
"Saat indah, dalam hidupku
saat aku bertemu denganmu
kau anugrah yang tercipta
begitu nyata.."
"Nggak usah nyanyi, nggak enak didengernya," kataku pada Harry yang mau meneruskan lagu Flanella favorit kami.
"Ish, kayak kamu nggak pernah nyanyi aja..," katanya cemberut.
"Ya suka.. tapi bukan buat kamu," lanjutku.
Dia mendengus.
Karena kami masing-masing memiliki seorang kakak yang lahir di tahun 90-an, kami memiliki selera musik yang sama. Bahkan playlist di gawai kami pun nyaris sama. Mungkin karena terbiasa mendengar musik yang sama pula.
"Har, jangan bilang siapa-siapa ya kalo kita jadian," pintaku.
"Kenapa? Kamu malu ya jalan sama aku?" tanyanya sambil menatapku dengan pandangan sayu.
"Biasa aja, nggak usah ngeliatin aku kayak gitu. Risih tau," omelku.
"Aku nggak mau ada yang ngerasa tersakiti."
"Maksud kamu?"
"Ayudya pernah nyatain cintanya sama kamu ya?" tanyaku penuh selidik.
Harry diam.
"Kenapa kamu tolak?" tanyaku. Meski aku tahu jawabannya.
"Karena dia sahabat kita," jawabnya. "Aku nggak mau nyakitin dia."
"Aku kan juga sahabat kamu," kataku.
"Kalo sama kamu kan aku udah suka dari dulu. Nggak mungkin aku nyakitin kamu. Kalo sama Ayu kan aku nggak punya rasa sama sekali. Masa iya 2 minggu aku putusin dia," katanya.
"Gimana kalo dia tau kita jadian? Apa dia nggak akan berfikir kamu nggak adil?" tanyaku.
"Nggak adil gimana?" tanyanya dengan suara ditahan. "Gini aja deh, nanti biar aku yang bilang sama dia," kata Harry.
"Dia bakal marah nggak ya sama aku?" aku jadi nggak enak hati.
"Ri, dengerin aku. Kita nggak bisa nyenengin semua orang. Pasti ada aja yang nggak suka, seberapa keras pun kita berusaha jadi orang baik. Setidaknya ada waktunya kamu mikirin dirimu sendiri sebelum kamu mikirin orang lain," katanya. Mulai deh dia jadi kayak si Om.
"Iya, Paaaaak..," sahutku mendramatisir.
Dia bersiap menyentil dahiku.
Aku menaikkan jari telunjukku.
"Berani?" ancamku.
"Nggak.. nggak, Sayang," ujarnya menurunkan jarinya yang bersiap menyentilku.
"Jangan panggil 'Sayang-sayang' geli tau," kataku.
"Trus mau dipanggil apa?" tanyanya.
"Kan kamu bilang, apapun jawabanku kamu nggak akan mengubah sikap kamu ke aku."
"Oke deh kalo gitu," dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dan tiba-tiba..
Pletak
Dia menyentil dahiku.
"Awww!!" aku reflek berteriak. Sakit. "Harry!!"
Dan anak itu sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.
__ADS_1
...
Sejak pagi semua anggota PMR sibuk. Terlebih kami yang namanya tertulis dalam struktur organisasi.
"Ri, sebelumnya kamu barisin dulu mereka di halaman, ya. Kamu Komandan Lapangan nya. Abis dibarisin baru nanti saya ambil alih pas upacara pembukaan," perintah Kurnia.
"Awan, nanti kamu pegang yang putra. Riri pegang yang putri. Nina, Oka, Bayu, Hendi, siap di pos masing-masing. Fotocopy jadwal dan tugas masing-masing udah dibagiin kan?" tanya Kurnia pada panitia yang berdiri mengelilinginya.
Semua mengangguk.
"Untuk yang lain silakan dicek tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Masih ada yang mau ditanyakan?"
"Untuk pengisi materi, Kak?" tanya Iqbal, anak kelas 11.
"Dikondisikan aja. Jadi siapa aja bisa masuk kelas. Semua materinya ada di Kak Riri," kata Kurnia.
"Ada lagi?" tanyanya.
Kalau udah kayak gini, Kurnia nggak akan bisa diganggu gugat. Auranya benar-benar berbeda. Dia terlihat berwibawa dan dewasa.
"Oke.. kalo udah nggak ada yang mau ditanyakan, mari kita berdoa sebelum melaksanakan kegiatan ini." Kurnia langsung memimpin doa.
"Untuk yang kelas 12, ini kegiatan terakhir kita. Mari kita laksanakan sebaik mungkin."
Kurnia merentangkan tangan kanannya. Awan, Bayu, Hendi dan yang lainnya menumpuk telapak tangannya di atas tangan Kurnia, termasuk aku.
"Semangat!!!" semuanya berteriak sambil melemparkan tangannya keatas.
Ya, benar kata orang-orang. Masa-masa paling membahagiakan adalah masa-masa putih-abu. Dan sebentar lagi aku akan melewatinya.
Ah, aku pasti akan merindukan kalian semua..
...
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00.
Anak-anak kelas 10, diperkenankan masuk ke ruangan kelas kelas untuk beristirahat.
Karena kondisi lingkungan yang kurang kondusif, kami tidak diperkenankan keluar area sekolah. Tidak ada acara membangun tenda ataupun api unggun.
Kami panitia yang terdiri dari kelas 11 dan 12 berkumpul di lapangan basket.
Tidak hanya mengevaluasi kegiatan ini, kami juga mengobrol, bercanda dan bernyanyi.
Kami semua berbaur. Tidak ada senior ataupun junior. Kami semua sama.
Suatu saat aku akan sangat merindukan hari ini.
"Jabat tanganku mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori dimasa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tiada bertemu lagi
Bersenang-senanglah karena hari ini
yang kan kita rindukan di hari nanti
sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah karena waktu ini
yang kan kita banggakan di hari tua
Sampai jumpa kawanku semoga kita selalu
menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan"
Lagu yang dibawakan Kurnia dan diiringin petikan gitar Awan sukses membuat air mata lolos dari pelupuk mataku.
Kugenggam tangan Nina dan Oka yang ada di samping kanan dan kiriku.
__ADS_1
Pipi Nina sudah dibanjiri air mata, sedangkan Oka masih berusaha untuk tidak terbawa suasana.
Menyebalkan memang, ketika kita menyadari semua kebahagiaan yang selama ini kita rasakan harus kita akhiri karena memang sudah waktunya.
Dan malam ini terasa lebih menyesakkan setelah Iqbal dan Arga menyanyikan lagu Kemesraan-nya Iwan Fals yang selalu dinyanyikan saat moment seperti ini.
Malam ini tak ada yang tidur. Semua memilih bercengkrama dan menghabiskan waktu yang tersisa untuk mengobrol dan bercanda. Dan aku yakin, anak-anak kelas 10 pun tidak ada yang tidur karena keributan yang kami buat di lapangan.
Dan pagi pun tiba. Kami memulai lagi aktifitas kami sesuai jadwal.
Acara diklat dan serah terima jabatan selesai pada pukul 08.00. Antara bahagia dan terharu kami menjalaninya. Selesai sudah tugas kami di organisasi yang membuat kami semua menjadi sebuah keluarga ini.
"Langsung pulang, Ri?" tanya Kurnia sambil merangkul bahuku.
"Lanjut Bengkel Sastra, Om, nanggung jam 09.30," kataku.
"Makasih ya udah banyak bantu. Sorry juga ngerepotin mulu," katanya sambil nyengir.
"Nggak lah, kita kan sama-sama. Aku beneran nyaman disini. Nggak kaya di Sastra sama Cinema," ujarku jujur. "Thanks udah jadi keluarga keduaku."
Dia mengacak rambutku.
"Eh, gimana kemaren sama si Harry? Kamu ngamuk ya?" tanyanya.
Rupanya Harry benar-benar menepati janji untuk tidak mengatakan pada siapa pun perubahan status kami. Bahkan pada soulmate nya ini.
"Ya iya lah. Kebayang sama kamu," selorohku.
"Trus..?"
"Trus apanya? Kalo trus ya nabrak," aku nggak mau ngasih clue apapun.
"Eh, Fitri udah dianterin blom?" tanyaku tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"Udahlah. Aku bawain ranselnya juga sampe depan. Dia dijemput sama bapaknya," kata Kurnia.
"Cieee.. menantu idaman," aku tertawa terbahak.
"Eh, kamu bawain ranselnya? Trus apa kabar ransel 41 anak lainnya? Pilih kasih kamu."
Dia hanya tersenyum kecil. Aku suka menggodanya. Dibalik sikapnya yang tegas tetap saja hatinya pink. Hihi..
"Udah ah, aku mo pulang. Ngantuk," Kurnia berjalan ke arah sanggar untuk mengambil ranselnya.
Aku mengikutinya dari belakang. Ternyata sanggar sudah kosong. Tinggal ranselku dan ransel milik si Om yang masih tertinggal.
"Masih sejam lebih," kataku sambil melirik jam tanganku. "Aku mo tidur disini dulu aja deh," putusku.
"Nggak mandi dulu kamu? Kan disuruh bawa peralatan mandi juga," kata Kurnia menetapku risih.
"Nggak ah. Tar aja di rumah. Lagian dulu aja kita camping 3 hari nggak mandi nggak panuan juga. Ini baru sehari," belaku.
"Ih, cewek-cewek jorok!" seru Kurnia.
"Bodo, yang penting udah sikat gigi," kataku cuek.
Kurnia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Serah... Dah ah, aku mo pulang. Assalammu'alaikum," dia pun berlalu.
Om.. Om.. aku terkekeh sendiri.
Rasa kantuk mulai menjalari mataku. Aku merebahkan tubuhku yang lelah di atas karpet. Malas sekali rasanya untuk naik ke atas blankar. Biarlah, toh nggak ada orang disini. Siapa juga yang peduli. Akhirnya aku tidur dengan berpakaian PDL lengkap plus kacu dan angkle boot ku.
Entah berapa lama aku tertidur. Aku mendengar suara pintu dibuka pelahan. Tak ada suara. Aku benar-benar malas untuk membuka mata. Tiba-tiba terasa sebuah tangan membelai rambutku yang masih dikuncir. Menepikan anak rambut yang menutupi dahiku. Dan ketika tangan itu membelai pipiku..
Hap.. ku tangkap pas di pergelangan tangannya. Aku langsung reflek bangun dengan sekali gerakan. Dan..
Jeduggg!!
"Aaaww..!!" kami berdua berteriak bersamaan.
"Kamu..!!" teriakku.
__ADS_1