
"Udah dateng, Dokter Rin?" Dokter Elang menyapaku saat kami bertemu di persimpangan poli anak.
"I-iya," aku berusaha menutupi air mata yang masih berbekas di pipi.
Dia menatapku aneh.
Suster Shinta yang mengikuti Dokter Elang mengingatkan bahwa mereka harus bersegera menuju ruang rawat VIP.
"Saya duluan, ya," dia mengangguk dan mempercepat langkahnya menuju ruangan yang dimaksud.
Aku mengangguk dan berjalan ke poli umum.
Pagi ini hatiku rasanya tidak karuan. Apa yang baru saja terjadi? Hanya pertemuan yang tidak disengaja dengan seseorang dari masa lalu. Lalu kenapa aku harus menangis? Dan kata rindunya...?
Aku benar-benar harus berkonsentrasi penuh agar pekerjaanku berjalan dengan lancar. Itu gunanya bersikap profesional, tidak mencampurkan hati dan logika.
Akhirnya jam praktekku berakhir, semua berjalan seperti yang seharusnya.
Jam dinding di ruanganku menunjukkan pukul 13.05 WIB. Oh tidak! Aku terlambat untuk janji makan siangku dengan Ahmad.
Segera kuketikkan sebuah pesan.
[Aku makan di luar sama temen SMA] terkirim.
Sebuah pesan jawaban segera masuk ke gawaiku.
[Ya, hati-hati di jalan]
Segera kutekan tombol panggilan atas nama Ahmad.
"Assalamu 'alaikum," sapa Ahmad setelah beberapa detik aku menunggu.
"Wa 'alaikum salam, Mad. Maaf aku terlambat. Kamu lagi dimana?" tanyaku to the point.
"Aku nunggu di depan apotek, Ri," jawabnya.
"Oke, aku langsung kesana, ya."
"Oke, aku tunggu. Assalamu 'alaikum," dimatikannya panggilanku.
"Wa 'alaikum salam," aku masih menjawabnya.
Kusampirkan jas dokterku di punggung kursi putar. Kuambil tasku dan bergegas pergi ke arah apotek.
Mataku menyapu kursi tunggu di depan apotek. Hanya ada beberapa orang yang duduk di sana. Dan kulihat dia, orang yang kumaksud, duduk di kursi paling belakang.
Aku berjalan mendekatinya. Dan secara kebetulan orang itu menoleh ke arahku. Dia tersenyum lebar. Aku pun membalas senyumnya. Waktu sembilan tahun tidak mengubahnya sama sekali. Dia terlihat sama seperti terakhir kami bertemu. Hanya sedikit lebih kurus.
Ahmad langsung berdiri menyongsongku. Aku menghentikan langkah beberapa meter di depannya.
"Ri," panggilnya tertahan. Dia tetap membuka mulut tapi tak ada kata apa pun yang keluar dari mulutnya.
Dia malah mengeleng-gelengkan kepala seraya bergumam, "Aku nggak percaya ini."
"Kamu kenapa, Mad?" tanyaku sambil melangkah lebih maju.
__ADS_1
"Aku ngerasa mimpi ketemu lagi sama kamu, Ri. Kamu keliatan ...."
"Apa sih?" aku jadi bingung melihatnya begini.
"Maksudmu kamu terpesona, gitu?" tanyaku GR.
"Dari dulu kamu selalu mempesona," katanya membuat rasaku melambung.
"Kamu bisa aja. Semua cewek pasti digombalin gitu," aku berjalan semakin mendekat kepadanya.
"Yuk, makan siang dulu. Nanti kita terusin ngegombalnya."
Ahmad tertawa dan menghampiriku.
Tapi tiba-tiba mataku terkunci pada seseorang yang berdiri di depan pengambilan obat. Orang itu pun melihat ke arahku.
Ahmad yang menyadari aku melihat ke arah lain, ikut memindahkan pandangannya ke arah yang kulihat.
"Harry?" Mimik mukanya langsung berubah.
Bukannya bergegas pergi untuk makan siang, Ahmad malah menghampiri orang itu.
Aku yang jengah langsung berjalan ke arah tempat parkir.
Kubuka pintu mobilku dan segera keluar dari parkiran.
Terdengar lagu Luka Lamanya Coklat yang kujadikan suara panggilan handphoneku dari dalam tas.
Aku menepikan mobilku dan mencari sumber suara itu.
"Wa 'alaikum salam, Ri. Kamu dimana?"
"Di jalan. Aku lagi cari tempat makan. Nanti kalo udah dapet aku sharelock," kataku malas.
"Kamu mau ke arah mana?" tanyanya dengan nada tidak nyaman.
"Daerah Trunojoyo," jawabku singkat.
"Aku nyusul," Ahmad langsung mematikan panggilannya.
"Wa 'alaikum salam, Mad," sindirku. Sepertinya dia lupa mengucapkan salam.
Aku memarkirkan mobilku di sebuah kafe di daerah Trunojoyo.
Kupesan segelas lemon tea untuk menghilangkan rasa panas di tenggorokan juga di hatiku. Juga segelas lagi untuk Ahmad.
Kulihat sebuah mobil diparkirkan di samping mobilku. Sopirnya langsung masuk dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kafe. Aku yang memilih tempat duduk di no smoking area, melambaikan tangan agar orang itu melihatku.
"Maaf, Ri. Aku nggak bermaksud ...."
"Minum dulu, Mad," kudorong gelas berisi lemon tea itu agar lebih dekat dengannya.
Ahmad menurut. Dia menyeruput teh dingin itu.
"Oke, sekarang ngomong," kataku mempersilakan.
__ADS_1
"Aku.. aku nggak tau harus ngomong apa sama kamu."
"Lho kok?" tanyaku heran.
"Tadinya aku membayangkan ketemu kamu, terus kita makan siang bareng, bercerita banyak hal, ya gitu deh," kata sang Harry Potter sambil menunduk.
"Kita kan udah ngelakuin itu."
"Iya, dan aku ngerusaknya diawal," sahutnya.
"Udahlah, Mad, nggak usah dibahas," kataku. "Mending kamu pesen makanan aja. Tadi aku belom pesen, nunggu kamu. Takut kamu nggak suka apa yang aku pesen."
Ahmad segera memanggil seorang waiter, memesan seporsi spaghetti bolognese untuknya, dan seporsi chicken cordonbleu untukku.
"Masih suka, 'kan?" tanyanya sambil menunjuk chicken cordonbleu yang dia pesankan.
"Of course. Kamu masih inget, Mad?"
"Aku inget semua tentangmu, Ri," katanya sambil menatapku sendu.
"Ehm, jadi apa yang kamu kerjain selama tiga tahun terakhir ini?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Pasalnya tiga tahun terakhir ini aku hilang kontak dengannya.
"Nyariin kamu."
"Jangan bodoh. Kamu cuma ngabisin waktu," kataku sambil tersenyum smirk.
"Aku serius. Aku nyariin kamu. Makanya waktu kamu ngehubungiku lagi beberapa bulan lalu, aku seneng banget."
"Maaf, handphoneku ilang. Begitu aku urusin nomornya, aku dikirim ke daerah pelosok yang jangankan sinyal, kendaraan aja susah masuk," jelasku.
"Pantesan. Aku pikir kamu udah nggak mau kenal lagi sama aku," ujarnya sambil memainkan garpu di piringnya.
"Ya nggak lah, Mad. Kamu tau sendiri aku gimana. Lagian buat aku, kamu itu salah satu sahabat terbaikku. Nggak ada alasan buat aku memutuskan persahabatan kita," kataku tulus.
"Apakah posisiku mentok disitu, Ri?"
"Ahmad, kita udah sering banget ngomongin ini. Apa aku harus terus ngulangin semua yang pernah aku bilang?"
Kadang aku sering bertanya dalam hati, kenapa Ahmad begitu berniat mengubah status kami? Dia seolah-olah terkunci dalam masa lalu dan gagal move on dari sana. Sedangkan hidup terus berjalan. Bahkan aku bisa bilang, dulu aku menyukainya hanya sekedar cinta monyet. Dan kadang aku menertawakan kekonyolanku waktu itu.
"Aku bukan orang yang pantas kamu tunggu, Mad. Kamu bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku. Kenapa kamu menghabiskan waktumu percuma?"
"Nggak ada yang percuma buat kamu, Ri. Dari dulu aku udah berusaha membuka hati buat perempuan lain, tapi tetep aja cuma ada kamu di hati dan pikiranku."
"Kenapa? Bukannya dulu kamu nggak punya hati sama aku?" akhirnya terlontar juga pertanyaan itu.
"Iya, dulu aku nggak pernah merhatiin kamu. Sama seperti orang lain, aku cuma mengagumimu. Namun sejak Harry bilang kamu berusaha mendapatkan piala olimpiade biologi itu untukku, aku baru sadar kalo kamu memperhatikanku lebih dari yang lain."
"Tapi itu kan cuma cinta monyet, Mad," aku berusaha menyadarkannya dari khayalan yang terlalu tinggi.
"Aku nggak mau kamu terlalu berharap."
"Kenapa?"
Sulit sekali menjelaskan tentang hati padanya. Bertahun-tahun masih terus membahas hal yang sama. Seandainya dulu aku tahu betapa keras kepalanya dia, apa aku juga akan tetap akan menyukainya?
__ADS_1
Aku menghela napas panjang. "Karena aku akan menikah dengan orang lain."