DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
Masalah


__ADS_3

Aku hanya menghela nafas.


Belum juga apa-apa, udah ada aja masalahnya. Padahal sejak kami jadian aku lebih menjaga jarak dengan Harry. Aku tidak pernah lagi bergelayut manja atau sekedar bersandar di bahunya.


Harry kembali dengan wajah yang sama tidak enak dipandangnya dengan wajah ketika dia pergi.


"Kamu baik-baik aja, Har?" tanyaku agak khawatir.


"Harusnya aku yang nanya begitu sama kamu," katanya. "Apa kamu baik-baik aja?"


"Aku nggak pa pa ko. Jangan khawatir," kataku meyakinkannya.


"Maaf ya, aku nggak tau bakal jadi begini," katanya sendu.


"Udahlah. Nggak pa pa. Lagian sejak kapan aku dengerin kata orang," aku tersenyum.


"Makasih yah," dia menggenggam tanganku.


Tak bisa kupungkiri, perasaanku padanya mulai berubah. Sikap manisnya padaku membuatku merasa disayangi. Genggaman tangannya membuatku tenang.


Semakin hari hubungan kami semakin baik. Kami tidak terlalu memusingkan perkataan orang lain. Kami merasa apa yang kami lakukan tidak melanggar norma apa pun, apalagi merugikan orang lain. Kami buktikan dengan semua prestasi kami baik itu akademik maupun non akademik. Sehingga sekolah masih meminta kami untuk berpasangan dalam beberapa lomba. Hubungan kami tanpa hambatan, malah seolah diberi ruang oleh pihak sekolah agar kami bisa bersama dalam kegiatan di luar sekolah.


Waktu cepat berlalu dan tidak terasa kami sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional. Sebelumnya, kami harus menjalani Ujian Praktek terlebih dahulu.


Seperti hari ini, kami harus melaksanakan ujian praktek Kimia. Entah apa yang harus kami lakukan di dalam sana. Harry menggenggam tanganku erat. Dia tahu aku sedikit gelisah.


"Nggak usah terlalu khawatir, Ri. Nanti kamu gugup malah ga konsen," katanya menenangkan.


"Iya," aku mencoba tersenyum. Tentu saja semua harus berjalan sesuai keinginanku. Aku kan Miss Perfect. Ga boleh ada yang gagal sedikit pun.


Dan benar saja, semua berjalan lancar sesuai inginku. Aku menarik nafas lega.


"Har, kamu dapet surat pemberitahuan kayak gini, nggak?" aku mengeluarkan sebuah surat dari tasku.


"O iya.. kalo kita masuk situ nanti dikasih laptop gratis kan?" tebaknya.


"Iya," jawabku.


"Emang kamu mau masuk situ? Disitukan nggak ada arsitektur?" tanyanya.


"Nggak, bukan itu. Tapi ini..," aku memperlihatkan sebuah surat lainnya.


"Kamu dapet beasiswa kedokteran? Keren banget lho, Sayang," katanya setelah membaca surat yang aku berikan.


"Tapi kan itu di Malang. Jauh banget," kataku.


"Nggak lah, paling kalo dari sini cuma 13 jam pake kereta. Kalo pake pesawat lebih cepet lagi," kata Harry.


"Kenapa? Kamu nggak minat? Kalo aku, pasti langsung aku ambil tanpa mikir panjang."


"Bukannya kamu mau masuk Kelautan?" tanyaku.


"Iya, maunya. Tapi kalau dikasih kesempatan kayak gini, nggak mungkin aku sia-siain."


"Kamu bisa jauh dari aku?" aku tidak sadar mengucapkannya.


Harry diam. Sepertinya dia mulai mengerti. Dia menatapku lama.


"Nggak, aku nggak bisa," katanya akhirnya.


"Udah yuk, aku anter pulang. Besok kan masih ada praktek lagi," katanya sambil menarik tanganku untuk berdiri.


"Har..," panggilku.


Dia berjalan di depanku masih memegang tanganku.


"Ya?" dia menoleh.

__ADS_1


"Jangan tinggalin aku ya," pintaku.


Dia tersenyum.


"Tidak akan pernah."


Kini aku sudah tidak bisa melepas genggamannya. Dia benar, dengan mudah dia memenuhi hatiku dengan namanya. Kata cintanya bagai candu yang membuatku terus menginginkannya lagi dan lagi.


Tatapannya sudah cukup membuatku tenang. Dan kehadirannya di sampingku membuatku optimis akan masa depan.


Ujian Praktek sudah kami lalui dengan lancar. Tanpa hambatan sedikit pun. Yang tersisa adalah Ujian Sekolah dan Ujian Nasional yang akan dilangsungkan 2 minggu lagi.


Aku sedang mengobrol dengan Kurnia dan Dewi saat Harry datang. Kami sedang membahas rencana kami ke depannya.


"Jadi kamu mo kemana, Om?" tanyaku.


"Kayaknya aku mo ambil D3 dulu deh," jawabnya.


"Kok D3, nggak nanggung?" tanyaku lagi.


"Kata ibuku mending D3 dulu. Kalo mau lanjut lagi gampang," katanya.


"Nggak sayang, Kur? Aku yakin kamu bisa masuk Universitas Negeri favorit, iya kan Ri?" kata Dewi.


Aku mengangguk. Apalagi ibunya bekerja disana. Tentu mudah untuk Kurnia menjadi mahasiswa di tempat itu.


"Kalau kamu Ri, ngambil kuliah yg di luar negeri itu?" tanya Kurnia.


Aku menggeleng.


"Tapi waktu kita seminar itu katanya kamu berminat," kata Kurnia lagi.


"Iya, dulu. Sekarang nggak." Aku melirik Harry yang berdiri di samping meja tempat kami mengobrol.


"Jadi Riri mau kemana?" tanya Dewi.


Langsung aku hadiahi dia sebuah pukulan.


"Becanda, becanda.. Dia dapet beasiswa kedokteran di Malang," katanya sambil mengusap lengan atasnya yang aku pukul.


"Wah, ko kamu nggak cerita sih?" tuntut Kurnia. "Licik. Ko aku nggak dapet ya?"


"Ngarep.." cibir Harry.


"Iyalah, siapa coba yang nggak mau," bela Kurnia.


"Aku nggak mau," kataku.


Tiba-tiba terasa hawa yang tidak menyenangkan di sekelilingku.


"Jangan becanda, Ri," ujar Dewi pelan.


"Tau ni anak, aneh," sahut Kurnia.


"Aku serius, aku mau disini aja. Mau coba masuk Arsitektur. Kalo nggak ya coba IT mungkin..," jawabku.


"Kenapa?" tanya Harry.


"Ya nggak kenapa-kenapa. Passion aku tuh di arsitektur," kataku meyakinkannya.


"Tapi hasil psikotesmu, kamu 98% cocok jadi dokter kan?" aku merasa Harry tidak menyukai apa yang kupikirkan.


"Iya.. tapi..."


"Udah.. udah.. biarin aja Riri dengan pilihannya Har. Emang kenapa sih?" lerai Kurnia. Sepertinya dia mulai melihat ketidaksesuaian antara kami.


"Lagian kalian serius banget sih. Liat deh, temen-temen kita yang lain aja blom punya pikiran mau kemana," kata Harry sambil menengok ke arah teman-teman kami yang lain.

__ADS_1


Aku diam, tidak ingin berdebat.


...


[Har.. kamu marah ya sama aku?]


Kukirim pesan lewat WA. Aku merasa Harry sedang marah padaku. Bahkan saat mengantarku pulang, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.


5 menit, tidak ada jawaban.


10 menit, centang dua itu tidak juga berubah warna.


Aku melirik jam dinding di kamarku. Pukul 22.10.


Masa aku harus menelponnya? Atau mungkin dia ketiduran?


Biasanya pukul 20.00 dia sudah mulai mengirimiku berbagai pertanyaan. Tapi malam ini.. Aku jadi khawatir.


Sampai jam menunjukkan pukul 23.00 aku belum juga mengantuk. Sulit rasanya memejamkan mata. Aku sudah terbiasa dengan ucapan selamat tidurnya.


Kamarku sudah gelap. Hanya lampu dari snow ball yang memberikan efek kilauan di dinding kamarku.


Aku mulai memutar skrup yang ada di sisi snow ball. Berharap musik klasik membuatku mengantuk.


Terdengar suara alunan piano. Für Elise. Rupanya snow ball ini tidak hanya punya satu lagu. Bukannya membuatku tenang dan mengantuk, musik itu sukses membuat bulu kuduk berdiri. Dan akhirnya aku tidak bisa tidur sama sekali.


...


Hari ini aku berniat berangkat lebih awal. Aku ingin bertemu Harry secepatnya.


Pesanku tadi malam sudah dibaca, entah pukul berapa. Tapi tidak ada balasan darinya.


Aku sampai terlalu pagi, belum ada seorang pun di kelas. Aku meletakkan tasku di bangkuku dan kemudian duduk disana.


Aku meletakkan kepalaku diatas kedua tangan yang kujadikan bantal. Menatap keluar jendela. Udara masih dingin. Mataku rasanya berat karena tidak tidur semalaman.


Aku merasa seseorang menyentuh hidungku. Aku segera menegakkan tubuhku. Kaget.


"Kenapa kamu tidur disini?" Harry duduk di samping bangkuku.


"Aku ngantuk banget. Nggak tidur semalaman," kataku sambil mengucek mata.


"Kenapa?"


"Aku nungguin kamu nge-WA," kataku.


Terlihat raut penuh penyesalan di wajahnya.


"Maaf ya..," katanya dengan mata berkabut. Nggak mungkin kan dia mau nangis.


"Kenapa kamu nggak WA atau telpon aku? Kamu ketiduran ya?" tanyaku.


Teman-temanku mulai berdatangan.


"Iya, aku ketiduran," jawabnya sambil tertunduk.


"Kirain kamu marah sama aku," ucapku.


"Aku nggak akan bisa marah sama kamu," katanya sambil menatapku lekat.


"Syukur deh, kalo nggak marah. Kalo gitu, nanti pulang sekolah mampir ke tukang kripik setan di belakang sekolah, yuk," ajakku.


"Maaf, aku nggak bisa."


"Lho, kenapa?" tanyaku kaget.


"Karena Harry mau nganterin aku pulang," seseorang berdiri di belakang Harry sambil tersenyum jahat.

__ADS_1


__ADS_2