
"Bapak beneran suka sama kamu. Bukan cuma suka, Bapak mencintai kamu."
Pernyataan cinta Pak Zein terasa bagai petir di siang bolong.
"Ngga, Pak. Ngga mungkin! Ngga boleh!" nada suaraku sudah mulai meninggi. Bergaung di ruangan ini.
"Kenapa? Karena kamu murid Bapak?" tanyanya menyudutkanku.
"Bukan, tapi karena Bapak udah punya istri!"
"Bapak tidak pernah mencintainya, Ri. Kami dijodohkan. Sampai sekarang Bapak masih tidak punya rasa padanya," kata Pak Zein.
"Andai waktu Bapak dipaksa menikah kamu udah kelas 12, Bapak pasti membawa kamu ke hadapan orang tua Bapak. Tapi sayang, kamu baru kelas 10. Tidak mungkin Bapak memintamu menikah dengan Bapak."
Kepedean sekali Bapak ini. Jika seandainya dulu aku udah kelas 12, emang Bapak yakin aku mau dibawa buat Bapak nikahin?
Kulirik Pak Zein sesaat. Wajah putih mulusnya terlihat tegang. Dan rambut yang biasa terlihat klimis itu terlihat sedikit berantakan. Yakin, ini bukan saatnya memukuli orang dan meninggalkannya pergi.
Aku masih diam. Berfikir apa yang harus aku katakan.
"Ri.. jawab Bapak, apakah kamu mau menikah dengan Bapak?"
Ya Allah, ga mungkin lah.
Cita-citaku jadi arsitek, bukan jadi pelakor!
Lagipula umur kami terpaut jauh. Pak Zein berumur 33 tahun, aku.. 17 tahun aja belum.
"Pak, Bapak pasti tahu seperti apa saya ini. Saya ingin selalu jadi nomor satu. Dalam segala hal. Untuk hal sepele saja saya seperti itu, apalagi soal masa depan saya. Saya tidak mau jadi istri kedua, Pak," jawabku tegas.
"Kamu ga akan jadi yang kedua, Ri. Kamu akan jadi yang pertama dan satu-satunya. Bapak akan menceraikan istri Bapak asal kamu mau berada di sisi Bapak selamanya."
Jawabannya membuat bulu kudukku berdiri.
Sebegitu terobsesinya kah Pak Zein padaku?
"Pak, apakah tak ada sedikit pun rasa Bapak pada istri Bapak? Apakah Bapak ga kasian sama istri Bapak? Bagaimana perasaan orang tua Bapak kalau Bapak melakukan ini? Apa kata keluarga besarnya kalau Bapak dengan tega menceraikannya dan menikahi saya?" aku terus mencecarnya.
Pak Zein terlihat berfikir.
Please Pak, buka hati Bapak.
Tiba-tiba aku teringat nasihat si Om Kurnia akhir-akhir ini.
Entah kenapa dia senang sekali memberiku wenjangan tiap kali kami bertemu.
__ADS_1
Apa dia itu seorang cenayang yang tahu aku akan menghadapi situasi sulit seperti ini?
"Pak.. maaf sebelumnya. Saya masih sangat muda, tidak pernah terfikir oleh saya untuk menikah muda. Saya masih ingin kuliah, bekerja, membahagiakan keluarga saya..."
"Asal kamu mau menikah dengan saya, saya tidak
akan melarang kamu kuliah. Saya akan membiayai semua kebutuhan kuliah kamu. Dan nantinya pun kamu tidak perlu bekerja, semua yang saya punya cukup untuk membahagiakan kamu," selanya.
Ya, aku tahu. Mungkin secara materi Pak Zein lebih dari cukup. Mana ada guru honorer berangkat ke sekolah pake mobil mewah. Sepertinya profesi guru hanya digunakan sebagai status saja.
Aku menarik nafas panjang.
Pikiran bocah seperti aku ternyata berbeda dengan pikiran orang dewasa seperti Pak Zein.
Pak Zein masih menunggu perkataanku.
"Saya menyayangi Bapak. Bapak orang yang sangat baik dan perhatian. Tapi saya menyayangi Bapak hanya sebagai murid dan guru. Tidak lebih," kataku.
"Katakan, apa yang harus Bapak lakukan agar kamu mau bilang 'iya'," sahutnya.
"Pak, yang harus Bapak lakukan adalah kembali pada istri Bapak dan belajar mencintainya. Ga adil untuknya, kalau Bapak mencintai orang lain, sedangkan dia yang selalu mendampingi Bapak selama ini."
Pak Zein terlihat frustasi. Diacak-acaknya rambutnya yang selalu tersisir rapi.
"Aku ga mau dia, Ri. Aku maunya kamu!" katanya penuh penekanan.
"Sejak kamu kelas 10, aku udah memendam rasa ini. Ga mungkin aku bisa buang begitu saja," diusapnya wajahnya kasar.
"Pak, daripada Bapak menghabiskan waktu untuk memikirkan saya, apa tidak lebih baik Bapak memberi perhatian pada istri Bapak. Kalau memang ada yang Bapak tidak suka pada dirinya, Bapak bisa mulai membimbing dan mengarahkannya sesuai dengan keinginan Bapak."
Aku sudah bersiap apabila Pak Zein mulai kalap gara-gara ucapanku. Buat apa punya sabuk hitam karate kalau menjaga diri sendiri aja ga bisa.
Pak Zein menutup matanya dan mendongakkan kepalanya ke atas.
"Jadi intinya kamu menolakku?" tanyanya memastikan. "Tidak adakah pertimbangan lain?"
Aku mengangguk pasti.
Dan suara bel tanda waktu istirahat habis pun terdengar.
Aku selamat!
"Terima kasih Bapak sudah mencintai saya. Tapi percayalah, istri Bapak lebih berhak mendapatkan cinta Bapak. Jangan membuat saya berdosa dengan cinta Bapak," kataku.
Pak Zein masih menunduk sambil memegangi kepalanya dengan dua tangan.
__ADS_1
"Saya akan berdoa untuk Bapak agar Bapak bahagia, meskipun bukan dengan saya. Saya akan tetap disini sebagai murid Bapak yang manis." Aku berdiri.
"Maaf Pak, saya harus kembali ke kelas. Waktu istirahatnya udah abis."
Aku berlalu. Sebelumnya aku kembalikan novel yang kubaca pada tempatnya semula.
Pak Asep belum kembali ke tempatnya.
Kubuka pintu perpustakaan pelahan lalu menutupnya kembali.
Gapapa kan aku ninggalin Pak Zein di dalam sana?
Dia ga mungkin bunuh diri di perpustakaan kan?
Ah, masa sih lelaki secerdas Pak Zein berpikiran pendek.
Semuanya pasti baik-baik saja.
Begitu aku keluar dari tempat itu, aku segera berlari sekencang-kencangnya.
Aku menaiki tangga dengan tergesa.
Begitu masuk ke dalam kelas, aku langsung duduk di bangkuku.
Kuatur nafas dan kutepuk-tepuk dadaku yang bergemuruh.
"Dari mana, Ri?" tanya Kurnia. "Pucet banget mukanya kayak dikejar setan," lanjutnya.
Aku berbalik ke arah belakang, menatap si Om dengan penuh rasa terima kasih.
"Setan juga ogah ngejar dia," sambung Harry yang duduk di sebelahnya.
Tak kupedulikan kata-kata Harry. Buru-buru kutangkap tangan Kurnia yang ada di atas meja.
"Thank you so much. You really, really save my life," kataku.
Kurnia dan Harry saling berpandangan.
"Kenapa sih?" tanyanya tidak mengerti.
"Pokoknya gitu. Titik," kataku sambil menarik tanganku dan kembali berputar menatap ke arah papan tulis.
Ada apa dengan hari ini.
Tadi pagi dijailin Harry bilang mo ngelamar aku kalo aku udah beres kuliah.
__ADS_1
Barusan dilamar lagi sama seorang pria beristri.
Mimpi apa aku semalem..