DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
Raport


__ADS_3

"Kamu..!!" teriakku.


Kuusap dahiku yang berdenyut.


Di depanku, Harry melakukan hal yang sama.


"Ngapain sih kamu pegang-pegang!" seruku kesal.


"Untung nggak aku langsung patahin tanganmu!"


Kulempar tangannya yang masih kucekal.


"Aku cuma mau liat kamu lagi tidur doang," bantah Harry. "Aku nggak ngapa-ngapain ko."


"Trus kenapa pegang-pegang pipi aku?"


"Aku cuma mengagumimu," katanya sambil tersenyum nakal.


"Gombal! Nggak ngaruh buat aku," aku berdiri.


"Hush.. sana.. sana keluar. Nanti ada yang liat dikira kita macem-macem lagi." Kudorong tubuhnya keluar pintu.


"Jam berapa ini?" aku mengangkat pergelangan tangan kiriku.


"Hah.. jam 11? Ya ampun aku kebablasan," teriakku panik.


"Huu.. telat..," ujar Harry mencemooh.


"Kamu dateng dari jam berapa?" tanyaku pada Harry.


"Dari jam 9 lah."


"Trus kenapa nggak bangunin aku?" aku melipat kedua tangan di dada.


"Nonaku, Sayangku, Cintaku, Bidadariku, coba tolong dicek ada berapa misscall dariku untukmu, Manis..," katanya gereget.


Aku buru-buru mencari keberadaan benda pipih itu. Ketika kucoba menghidupkannya, ternyata benda itu kehabisan daya. Mati. Aku baru ingat, sejak mulai acara diklat kemarin, aku tidak memegang gawaiku itu sama sekali.


"Hehe.. mati," aku cuma nyengir.


"Kebiasaan," katanya pendek.


"Jawabannya cuma 'hehe' doang. Kamu nggak tau betapa aku khawatir sama kamu dari tadi malem. Ditelponin ga diangkat. Di WA ga dibaca. Tadi pagi aku telpon nggak aktif. Untung aku telpon Kurnia, dia udah di rumah. Kamu malah tidur disini," cerocosnya nggak berhenti.


"Iya.. iya.. maaf... Aku akuin, aku yang salah," kataku serius.


"Aku tuh tadi setengah sepuluh udah kesini. Tapi kayaknya kamu capek banget, makanya nggak aku bangunin. Ini Besas nya udah beres kamunya masih tidur juga. Kamu tadi malem begadang ya?" tebaknya.


"Iya," akuku.


"Ya udah yuk, aku anter pulang. Jangan tidur disini. Masa Slepping Beauty tidur di sanggar, mana pake PDL, pake boot juga," katanya melihatku dari atas ke bawah.


"Mulai.. modus.. modus.. ga mempan," kuputar mataku malas.


Diambilnya ranselku. Digendongnya dan dibawanya pergi.


"Har, tunggu. Aku kunci ini dulu," kataku.


Dia tidak mendengarkanku.


"Har..," aku berlari di lorong berusaha menyusulnya yang sudah pergi entah kemana.


Hari Minggu sekolah ramai, karena banyak ekskul yang berlatih pada hari Minggu.


Aku berbelok, dan betapa terkejutnya aku.. Aku hampir saja menabrak Ahmad!


"Sorry.. sorry.. aku buru-buru jadi nggak liat jalan," kataku.


"Nggak pa pa.. aku juga salah, ga liat ke depan," katanya. "Kamu nggak pa pa kan?"


"Nggak, kaget aja," jawabku.


"Abis latihan?" tanya Ahmad. Dia menelisik penampilanku.


"Nggak, abis diklat sekalian sartijab," jawabku.


"Ri..,"


Belum sempat Ahmad meneruskan obrolan kami, seseorang memotong pembicaraan ini.


"Pantes aja ditungguin di depan nggak nyampe-nyampe. Rupanya nyangkut disini," sindir Harry. Dia datang masih dengan menggendong ranselku.


"A.. a-ku..."

__ADS_1


"Udah ayok," ditariknya tanganku. "Kami duluan, Mad," pamitnya sambil berlalu tanpa menengok lagi pada Ahmad.


"Har..," panggilku.


"Udah aku bilang, cukup lihat ke arahku. Jangan liat ke arah lain," katanya tanpa menoleh kepadaku.


"Aku hampir nabrak dia, karena aku mau ngejar kamu," kucoba memberi penjelasan.


Dia berhenti. Dia memutar tubuhnya menghadap ke arahku.


"Aku akan memenuhi hatimu sampai tidak ada celah untuk orang lain," katanya dengan sorot mata serius.


Blush.. pipiku memanas.


...


Hubunganku dan Harry terlihat biasa saja, tanpa ada yang mengetahui perubahan status kami.


Bahkan Kurnia yang selalu bersama kami tak menyadarinya.


Hanya pada Ayudya dia mengatakan yang sebenarnya.


Dan bisa kutebak, Ayu tidak mau lagi mengobrol denganku. Meskipun beberapa kali aku mencoba memulai pembicaraan dengannya, pada akhirnya dia meninggalkanku.


Aku berusaha berfikiran positif dan lebih mengurusi urusanku sendiri.


Aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar bersama teman-temanku.


Dan hari ini adalah hari pembagian raport semester 1. Seperti biasa, raport harus diambil oleh orang tua. Karena banyak yang harus dibicarakan pihak sekolah pada para Wali Murid.


Ruang kelas sudah penuh dengan para orang tua. Dan kami, para murid berkerumun di depan pintu.


"Ri, diambil sama siapa?" tanya Asti.


"Sama Kakakku," jawabku.


"Kalo Riri sih sama siapa aja ngambilnya juga pasti bangga yang ngambil. Lha kalo aku, Mama sama Papa aku saling tuding disuruh ambil raportku. Nggak ada yang mau ambil. Belum lagi tar pulang pasti dimarahin," kata Ratih.


"Nggak segitunya juga kali, Tih," kataku.


"Beneran, Ri. Kamu nggak tau sih aku di rumah gimana," katanya lagi. "Mama Papa kerjaannya ngomelin aku melulu. Coba kalo aku kayak kamu."


"Aku mau kok tukeran sama kamu. Kamu jadi aku, aku jadi kamu. Dan itu berarti lengkap sama Mama Papa sama kakak dan adik kamu. Mau?" kataku datar.


Ratih langsung terdiam. Sepertinya dia sedang berfikir.


Ratih langsung menunduk. Beberapa orang yang mendengarkan percakapan kami pun tidak ada lagi yang bersuara.


Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang menggenggam tanganku diantara kerumunan ini.


Dan aku langsung menyadari ada Harry di belakangku.


Aku tahu, dia berusaha memberiku kekuatan atas apa yang aku katakan sendiri.


"Dan, inilah siswa siswi terbaik di kelas kita," akhirnya Bu Neni menberikan isyarat agar kami yang diluar tenang.


"Rinjani Azzahra. Sini, Sayang..," panggil Bu Neni.


Harry melepaskan genggamannya. Aku masuk ke kelas dan berdiri di depan para orang tua.


"Sepertinya Riri nggak bosen ya, ada di posisi ini," canda Bu Neni.


"Silakan Bapak Ibu, siapa tau ada yang berniat menjadikannya calon mantu."


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak itu tertawa sambil bercakap-cakap, sedangkan teman-temanku di luar berteriak-teriak dengan histeris.


"Lamarin buat Zaky, Ma," Zaky berteriak dengan kencang.


"Buat aku aja," teriak Langit.


"Ma, jangan keduluan. Lamarin buat Deni. Bibit unggul, Ma," teriakan Deni disambut teriakan lain yang lebih riuh.


Aku hanya tertawa kecil melihat kelakuan teman-temanku.


Kulirik wajah Harry yang merah padam. Entah malu, entah marah.


"Ya, sudah-sudah.. Kalo kalian mau sama Riri, sebaiknya belajar lebih rajin dari sekarang. Belajar yang bener, kuliah yang bener, baru lamar Riri, ya. Kalo kalian masih kayak gini Riri juga nggak mau sama kalian," sahut Bu Neni disambut 'huhhhh' dari murid-muridnya.


"Ya, next. Peringkat berikutnya Rizaldy Jauharry.. Ayo, Harry mana sini..," panggil Bu Neni.


Harry juga memasuki ruang kelas. Aku bergeser. Dia berdiri di sampingku.


"Kalo Harry gimana, Bu, boleh dilamar juga?" teriak Mayang dari luar.

__ADS_1


"Nggak bisa kalau yang ini. Masa cowok yang dilamar," kata Bu Neni. "Tapi biar adil, biar Ibu tanya dulu. Harry, mau dilamar?"


Teriakan teman-temanku makin menggila. Disusul suitan-suitan nggak jelas.


"Nggak, Bu. Saya nggak mau dilamar. Saya maunya melamar."


Tidak hanya teman-temanku yang tertawa, para orang tua pun ikut tertawa.


Dan aku hanya bisa mengulum senyum.


"Sudah.. sudah.. ini ada satu lagi. Di peringkat ketiga ada Ziandru Kurnia. Sini Kurnia," panggil Bu Neni.


Kurnia bergabung bersama aku dan Harry. Kami toss bertiga.


"Wah, ini kayaknya tiga-tiganya soulmate nih. Tuh liat anak-anak, kalau bergaul tuh sama temen-temen yang baik juga, biar tertular yang baiknya," kata Bu Neni sambil merangkulku.


...


Pembagian raport kali ini adalah yang terakhir. Karena semester depan adalah kelulusan.


Ada senang juga haru, mendapat predikat Bintang Pelajar lagi. Dengan begitu aku mendapat beasiswa lagi. Aku benar-benar membutuhkannya agar tidak lebih membebani Kakak dan keluarga besarku.


"Hai, Ri, gimana raportmu?" Pak Zein menyapaku ketika aku dan Harry berpapasan dengannya di depan perpustakaan.


"Bagus, Pak," jawabku sambil mencium punggung tangannya takzim.


Harry pun melakukan hal yang sama.


"Harry juga, bagus?" tanya Pak Zein.


"Bagus, Pak. Tapi tetep nggak bisa ngalahin Riri," jawab Harry sambil melirikku.


"Sudah Bapak duga," Pak Zein mengeluarkan sebatang coklat.


"Nih, buat kamu. Congratulation ya, Cantik," kata Pak Zein.


"Wah.. makasih Pak!" seruku sambil mengambil coklat yang disodorkan Pak Zein.


"Buat Harry lain kali ya, soalnya Bapak cuma bawa satu," kata Pak Zein sambil merangkul bahu Harry.


"Nggak usah, Pak. Makasih. Saya kurang suka yang manis-manis," jawab Harry.


"Pak, ini saya bawakan Bapak sesuatu," aku membuka tasku.


"Wah, Bapak dapet hadiah juga?" tanyanya girang.


"Bukan buat Bapak, buat istri Bapak," kataku sambil menyodorkan dua buah kotak pada Pak Zein.


"Apa ini?" dibukanya kotak-kotak itu. "Bros?"


"Iya, saya bikin sendiri," kataku.


"Ini? Bikin sendiri?" Pak Zein menggeleng-gelengkan kepala. "Ri, apa sih yang kamu nggak bisa?" tanyanya dengan wajah frustasi.


"Bapak jangan terlalu tinggi menilai saya, Pak. Saya nggak bisa masak," kataku jujur. "Iya kan, Har?"


"Iya, Pak. Riri cuma bisa bikin nasi goreng sama sayur sop," kata Harry polos.


Pak Zein tertawa," Setidaknya kamu bisa nyalain kompor."


Aku dan Harry pun ikut tertawa.


"Makasih yah." Pak Zein menatapku sendu.


"Sini deh, Pak," kutarik tangan Pak Zein menjauh dari Harry.


"Nanti ya, Bapak taruh aja di atas kasur. Nggak usah bilang apa-apa. Kalo ibu nanya, baru jawab. Bilang aja Bapak yang beli. Jangan bilang dikasi sama saya. Cewek itu suka Pak, dikasih accesories sama barang-barang yang lucu," bisikku pada pak Zein.


Pak Zein tertawa lagi.


"Sok tau kamu," katanya.


"Tau dong, Pak, kan saya cewek juga. Bapak lupa ya?" candaku.


Pak Zein mengacak rambutku.


"Makasih ya," ujarnya sambil tersenyum.


"Semoga sukses ya, Pak" kataku.


Pak Zein melambaikan tangan dan kembali ke ruang guru.


"Ehem.. ehem..," Harry sengaja berdehem.

__ADS_1


Aku menengok ke arahnya.


"Aku butuh penjelasan," katanya dengan tatapan dingin.


__ADS_2