
[Ri, aku kangen banget sama kamu. Besok aku ke rumah ya..]
Pesan WA dari Harry.
Kangen? Baru juga 2 hari..
[Iya, dateng aja.]
Kuketik cepat.
[Trus kita jalan yuk.]
[Nggak mau, cape kalo jalan.]
[Yaelah, Cantik.. ya pake mobil dong, Sayang..]
[Nggak usah pake sayang-sayang, geli..]
Aku bergidik.
[Iya.. iya.. jadi gimana?]
[Apanya?]
[Ya perginya..]
[Oo.. tinggal izin.]
[Kamu mau kemana?]
[Ko nanya, kan kamu yang ngajakin..]
[Berarti terserah aku ya..]
[Hemm..]
[Ya udah, besok tunggu aku ya.]
[Hemm..]
[Ko jawabannya cuma 'hemm' melulu?]
[Iya.]
[Ya, udah. Good night. Mimpi yang indah ya, mimpiin aku..]
[Har, kalo aku mimpiin kamu berarti aku nggak mimpi indah dong.]
[Kamu ko gitu, sih, Ri. Tinggal bilang 'iya' doang apa susahnya. Nyenengin orang itu dapet pahala. Kamu malah ngehancurin hatiku.]
[Lebay.]
[Biarin. Dah, cepet bobo gih. Biar cepet besok, biar cepet ketemu kamu.]
[Ya.]
Obrolan macam apa ini.
Aku tertawa.
Dia, sahabatku. Orang yang selalu ada di sampingku di saat senang dan susah. Orang yang selalu mendukungku seperti apapun kondisinya. Orang yang selalu menghiburku dikala ku jenuh. Yang selalu menarik tanganku untuk maju. Ya, dia sahabatku.
...
"Kek, Harry mau ajak Riri main dulu ya, boleh?" tanya Harry pada Kakek.
"Boleh, tapi pulangnya jangan sore-sore ya," izin Kakek.
"Dan jagain baik-baik. Kalau berangkat utuh, pulang juga harus utuh," lanjut Nenek.
Aku tertawa mendengar wejangan Nenek.
"Iya, Kek, Nek. Akan Harry jagain pake nyawa Harry sendiri," kata-kata Harry membuatku langsung menghentikan tawa.
Kakek melirik ke arahku.
"Kami pergi dulu ya, Kek, Nek," kuambil tangan keduanya dan kucium penuh cinta.
Harry melakukan hal yang sama.
"Hati-hati di jalan, ya," kata keduanya serempak.
Aku tersenyum dan melambaikan tangan.
"Kok tumben Kak Reza kasih pinjem kamu mobilnya?" tanyaku kepada Harry ketika dia membukakan pintu mobil untukku.
__ADS_1
"Iya dong, tebusannya mahal nih," katanya sambil duduk di belakang kemudi.
Harry setahun lebih tua dariku. Dia sudah punya KTP dan SIM, sedangkan aku masih mengandalkan Kartu Pelajar untuk kemana-mana.
"Kok kamu mau?" selidikku.
"Apa sih yang nggak buat kamu? Aku kan udah pernah bilang, aku akan lakukan apapun asalkan itu bisa bikin kamu bahagia."
"Mulai..," aku memutar bola mataku malas.
Ku pasang sabuk pengamannya.
"Eh.. jangan!!" teriak Harry mengagetkanku.
"Kenapa? Ada apa?"
"Jangan dipasang dulu. Biar aku yang pasang, biar romantis," katanya sambil memamerkan giginya yang rapi.
"Kirain ada apa. Dasar stress,"makiku.
Harry mulai melajukan mobilnya pelahan. Kunyalakan AC nya ke arahku. Kucepol rambutku seperti biasa, hingga tertinggal beberapa helai rambut yang menutupi tengkukku.
"Ri, diurai aja rambutnya. Jangan digituin," kata Harry setelah kulihat dia beberapa kali melirikku.
"Panas, Har. Emang kenapa gitu?"
"Aku nggak suka ada cowok lain yang ngeliatain leher kamu," katanya sambil terus memperhatikan jalan.
Hah? Sebenernya ni bocah kenapa sih? Sejak dia nyatain cinta sampai hari ini entah berapa kali dia melontarkan kalimat-kalimat yang membuatku tak habis pikir. Sesuatu yang biasa sekarang jadi luar biasa.
Akhirnya kuurai lagi rambutku. Kusisir dengan jari agar rapi kembali.
"Jadi, tujuan kita mau kemana?" tanyaku.
"Kita nonton, trus kita makan, baru pulang," kata Harry sambil tersenyum.
Kenapa hari ini dia terlihat begitu tampan. Padahal dandanannya biasa saja. Celana jeans navy dengan kaos putih polos ditimpa dengan kemeja motif kotak kotak biru dan hitam.
Aku memalingkan wajahku keluar jendela. Berusaha agar tidak terlalu terpesona padanya.
"Aku nggak mau nonton ah, bahaya, banyak setannya," kataku masih dengan memalingkan wajah.
"Banyak setannya gimana?"
"Kan kita cuma berdua, pasti banyak setannya. Kalo banyakan sih nggak pa pa. Kenapa kamu nggak ngajakin yang lain?" kataku nyerocos.
"Trus kita mau kemana dong? Kita udah terlanjur jalan ke arah sini."
"Kita jalan-jalan aja di sepanjang Asia Afrika, atau main di alun-alun. Gimana?" saranku.
"Boleh, itung-itung mengenang kembali. Iya, kan?"
"Mengenang apaan?"
"Itu, waktu kita diutus Bu Susi bikin makalah tentang Konferensi Asia Afrika pake bahasa Inggris itu lho. Kan kita disuruh nganterin sendiri ke gedung KAA nya," kata Harry berusaha mengingatkan.
"Emang ada kenangannya, ya?" tanyaku.
"Masa kamu nggak inget? Aku kan megangin tangan kamu terus sepanjang jalan. Kamu jalan di ujung pinggiran trotoar, aku megangin tangan kamu dari jalan," kata Harry.
Aku inget itu. Aku iseng berjinjit di tepi trotoar, menguji keseimbangan. Trus tiba-tiba dia memegangi sebelah tanganku agar aku tidak jatuh. Hanya itu, tidak ada adegan aku jatuh trus dia peluk, apalagi nari-nari India. Sama sekali tidak berkesan.
"Emang itu patut dikenang, ya?" tanyaku.
"Semua moment bareng sama kamu itu patut dikenang, Ri. Sekecil apa pun itu," katanya sambil melirikku sebentar.
Hatiku terasa disiram air es, dingin. Sebegitu kah kamu mencintaiku, Har?
Tak ada percakapan apa pun setelahnya. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Pakai ini..," Harry melepaskan kemejanya saat dia berhasil memarkirkan mobilnya, sehingga dia hanya menggunakan kaos putih polos.
"Kenapa? Aku kan juga pake baju udah bener. Kakek nenekku aja nggak ada yang protes. Kalo aku pake baju seronok, pasti nggak akan diizinin keluar rumah," aku mulai sebal dengan semua aturannya yang berlebihan.
"Iya, aku tau. Aku cuma mau menjaga kamu dari tatapan lapar cowok-cowok di luar sana."
Aku melihat pakaianku sendiri. Kaos lengan pendek, celana jeans robek, sepatu kets dan tas selempang kecil berisi handphone dan dompet. Apa yang salah?
"Ya udah sini," akhirnya kuambil kemeja itu. Kupakai diatas kaosku.
"Panas-panas gini disuruh didouble. Lain kali kalo aku pergi sama kamu, aku mau pake gamis," ujarku kesal.
"Good idea..," kata Harry.
Iih.. ni bocah kenapa jadi posesif begini sih.
__ADS_1
Harry membukakan pintu mobil.
"Silakan, Tuan Putri," dia menunduk hormat.
"Nyebelin," kataku.
"Kamu nggak mau gandeng aku nih?" tanyanya sambil menyodorkan lengannya padaku.
Biasanya aku akan menggandeng siapa pun sahabatku yang berjalan paling dekat denganku. Entah itu Harry, Kurnia, Nina ataupun Ayudya.
Ragu, kuselipkan tanganku di lengan Harry.
Dia tersenyum.
Kami berjalan dengan tangan bertautan. Aneh rasanya. Ada debaran yang tak biasa. Padahal biasanya tak pernah ada rasa apa pun di hatiku.
Kami berjalan di sepanjang Jalan Asia Afrika. Sesekali aku mengambil gambar di salah satu sudutnya.
Termasuk dengan beberapa cosplayer dengan kostum super hero dan para autobot.
"Kamu seneng?" tanya Harry.
"Biasa aja," jawabku.
"Iya, emang susah nyenengin kamu," sahutnya mencibir.
Aku tertawa.
Kami berjalan melewati batu-batu alam di Jalan Braga. Melihat-lihat lukisan indah di sepanjang jalan.
"Eh, kita ke toko home decor favorit kamu yuk," ajak Harry.
"Mo apa? Bahan craft ku masih lengkap," jawabku.
"Udah, kita kesana dulu aja," ditariknya tanganku agar berjalan lebih cepat.
Toko favoritku, berisi berbagai macam barang yang jelas membuat semua cewek betah disana. Tidak hanya home decor, pernak-pernik cantik pun menghiasi berbagai sudut toko itu. Belum lagi berbagai accesories, make up dan fashion yang berada dalam satu tempat, membuatku sering lupa diri.
Harry mengajakku ke salah satu sudut yang memajang berbagai pernak-pernik di lantai 1. Ditunjuknya barisan snowball yang tertata apik di depanku.
"Mau yang mana?" tanyanya.
Aku menatap wajahnya tidak percaya.
"Kamu mau beliin aku?"
"Iya dong, masa aku mau beliin ini buat nenek," kekehnya.
Aku terharu, dia masih ingat apa yang aku inginkan. Padahal sudah lama kami tidak berkunjung kesini.
"Aku mau kamu yang pilih," kataku.
"Nanti nggak sesuai sama mau kamu," ujarnya.
"Aku tau selera kamu tidak seburuk itu," kataku sambil tertawa.
Harry memperhatikan barang-barang itu satu per satu. Dan akhirnya dia mengangkat sebuah snowball berisi boneka clay anak laki-laki dan perempuan sedang berpegangan tangan. Dengan sebuah jungkat jungkit dan bunga-bunga kecil di sekelilingnya. Dan tentu dilengkapi banyak bintang-bintang kecil dan sterofoam sebagai saljunya.
"Baguskan?" katanya sambil tersenyum.
"Ini juga ada lampunya, bisa jadi lampu tidur kalo malem. Dan kalo kamu lagi sedih, tinggal puter aja. Kan ada lagunya," dicobanya skup putar itu dan mengalunlah Symphony no 9 nya Beethoven.
"Kalo aku lagi sedih dengerin musik itu, yang ada bukannya jadi seneng malah tambah deres nangisnya," celotehku.
"Jadi nggak suka?" tanyanya.
"Suka, pake banget," jawabku sambil tersenyum lebar.
Diacaknya rambutku. Dibawanya barang itu ke kassa.
"Eh ini nggak pamrihkan?" tanyaku memastikan.
"Ya nggak lah, segitunya beliin pacar pake pamrih."
"Kali aja..."
"Aku cuman pengen kamu inget aku tiap liat snowball ini," katanya sambil menyerahkan paperbag yang sudah ada di tangannya.
"I love you.." bisiknya.
Aku terdiam.
"Aku nggak bisa jawab, Har. Aku blom tau perasaan aku sama kamu kayak gimana," kataku jujur.
"Nggak pa pa, santuy aja. Nanti juga hati kamu pasti penuh sama namaku," katanya pede.
__ADS_1
Pengen rasanya ngejitak ni cowok kepedean. Tapi aku berusaha menahan diri.
"Thanks ya," akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku.