masih hidup atau tidak? Benar-benar menyebalkan.” gerutu Mawar yang melampiaskan amarah pada sang keponakan.
Dan tentu Dendi menyambutnya dengan wajah yang terkejut pula. “Maksud Tante? Ayah Laurent kenapa? Apa yang terjadi, Tan?” tanyanya panik.
Wandi yang melihat sang istri enggan menjawab, segera memberi tahu sang keponakan. “Mereka mencari Laurent, bahkan sampai ayahnya di larikan ke rumah sakit karena kembali kambuh. Den, beritahu Laurent. Biar keluarganya itu terus mendesak kami.”
Dendi pun menganggukkan kepalanya. Bukannya menghubungi lewat telepon, malam itu juga Dendi sudah keluar lagi dari rumah megah sang keluarga. Ia takut jika terjadi sesuatu pada Laurent kalau pergi sendirian malam seperti ini.
Di sisi yang berbeda, gadis masih dengan piyama yang sedari pagi ia gunakan itu kini tampak mengusap peluh yang bercucuran di kening. Kedua tangannya terus bergerak merapikan banyaknya pakaian dari para teman-teman seapartemennya.
Dering ponsel pun seketika mengejutkan ia dari kesibukannya. “Pak Dendi? Ada apa yah?” batin Laurent.
Segera tangannya menggeser layar ponsel itu dan menempelkannya di telinga. “Iya, Pak?”
“Kamu dari mana saja, Lau? Saya sudah berkali-kali membunyikan bel apartemenmu. Cepat buka pintunya. Ada hal penting.” serang Dendi dengan ucapan panjang tanpa memberi waktu Laurent bicara.
__ADS_1
Sambungan telepon segera terputus. Laurent mematikan setrika dan mengemasi pakaian yang sudah rapi.
“Untung saja sudah selesai.”
Pintu apartemen di sebelah kiri dari dua jarak apartemen itu terbuka. Mata Dendi menatap heran. Ia menatap kembali pintu di hadapannya, demi memastikan ia tidak salah kamar.
“Ada apa yah, Pak?” Laurent berlari kecil sembari tersenyum polos.
“Kamu pindah apartement?” tanya Dendi heran.
Laurent menggeleng. “Lagi ngobrol sama temen, Pak…” Ucapan gadis itu menggantung kala seorang gadis memanggil namanya dan berjalan mendekat.
“Main pergi aja, Lau. Ini, makasih yah udah bantuin nyuci sama nyetrika. Kalau nggak ada kamu, pasti aku tetap nyetrika meski sudah Laundry.” Ucapan yang jelas membuat Dendi bisa memastikan apa yang Laurent kerjakan di kamar temannya tadi.
Seperginya temannya itu, Dendi kembali ingat pada tujuannya kemari.
“Ayo siap-siap. Kita pergi.” ucap Dendi.
“Kemana, Pak?” Laurent bingung.
“Ayah kamu masuk rumah sakit kata Tante saya.” jawab Dendi. Dan bisa ia pastikan jika wajah lelah Laurent akan berubah menjadi sedih dan khawatir.
__ADS_1
“Apa? Bapak serius? Bagaimana bisa, Pak?” tanya Laurent syok.
“Sudah, kita tidak ada waktu. Cepatlah. Saya akan antar kamu.”
Laurent bergegas ke apartemennya mengambil tas dan segera menutup apartement itu kembali. Ia pergi bersama Dendi menuju rumah sakit terdekat dari kediaman sang Tante.
Dendi yakin, ayah Laurent pasti di tangani di rumah sakit yang tidak jauh dari lokasi tersebut.
Jika Dendi dan Laurent tengah dalam perjalanan, berbeda dengan sosok pria tampan yang tengah menikmati wine di dalam ruang kerjanya malam itu.
“Aku sangat suka gadis itu…” batin Kenzo mengingat kejadian siang tadi. Dimana Laurent berada bersamanya di ruangan miliknya menghabiskan waktu sepanjang malam.
“Tapi itu tidak mungkin. Dia masih terlalu kecil. Sedang usiaku saat ini sudah mapan untuk menikah. Aku menginginkan pernikahan yang hangat. Bukan ketakutan dengan usiaku yang tua sedangkan istriku masih muda. Hah…sampai saat ini begitu sulit mencari yang pas di hatiku.” Kenzo menunduk.
Meski selama ini ia begitu serius dalam pekerjaan, tapi hatinya sudah sering gelisah. Ia menginginkan kehidupan yang sempurna. Kehadiran seorang anak.
Senyuman di wajah Kenzo tiba-tiba saja terbit kala membayangkan akan memiliki anak.
Jika di sini, pria tampan itu begitu ingin kehadiran malaikat kecil. Berbeda halnya dengan lelaki yang bahkan sudah di karuniakan malaikat kecil itu.
Di tempat yang berbeda, Raul yang tengah berbaring di kamarnya seorang diri hanya menatap hampa langit-langit kamar. Hidupnya benar-benar tak ada tujuan saat ini.
__ADS_1
“Aku mohon…segera sembuhkan cacatku ini. Aku tidak sanggup seperti ini terus.” ia menangis dalam diamnya. Hanya air mata yang bisa bergerak bebas turun dari kedua kelopak mata pria itu.