DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
Kena kamu


__ADS_3

Beberapa hari ini kulalui dengan wajar.


Tak adaintermezzo yang memaksa jantungku bekerja lebih keras.


"Ri..," panggil Kurnia.


"Hemm.. apa?" jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari soal fisika yang masih kuhitung.


Dia pindah dari bangkunya ke samping bangkuku yang kosong karena pemiliknya sudah berlari ke kantin sejak tadi.


"Soal yang waktu itu. Gimana menurut kamu?"


"Soal apa? Diklat?"


"Bukan.. itu lho, yang waktu itu. Soal.. Fitri," suaranya sangat lirih, nyaris berbisik.


"Biasa aja kale.. ga usah bisik-bisik. Cowok suka cewek tuh wajar. Asal jangan cowok suka cowok aja," ucapku santai.


"Ih, amit-amit," serunya.


"Aku blom ketemu lagi sama Fitri," kataku jujur.


"Nanti aja pas hari Kamis, kan ada latihan tuh, kamu tinggal bilang aja," saranku.


"Tapi kamu tungguin ya," pintanya.


"Eleh buset, kamu sama preman-preman aja berani, sama uler berani, nginep di gunung malem-malem berani. Ini mau ketemu cewe anak kelas 10 kamu takut?" sindirku.


"Bukannya gitu, takut jadi fitnah aja," elaknya.


"Iya.. iya..."


"Ri..."


"Apalagi?" kali ini kuletakkan pulpenku dan langsung menghadapinya.


"Bakal ditolak ga ya?" tanyanya.


Aku langsung tertawa terpingkal-pingkal.


Dijitaknya kepalaku pelan.


"Mana ku tau. Ya tanya aja sama orangnya," kataku setelah mengusap ujung mataku yang berair.


"Kamu tanyain dong," pintanya memelas.


"Aduh ampuuuunn.. Om," kutepuk dahiku sendiri.


"Maksudnya kamu serempet-serempetlah nama aku, trus liat reaksinya gimana," katanya.


"Serempet-serempet.. tabrak aja langsung," gerutuku. Tapi tiba-tiba aku ingat kejadian dengan Pak Zein kemarin ini.


"Om.. segitunya takut ditolak ya?" tanyaku.


"Bukan masalah ditolaknya, tapi..," kata-katanya menggantung.


"Kenapa? Takut efeknya ya?"


"Kalo dia nolak, dia pasti ngejauhin aku. Pasti ga nyaman kalo ada orang yang pernah kita sakiti ada di sekitar kita," katanya.


Ya itu yang Fitri rasain sama Harry.


Eh jadi inget sama makhluk satu itu.


"Om, kamu cerita ga sama Harry soal ini?" tanyaku pelan.


"Iya, aku bilang."

__ADS_1


"Trus dia bilang apa?" tanyaku lagi.


"Dia cuma bilang maju aja, kalo ga bilang ya ga akan tau jawabannya gimana. Dia bilang cinta butuh perjuangan."


"Huekk..," aku meniru orang muntah.


"Perjuangan apaan. Yang ada cewek-cewek yang ngemis cinta dia yang berjuang," aku mengeleng-gelengkan kepalaku.


"Kayaknya aku harus sering-sering ngobrol sama Harry soal cewek," ujar Kurnia.


"No!! Jangan pernah lakukan. Nanti otak dan hati kamu ikut terkontaminasi kayak dia," kataku.


"Dia ga seburuk itu kali, Ri," bela Kurnia


"Terserah. Tapi saranku, ga usah! Biar aku aja yang nanya sama Fitri gimana perasaannya sama kamu," akhirnya aku mengalah.


"Tapi Om.. aku cuma nanya doang ya, jangan marah," aku melirik ke arahnya.


"Kalo dia nerima kamu, kamu beneran bakal jadiin dia the one and only?"


"Maksudnya?"


"Kita kan berprinsip sama nih, soal yang satu ini. Kita maunya yang pertama dan terakhir. Seandainya dia mau jadi pacar kamu, apa kamu yakin dia juga pantas jadi istri kamu suatu saat nanti," tanyaku.


"Kenapa ngga," jawabnya pasti. "Aku juga kan milih cewek juga ga asal comot."


Aku menghembuskan nafas lega.


"Oke kalo gitu. Asal kamu ga berniat mainin dia, pasti aku bantu."


Dan disinilah aku. Depan kelas 10-2, kelas Fitri. Terlalu lemah untuk menolak permintaan si Om.


"Hai Fit..," sapaku.


"Eh, Kakak.. sengaja cari aku?" tanyanya.


"Kakak nanti pulang sekolah kan ada Bengkel Sastra, bisa ga minta tolong kamu buat bantuin siapin peralatan buat besok kita latihan?"


"Peralatan apa Kak? Pertolongan Pertama?"


"Bukan, Tandu Darurat," jawabku.


"Bisa," jawabnya tersenyum.


"Ini kuncinya. Kalo kamu keluar duluan, ke sanggar aja duluan. Nanti Kakak nyusul," jelasku sambil menyerahkan kunci sanggar PMR.


"Iya, Kak," jawabnya.


...


"Nunggu lama?" tanyaku sambil melepas sepatu di depan pintu.


"Ngga ko Kak, aku juga baru masuk," katanya.


Kupasangkan bambu-bambu yang akan dipakai untuk latihan. Sekalian dengan talinya.


Fitri melakukan hal yang sama.


"Fit..."


"Ya, Kak..," dia menengok.


"Inget ga yang waktu itu Kakak obrolin sama kamu?" tanyaku.


"Tentang Kak Harry?"


"Bukan. Eh.. kamu blom move on dari dia?" selidikku.

__ADS_1


"Ngga gitu, Kak. Aku udah ikhlas ko kalo Kak Harry suka sama cewek lain," katanya. "Jadi, maksud Kakak yang mana?"


"Itu lho, tentang cowok yang suka sama kamu."


"Emang waktu itu Kakak serius ngomonginnya?" Fitri tersenyum malu.


Oh.. ternyata ni cewek pikir aku becanda. Pantesan dia ga nelpon, sms ataupun wa nanyain siapa yang suka sama dia.


"Ya serius lah, Fit. Meskipun Kakak bukan tipe cewek yang suka sama pacar-pacaran gitu, tapi Kakak seneng kalo orang-orang yang Kakak sayang bahagia," ucapku.


"So.. pertanyaan pertama, apakah kamu masih suka sama Harry?"


"Kayaknya sih ngga. Mungkin sekarang cukup hanya mengagumi aja. Aku malah pengen Kak Harry berjodoh sama Kakak," dia terkekeh.


Aku memutar mata jengah.


"Pertanyaan kedua, tipe cowok idaman kamu kayak gimana sih?"


"Kayak gimana ya.. Aku suka cowok yang baik, pinter, humoris, kalo bisa lebih tua," dia terlihat berfikir. "Bisa mengayomi gitu."


"Dewasa maksudnya?" tanyaku.


Dia mengangguk.


"Ko kayaknya kamu nyebutin ciri-ciri Kurnia sih?" pancingku.


"Emang Kak Kurnia kayak gitu?"


"Iya, pake banget," pujiku. Kamu harus bayar mahal, Om..


Dia tersipu.


"Eh, kamu inget ga waktu camping yang nolongin kamu siapa?" kulempar lagi umpannya.


"Kak Riri," jawabnya.


"Kakak ga gendong kamu ke pendopo. Kakak cuma bantuin kamu biar sadar." Masih tarik ulur.


Keningnya berkerut. Dia berusaha mengingat sesuatu.


"Kak Kurnia?" tanyanya tak yakin.


"Ya iya lah. Ga mungkin Kak Awan atau Kak Ibas yang gendong kamu. Orang mereka kecil-kecil," sahutku. Maaf teman-teman, bukannya menjelekkan. Ini demi komandanmu.


Dia terlihat berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain. Canggung.


"Jadi.. seandainya Kurnia suka kamu, apa kamu bakal nerima dia? Seandainya lho ya..," aku tersenyum sendiri melihat tingkahnya.


"Eng.. ngga tau ya Kak," jawabnya. Tapi wajahnya bersemu merah.


"Kakak ga mau jawaban ngga tau. Jawab yang tegas, iya atau ngga," desakku.


"Iya, Kak.. aku mau!" jawabnya nyaris berteriak.


Aku tertawa terpingkal-pingkal.


"Kakak i..ih..," dicubitnya lenganku. "Kakak godain aku ya."


"Kamu lucu, Kakak kan nanya doang. Kenapa kamu nge-gas?" kulanjutkan tawaku.


"Emang kamu yakin, Kurnia suka sama kamu? Dia ga pernah pacaran lho sebelumnya. Buat dia, ga ada istilah main-main. Kalo bener dia suka kamu trus pilih kamu, kamu sangat beruntung," kataku dari lubuk hati terdalam.


Fitri menunduk sambil memilin jarinya.


"Udah, jangan baper. Jodoh ga akan kemana," sindirku melihatnya salah tingkah.


"Makasih ya udah bantuin Kakak beres-beres. Kalo ga kamu bantuin, ga akan beres secepat ini," kataku.

__ADS_1


"Sama-sama, Kak," jawabnya masih dengan pipi bersemu merah.


__ADS_2