DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
Terulang lagi


__ADS_3

Hari Kamis memang jadwal anak PMR untuk latihan.


Tapi tidak hanya PMR, Pecinta Alam dan Remaja Masjid pun berkumpul pada hari ini.


Seperti biasa, kegiatan ekstrakurikuler dilakukan setelah jam sekolah usai.


Aku sudah bersiap dengan kaos lengan panjang berlogo PMR di punggung dan celana PDL favoritku.


Aku duduk di bangku panjang di kantin yang sudah tutup.


Menonton anak-anak Pecinta Alam yang sedang berlatih wall climbing.


Anak PA selalu fleksibel, mereka bisa berlatih apa saja dan dimana saja. Selalu ada alumni yang mampir ke sanggar mereka setiap harinya. Sekedar menyapa atau berbagi cerita.


"Lagi apa?" tanya Harry.


Dia segera mengambil tempat tepat di sampingku.


"Nungguin soulmate-mu tuh," kataku.


"Beneran dia mau nembak Fitri?" tanyanya.


Aku mengangguk.


"Aku ga nyangka dia serius," kata Harry.


"Aku juga ngga," aku masih menatap anak-anak PA yang sedang berlatih.


"Makasih ya, Har..."


"Buat apa?" tanyanya sambil menatapku yang masih melihat ke depan.


"Karena kamu ga bilang sama Kurnia apa yang terjadi waktu car free day," kataku sambil balik menatapnya.


"Oh, itu..."


"Padahal si Om juga cerita kan sama kamu," aku menyingkirkan rambut yang tertiup angin menutupi wajahku.


"Kamu bisa aja cerita sama dia. Toh itu kenyataan. Tapi kamu ga lakuin itu."


"Aku ga mau dia patah hati. Baguslah kalo Fitri juga bisa nerima dia. Mudah-mudahan Fitri juga ga cerita sama si Om soal ini," ujar Harry.


"Oh My God, aku lupa blom ngasih tau dia. Aduh.. gimana kalo dia yang malah cerita sama Kurnia," aku menepuk dahi, mengakui kecerobohanku.


"Mana anaknya blom dateng lagi. Dia pulang dulu ganti baju," kataku.


"Ri, ngapain sih kamu mau ribet kayak gini buat orang lain? Kamu sendiri aja jomblo," ni bocah bibirnya nyelekit juga.


"Eh maaf ya, aku bukannya jomblo. Aku pemilih. Kamu tau sendiri. Aku tuh maunya cuma satu, yang pertama dan terakhir. Ga ada istilah coba-coba atau main-main," kataku sambil memajukan bibir bawahku.


"Emang masih ada yang begitu?" tanyanya tak percaya.


"Ya ada lah. Meskipun sedikit. Tapi aku mau jadi salah satunya. Kayak Pak Deni tuh."


Pak Deni adalah guru Sosiologi kelas 10.


"Apaan, Pa Deni kan yang kedua dan terakhir," sangkalnya.


"Iya, tapi kan niatnya begitu. Kalo ternyata takdirnya berkata lain, setidaknya beliau udah berusaha," kataku.


"Beliau kan udah berjuang mempertahankan cinta pertamanya sampe dikeroyok sama orang-orang suruhan papa ceweknya itu."


Aku menarik nafas.


"Sakit ya, kalo cinta tapi ga direstuin," gumamku.


"Alah.. kayak yang udah pernah aja," ejek Harry.


Kupukul bahunya dengan keras sampai dia mengaduh.


"Kamu gitu aja sama aku, kasar banget sih. Ga boleh tau beladiri dipake nyiksa orang," katanya sambil mengusap-usap bahunya.


"Abis mulut kamu tuh pedes. Kayak emak-emak aja," kataku sambil cemberut.


"Eh Har, kamu abis ini ada Remaja Mesjid kan? Bareng Ahmad dong?"


"He eh."


"Ri.. apa sih yang kamu liat dari Ahmad?" tanya Harry tiba-tiba.

__ADS_1


"Eh.. apa ya.. ga tau juga sih. Aku aja baru kenal sama Ahmad kelas 11 kemaren. Sebelumnya aku ga tau ada orang itu di sekolah ini."


"Dan selama itu sampe detik ini, ga ada usaha kamu buat deket sama dia?" tanyanya lagi.


"Har.. kamu tau aku gimana. Ga akan ada ceritanya aku ngedeketin cowok duluan. Buat aku, cewek itu dipilih bukan memilih."


"Itu kamunya aja yang gengsian, Ri. Zaman sekarang boleh ko cewek nembak duluan," bela Harry.


"Sorry, itu sih pacar-pacar kamu. Bukan aku," kataku dengan senyum mengejek.


"Kalo seumur-umur Ahmad ga juga nyatain perasaan cinta ke kamu, kamu mau apa?" tantangnya.


"Ya udah. Berarti bukan jodoh," jawabku ringan.


"Ga ada kah nama cowok lain?" tanyanya.


"Ada..," jawabku sambil tersenyum lebar.


"Siapa?" tanyanya antusias.


"Pak Kardi."


"Huh!!"


"Ko 'huh'?"


"Ya ga mungkin lah. Pak Kardi kan udah punya istri," katanya sambil cemberut.


"Kamu ga tau aja, Har. Kemaren aja Pak Zein minta aku jadi istrinya," kataku dalam hati.


"Eh, itu yang naik, Oka kan?" tanyaku sambil memicingkan mata melihat kearah climbing wall.


Ada seseorang yang senang memanjat dengan seragam persis denganku.


"Iya, itu Oka," kata Harry.


"Kita kesana, yuk!" ajakku.


Harry tidak bergeming dari tempat duduknya.


"Ayo!!" kutarik tangannya dengan paksa. Akhirnya diapun menguntit di belakangku.


"Hai, Ri," sapanya dengan ramah.


Karena kami sering berlatih bersama, kami cukup akrab.


"Kak, aku mau naik dong," pintaku.


"Boleh."


"Kalo berdua bisa ga?" tanyaku.


"Bisa, sama siapa?" tanya Mas Rangga.


"Tuh," tunjukku pada Harry.


"Kenapa aku harus ikut naik," tolak Harry. "Ngga mau."


"Takut ya?" sindirku.


"Ngga, kenapa mesti takut?" tantangnya.


"Ya udah kalo gitu. Kita balapan sampe atas," ujarku penuh kemenangan.


"Mumpung ada Mas Rangga. Kalo cuma Ardi doang sama temen-temen yang lain aku ga berani."


"Oke. Tapi kalo aku menang, aku mau minta sesuatu sama kamu," katanya.


"Minta apa?"


"Aku bakal bilang nanti di atas," katanya percaya diri.


"Ga, aku ga mau beli kucing dalam karung. Bilang sekarang!" kataku ketus.


"Lupain Ahmad."


"Hah?!"


"Kamu udah denger kan?" katanya sambil menyipitkan mata.

__ADS_1


"Ayo naik," kataku sambil melihat ke arah lain.


"Jawab dulu!"


"Iya.. iya..," jawabku asal.


Oka sudah turun. Kami ber hi-5.


"Keren Ka," pujiku padanya.


"Biasa aja, Ri," jawabnya kocak.


Oka adalah teman seangkatanku dan Kurnia. Gadis dengan potongan rambut pendek dan selalu ceria.


Dia adalah master pembuat tandu darurat. Dia bahkan bisa membuatnya dalam waktu kurang dari 5 menit dengan menutup mata.


Aku memasang harness dibantu oleh Rita, anak PA seangkatan denganku.


Harry dibantu oleh Ardi.


Kucepol rambut panjangku tinggi-tinggi agar tidak mengganggu.


Selesai.


"Siap?" tanyaku pada Harry.


"Siap," jawabnya pasti.


"Tapi Har, kamu udah bilang apa maumu kalo kamu menang. Jadi apa yang bakal aku dapet kalo aku yang menang?" tanyaku.


"Apapun yang kamu mau bakal aku kasih," kata Harry.


Aku tersenyum senang.


"Aku pegang kata-katamu," ujarku sambil mengambil bubuk magnesium.


Dia melakukan hal yang sama.


"Nanti kalo kalian udah sampe atas trus mau turun, bilang sama yang dibawah ya. Jangan langsung loncat, kasian temen-temen kalian yang disini," kata Mas Rangga.


"Kalo saya bilang 'mulai' kalian baru naik. Yang menang yang berhasil mengambil bendera merah yang diatas itu," tunjuk Mas Rangga.


"Gimana, ready?"


"Ready!!" jawabku dan Harry bersamaan.


"MULAI!!" teriak Mas Rangga.


Tanpa berfikir panjang, aku segera naik. Tubuhku yang sudah terbiasa berlatih tidak mendapatkan kesulitan dalam meraih dan memanjat pin-pin itu. Aku tidak menengok sedikitpun ke arah Harry.


Aku mendengar suara-suara meneriakan namaku dan Harry.


Dan tak perlu waktu lama, aku berhasil meraih bendera merah itu.


"Yeyyyy.. aku menang," seruku pada Harry yang berjarak tidak terlalu jauh dariku.


"Makanya jangan terlalu pede jadi orang," kujulurkan lidahku padanya.


Tiba-tiba aku mendengar seseorang bertepuk tangan.


Bukan dari arah bawah, tapi dari arah kelas di lantai 3.


Puncak climbing wall ini memang sejajar dengan kelasku di lantai 3.


Hanya ada 4 kelas di lantai 3.


IPA-1 dan 2 juga BAHASA 1 dan 2.


Dan di jendela yang terbuka, terlihat Ahmad sedang bertepuk tangan dengan senyum di wajahnya.


Dan di sampingnya berdiri seorang perempuan yang kukenal. Gita!


Sedang apa dia berdua dengan Ahmad di kelas setelah jam pelajaran usai?


Tanpa sadar, kuhentakkan Kernmantle Rope yang mengikat tubuhku. Aku melompat tanpa aba-aba.


"Riri! Jangan!" aku sempat mendengar Harry berteriak. Dia merentangkan tangannya berusaha meraihku.


Tali bergerak sangat cepat. Aku benar-benar lupa peringatan Mas Rangga. Ardi dan teman-temannya pasti kaget dan tak bisa menahan taliku.

__ADS_1


Aku pasrah. Aku merasa tubuhku meluncur dengan cepat. Aku pun menutup mata. Hanya karena seorang Ahmad, aku melakukan kebodohan yang sama untuk kedua kalinya.


__ADS_2