
Perkenalan tokoh:
Hai! Perkenalkan, namaku Rinjani. Tapi teman-temanku biasanya memanggilku Riri. Aku adalah seorang gadis yang populer dan banyak teman. Juga berprestasi secara akademik dan non akademik. Ya, karena gelarku sebagai Bintang Pelajar, semua orang berkeinginan menjadi temanku. Selayaknya remaja pada umumnya, aku senang mempunyai banyak teman. Meskipun aku tak pernah tahu, apakah mereka tulus berteman denganku atau sekedar membutuhkan bantuanku untuk mengerjakan PR ataupun memberikan contekan saat ulangan.
Diantara banyak temanku, ada beberapa yang istimewa. Mereka adalah Nina, Ayudya, Harry dan Kurnia.
Nina adalah teman sebangkuku sejak aku kelas 10. Dia gadis berhijab yang sangat ramah dan santun. Keadaannya tak berbeda jauh denganku. Kami sama-sama tinggal bersama kakek dan nenek kami. Rasa senasib membuat kami saling berempati. Hubungan kami sangat deket, bagaikan saudara kandung.
Ayudya adalah teman sekelasku ketika kelas 11. Dia seorang gadis yang cantik dan baik hati. Ayudya anak yang sederhana, meskipun dia anak orang berada. Meskipun keadaannya demikian, dia tidak pernah sombong dan membeda-bedakan teman.
Harry adalah temanku sejak hari pertama aku masuk sekolah ini. Dia cowok yang baik hati, ramah, pintar, jago olahraga juga aktif dalam berorganisasi. Dia cowok paling disukai di sekolah kami. Tapi sayang, dia playboy. Kami berteman baik karena kami sama-sama bergabung dalam beberapa ekstrakurikuler yang sama. Kami baru sekelas di kelas 12.
Kurnia adalah teman sebangku Harry di kelas 12 ini. Aku baru mengenalnya di kelas 11 sebagai Komandan PMR. Dia tipe cowok yang baik hati, dewasa, pintar, bijaksana juga setia. Kami menjadi sahabat karena kami berpandangan sama dalam beberapa hal.
...
Bug!
Kulempar tasku di atas meja, begitu aku sampai di kelasku. Kelas 12 IPA 1. Aku lalu duduk di bangkuku sendiri. Baris paling depan, tepat di depan meja guru.
Tiba-tiba dua cowok yang sedang mengobrol di ujung kelas langsung berlarian ke arahku.
__ADS_1
Mereka adalah Kurnia dan Harry, sahabatku.
"Kamu abis nolak Ridwan ya, Ri?" tanpa basa-basi, Kurnia langsung menyemburku.
"Iiiihhh.. biasa aja kali ngomongnya. Ludahmu tuh!!" aku sewot. "Iya, emang kenapa?"
"Kamu sebenernya normal nggak sih, Ri? Kurang apa coba si Ridwan. Dia atlet beladiri, ganteng, tinggi, cowok bangetlah pokoknya. Dia kan bisa ngelindungin kamu," Kurnia masih aja nyerocos dengan kecepatan cahaya.
"Enak aja," makiku. "Ya aku normal, lah. Aku cewek tulen, suka sama cowok. Emangnya aku apaan. Lagian aku nggak butuh cowok buat ngelindungin aku. Aku bisa ngelindungin diri sendiri."
"Lha terus kalo kamu normal, kenapa tu cowok-cowok ditolak semua? Minggu kemaren kamu ditembak sama Deni kan di green house, ditolak juga. Terus siapa tuh Har, yang anak Paskibra itu? Ditolak juga. Kami tuh sebagai sahabatmu khawatir kali Non, takut kamu nggak normal."
"Nggak sopan!" umpatku sambil memukul bahu Kurnia sekuat tenaga sampai dia mengaduh.
"Bukannya dia nggak normal, Kur, cuma orang yang dia harapkan nggak ngeliriknya sama sekali," Harry tertawa mengejek.
"Emang ada?" tanya Kurnia.
"Ada! Dia seleranya aneh. Maunya sama si Harry Potter," sekarang Harry yang menyeletuk.
"Hehhh!!" aku langsung berteriak tertahan.
__ADS_1
"Tuh benerkan...," ujarnya lagi.
Kudaratkan cubitan di pahanya yang kebetulan duduk di sebelahku.
"Awww!!" jeritnya. "Sakit tau!!"
"Harry Potter siapa? Kok aku ga tau, sih?" Kurnia mulai kepo.
"Itu tetangga sebelah. Si Ahmad, temen Rohis kita," ember banget ni bocah. Kubonusi cubitannya sekali lagi.
"Awww!" sekali lagi dia menjerit kesakitan. Kupastikan kali ini pasti berbekas di pahanya.
Aku melotot galak.
"Dia konyol banget tau kalo udah ketemu Ahmad.
Lo pernah liat Riri tiba-tiba oon? Lola alias loading lama? Ya begitu itu. Kemaren ini, dia nanyain gimana caranya cari info tentang Prambanan. Lha si Ahmad bilang cari aja di Google. Trus dia nih, sobat lo ini, cuma ngangguk-angguk mengiyakan. Semua orang juga udah tau kale kalo nyari apa-apa di Google. Ni sobat lo bener-bener nggak keliatan pinter-pinternya. Ri, kalo soal pelajaran kamu memang nomor satu, tapi kalo soal cinta, kamu nol besar," Harry terbahak sampai hampir terjatuh dari kursi.
Aku merasa wajahku panas dan memerah. Antara marah dan malu. Kesal sekali rasanya sama temen koplakku yang satu ini. Tapi aku akui, apa yang dia ceritakan benar adanya. Akhirnya aku langsung berdiri dan memilih pergi begitu saja dari situ.
"Ri, Riri! Jangan marah dong!" Harry berteriak memanggilku.
__ADS_1
Tidak kupedulikan panggilannya. Dia benar-benar membuka semua kartuku, dan membuatku malu.
"Awas kau ya," gumamku dalam hati. Tapi, bagaimana anak itu bisa tau tentang aku dan sang Harry Potter? Rasanya aku tidak pernah melihatnya ketika aku mengobrol dengan Ahmad. Atau benar kata Harry, kalo aku dekat dengan Ahmad, aku tiba-tiba oon? Apa pun alasannya, aku marah sama kamu, Harry!