
Tak terasa hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Waktu seakan berlari bagiku. Semua pedih yang kurasa diwaktu yang lalu seakan menguap, tak menyisakan bekas.
Dua bulan yang lalu, aku kembali ke kota ini. Kota tempat kelahiranku, kota tempat aku dibesarkan, kota yang penuh dengan kenangan. Bandung.
Sembilan tahun aku meninggalkan kota ini. Banyak sekali yang berubah. Apalagi dari segi infrastruktur. Kota ini menjadi kota yang sangat luar biasa.
Aku kembali dengan statusku sebagai seorang Dokter Umum. Aku bekerja di sebuah Puskesmas dan juga ditugaskan sebagai Dokter IGD di sebuah rumah sakit.
...
Kulihat jam tanganku menunjukkan bahwa beberapa menit lagi jam tugasku usai. Aku berniat kembali ke ruangan untuk mengambil tasku.
Baru saja kulangkahkan kakiku keluar dari pintu Unit Gawat Darurat, sebuah ambulan memasuki parkiran khusus. Dengan sigap para petugas menurunkan blankar yang diatasnya berbaring seorang ibu yang sudah cukup berumur. Aku segera berlari kembali ke UGD.
Dengan dibantu seorang suster, aku segera menangani pasien tersebut.
"Maaf, ada keluarga pasien?" tanyaku begitu ku buka pintu UGD, setelah selesai melakukan tindakan medis terhadap ibu tersebut.
"Saya, Dokter. Saya anaknya," seorang wanita muda langsung berdiri. Lelaki yang duduk di sampingnya pun ikut berdiri.
"Ibu anda terkena serangan jantung, tapi masih bisa diselamatkan. Hanya saja tadi saya periksa ada luka memar karena benturan di kepala beliau. Mungkin terantuk sesuatu ketika jatuh atau benturan di lantai. Kemungkinan terjadi pendarahan di otak. Namun, untuk memastikannya, ibu anda harus menjalani CT Scan dulu," jelasku panjang lebar.
"Apa ibu saya sudah sadar, Dokter?" tanya wanita itu lagi.
"Saat ini belum. Tapi saya harap beliau segera sadar. Mungkin malam ini ibu anda harus bermalam dulu di UGD. Apabila besok pagi keadaannya sudah membaik, baru bisa dipindahkan ke kamar rawat inap," ujarku berusaha menenangkan.
"Apa hal terburuk yang bisa terjadi terhadap ibu saya, Dok?" matanya berkaca-kaca.
"Jangan berfikir yang terburuk, Bu. Doakan saja yang terbaik untuk ibu anda. Karena kami di sini pun berusaha yang terbaik untuk semua pasien kami," kataku tanpa bermaksud memberi harapan palsu.
Kaca yang tadi melapisi mata wanita itu kini berubah menjadi aliran air di pipinya. Lelaki di sampingnya segera memeluk dan menenangkannya.
"Sabar ya, Bu. Saya akan berbicara dengan dokter spesialis yang bisa menangani ibu anda segera," aku lalu berpamitan.
"Terima kasih, Dokter ...," kata-katanya menggantung, dia seperti mencari name tagku.
"Rinjani," kataku.
"Terima kasih, Dokter Rinjani," katanya lirih.
"Sama-sama, Bu," aku pun melangkah menjauh.
Baru beberapa langkah, aku merasa ada yang memanggilku.
"Kak Ri-ri!"
Aku menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Wanita muda itu sedang memperhatikan aku.
"Dokter beneran Kak Riri?" tanyanya ragu.
__ADS_1
Aku melangkah kembali ke pintu UGD.
"Tadi anda yang memanggil saya?" aku memastikan, karena tidak semua orang memanggilku dengan nama 'Riri'.
"Kak ...," wanita itu langsung memelukku. Dia menangis kencang.
Aku mengelus punggungnya. Siapa? Aku berusaha mengingat wajahnya.
"Aku Rena, Kak. Rena. Adiknya Kak Harry," tangisnya tanpa melepaskan pelukan.
"Kak Riri udah pulang? Pasti Kak Harry seneng banget kalau tau Kakak ada di sini." Dilonggarkannya pelukannya berganti dengan genggaman pada kedua tanganku.
"Rena?" aku masih tidak percaya. Terakhir aku bertemu dengannya, dia masih kelas delapan.
Kalau wanita ini adik Harry, berarti yang baru saja kutolong ....
"Iya, Kak. Kakak berubah banget. Aku sampai pangling," katanya sambil melihatku dari atas ke bawah.
Apa maksudnya hijab dan jas putih ini?
"Kak Harry sebentar lagi datang. Tadi udah aku kabarin kalau Ibu jatuh di kamar." Kata-kata Rena sukses membuat hatiku berdegup kencang.
Kenapa takdir begitu cepat mempertemukanku dengan masa lalu? Tadinya aku berharap tidak akan pernah lagi bertemu dengannya.
"Kakak seneng ketemu sama kamu. Meski kakak nggak berharap bertemu dengan cara seperti ini," kataku padanya. "Mudah-mudahan Ibu cepet sadar ya, jadi kita bisa cepet lanjutin pengobatannya. Jangan khawatir, di sini semuanya adalah dokter terbaik. Ibu pasti cepet sembuh." Aku mengubah cara bicaraku agar dia merasa lebih nyaman.
Dia mengangguk.
"Iya, Kak. Semoga Kak Harry juga cepet nyampe. Dia pasti rindu banget sama Kakak," kata-katanya menusuk jantungku.
Aku berjalan cepat menjauh dari UGD. Setelah melewati lobby, aku memperlambat langkah menuju ruanganku. Rasanya kakiku ini tidak menapak di lantai.
"Dokter Rinjani!" panggil seseorang dari arah ruang informasi.
"Bukannya Dokter masuk pagi? Kenapa belum pulang?" tanyanya sambil menghampiriku.
"Saya baru mau pulang, Dokter El. Ini saya baru mau ambil tas di ruangan saya. Oya, Dokter baru datang, ya? Pasien di UGD butuh bantuan Dokter. Rekam medisnya sudah ada di Suster Tia," ujarku pada Dokter Elang, dokter bedah yang kebetulan ada di ruang informasi.
"Iya, saya nanti langsung ke UGD. Perlu saya antar ke ruangan?" tawarnya.
"Nggak usah, saya bisa sendiri kok," kataku sambil tersenyum.
"Ya udah. Hati-hati di jalan, ya. Nanti saya telpon," katanya. Dia segera berjalan ke arah UGD.
Aku kembali melanjutkan langkahku ke arah ruangan Dokter Umum.
Kuambil tas di atas kursi, sebelumnya kucek dulu gawaiku. Dua buah panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan masuk ke dalamnya.
[Ri, kapan kita bisa ketemu?] sebuah pesan singkat masuk dari Ahmad, teman SMA ku.
__ADS_1
Temanku itu tidak pernah lupa mengabariku tentang apapun. Dan ketika aku bilang akan kembali ke kota ini, dia terus saja menelpon dan mengirimkan pesan memintaku meluangkan waktu untuk bertemu dengannya.
[Kalau besok waktu makan siang, gimana Mad?] kukirimkan pesan itu padanya.
[Oke. Aku besok langsung ke rumah sakit, ya] cepat sekali dia membalas pesanku.
[Oke. Jam satu siang]
Kumatikan layarnya dan segera kumasukkan ke dalam tasku. Kukeluarkan kunci mobil dan melangkah keluar dari ruangan.
...
Aku memarkirkan mobilku di tempat yang seharusnya. Kuambil tas dan jasku yang ada di kursi samping pengemudi. Sebelumnya kulirik spion, sekedar memastikan tidak ada anak rambut yang keluar. Lalu kutambahkan sedikit lipstik ke bibirku.
Aku keluar dari mobil dan menguncinya dengan cepat. Merasa ada yang kurang, aku berjalan sambil mengecek isi tasku tanpa memperhatikan jalan.
Dug!
Bahuku menyenggol bahu seseorang dengan keras. Aku terhuyung ke belakang. Jas, tas dan isinya jatuh berserakan.
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja, tadi saya lengah," kataku sambil membetulkan posisi kacamataku. Aku segera memungut tasku dan mengambil isinya yang terserak.
"Nggak apa-apa, Dok. Maaf, saya juga buru-buru jadi nggak fokus liat jalan," kata orang yang kutabrak.
Disodorkannya jasku yang juga terjatuh.
Aku yang sedang memasukkan buku catatan dan bolpoin langsung mendongak.
"Terima ka...," mendadak kata-kataku terpotong. Mulutku kelu, bahkan napasku terasa sesak. Jantungku terasa berhenti berdetak.
Orang yang kutabrak pun bereaksi sama. Dia berdiri tanpa bergerak, hanya menatapku dengan pandangan tidak percaya. Wajahnya menunjukkan keletihan, dengan rambut yang kusut dan lengan kemeja yang digulung sampai siku.
Buru-buru kuambil jas dari tangannya. Aku langsung menegakkan tubuh. Segera kulangkahkan kaki, tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
"Ri!" panggil orang itu.
Aku berhenti tapi masih enggan untuk berbalik.
"Aku kangen banget sama kamu." Kata-katanya memaksaku untuk memutar tubuh.
"Maaf, sepertinya anda salah orang. Saya tidak mengenal anda," ujarku.
Aku kembali berbalik dan melangkahkan kakiku tanpa menoleh lagi ke belakang.
Tiba-tiba air mataku lolos begitu saja. Di belakangku, orang yang kutabrak menatapku dengan pedih.
...
*Akhirnya jadi juga season dua ini. Ada yang nungguin nggak ya..
__ADS_1
Special thanks buat Elara Murako dan Aldekha Depe yang jadi penyemangat buat saya nerusin cerita ini. Thank you so much 😘*