
"Ri, bikinin proposal ya," titah Kurnia.
"Proposal buat apa?" tanyaku.
"Buat diklat. Kayaknya ga bisa diundur-undur terus deh. Coba kamu tanya sama yang lain, mereka udah ngajuin proposal apa blom. Soalnya semester satu udah hampir abis. Kita harus serah terima jabatan sebelum semesteran. Semester dua udah nggak boleh aktif lagi," jelas Kurnia panjang lebar.
"Siap Bos!" seruku sambil mengangkat tangan bergaya hormat bendera.
"Kalo Remaja Masjid kapan?" tanyaku padanya.
"Blom sih, mungkin awal bulan depan. Tapi kalo Remaja Masjid nggak seribet kita. Kalo kita kan banyak kegiatannya," jawab Kurnia.
Ya, benar. Aku ingat ketika mengawal anak-anak mencari jejak dan jurit malam tahun lalu. Hiii.. jadi merinding.
"Tapi kayaknya sekarang kita nggak akan boleh keluar area sekolah," tuh kan si Om ini kayak cenayang aja. Dia seolah-olah tahu apa yang ingin kutanyakan.
"Jadi semua kegiatan diadakan di lingkungan sekolah."
"Har, kalo Cinema kapan sartijabnya?" tanyaku pada Harry yang baru saja masuk.
"Kan kamu juga anak Cinema, masa nggak tau," bukannya menjawab, anak ini malah ngajak berantem.
"Nggak usah nyindir gitu deh, kan aku nanyanya baik-baik," kataku sambil cemberut.
"Kamu pilih kasih, sih. Kalo PMR kamu urusin semuanya sampe diklatnya juga. Coba kalo Cinema, nongol aja jarang," katanya sambil mengambil tempat di samping Kurnia.
"Bukannya gitu, aku kan di Cinema bagian promosi, bikin-bikin poster. Ya kalo kalian lagi syuting, buat apa aku ngikutin?" alasanku.
"Ya setidaknya nongol bentaran kan bisa," Harry masih bersikukuh dengan argumennya.
"Har, kamu dulu bilang aku nggak perhatian karena aku nggak tau kalo Gita itu mantan kamu. Sekarang aku mo nanya sama kamu, kamu tau ada berapa orang anak Cinema yang nembak aku trus aku tolak?" aku menaikan satu alisku.
Harry diam. Kurnia pun sepertinya malas untuk ikut nimbrung perdebatan kami.
"Tuh kan, kamu juga nggak perhatian sama temen," ujarku.
"Tau.. 6 orang kan, yang 2 anak kelas 11," jawab Harry.
"Itu kamu tau. Sekarang aku nanya, enak nggak sih setiap apa yang kamu kerjain diliatin mulu sama mantan kamu? Ngeliatinnya nggak enak lagi," tanyaku.
Dia diam.
"Ya begitu itu rasanya kalo aku masuk ruang Cinema," jawabku.
"Hari Sabtu ini diklatnya," jawab Harry tiba-tiba. Dia membuang muka.
Aku tersenyum. Kalah juga kan..
...
Hari-hari berlalu begitu cepat. Kami berada di penghujung semester satu. Bagi kami kelas 12, semester depan akan sangat padat. Tidak boleh ada kegiatan ekstrakurikuler. Juga tidak diperbolehkan mengikuti berbagai jenis perlombaan selain diutus langsung oleh sekolah. Semuanya fokus pada Ujian Nasional.
[Embun pagi ini mengingatkanku pada dirimu.
Kamu yang ceria selalu menyegarkan hariku.
Aku takkan membandingkan dirimu dengan cahaya mentari. Karena kamu lebih menghangatkan dari itu.]
Sebuah pesan masuk ke aplikasi hijau bergambar gagang telepon. Nomor tanpa nama, dengan foto profil sebuah gunung yang indah.
Ah, aku tidak peduli. Kumatikan lagi layarnya.
...
[Engkau adalah cinta yang sempurna.
Kadang aku bertanya pada hatiku sendiri,
__ADS_1
"sanggupkah kau merajut rasa ini sendiri, bila dia tak menginginkanmu?"
Tapi tak mengapa.. biar kuseret rasa ini ke hadapanmu.
Berharap ada rasa yang sama disana.]
Ini adalah pesan kelima yang dikirim ke gawaiku dalam seminggu ini.
Aku menghela nafas.
Ada kesal dan penasaran di dada ini.
Siapa?
Tadinya tak ada niat untuk mencari tahu siapa yang mengirimnya.
Tapi sekarang gatal rasanya kalau mendiamkan pesan itu begitu saja.
Bolehkan aku berharap kalau yang mengirimnya adalah sang Harry Potter?
Bagaimana kalau Pak Zein?
Atau orang yang tak kukenal?
"Om.. kenal nomor ini nggak?" tanyaku sambil menyodorkan handphoneku pada Kurnia.
Dilihatnya nomor itu, lalu dibacanya pesannya satu per satu.
"Secret admirer lagi ya?" dikeluarkannya handphonenya sendiri. Diketikkannya nomor itu dipencarian.
Diperlihatkannya layar handphonenya. Tidak ditemukan.
"Tumben dicariin, biasanya juga dicuekin," kata Kurnia.
"Sebel aja. Ini udah hampir satu minggu. Tiap hari dia ngirimin kata-kata yang begituan. Selalu, tiap subuh. Jadi jengah aku," kataku.
"Ya emang nggak. Tapi aku nggak suka."
"Nggak suka digombalin, itu yang jelas. Maunya to the point, gitu kan?" digerak-gerakkannya alisnya naik turun.
"Ih, mentang-mentang udah punya pacar, kamu sekarang jadi ganjen, Om," kataku sambil menyembik. "Fitri!!! Ni Bambangmu ganjen nih!!" aku berteriak sekencangnya.
Dan auto Kurnia menjitakku.
"Berisik! Aku save dulu nomornya. Nanti aku bantuin cari," katanya.
"Thank you," kataku sambil mengedip-ngedipkan mata, membalasnya.
Dan.. jitakkan keduanya mendarat di kepalaku.
...
[Aku sudah tak sanggup menyimpan rasa ini sendiri. Akan kuberikan seluruh asa ini untukmu. Berharap kau mau menggenggamnya di hatimu. Semoga.]
Aku berlari menaiki tangga secepat yang aku bisa. Aku terlambat!!
Harry memanggilku sejak aku memasuki gerbang. Aku menjawabnya hanya dengan lambaian tangan.
Seharian ini aku benar-benar melupakan pesan itu. Aku sibuk sekali. UAS sudah di depan mata. Guru-guru benar-benar ingin mematangkan siswa dan siswinya untuk itu.
Soal-soal, pengayaan, rangkuman, semua berserakan di atas mejaku.
Sampai akhirnya suara bel tanda istirahat berbunyi.
Aku menarik nafas lega.
"Istirahat dulu anak-anak," seru Bu Neni.
__ADS_1
"Iya, Buuuu..," semua menjawabnya kompak.
Entah karena terlalu banyak berfikir atau memang belum sarapan, rasanya perutku keroncongan.
Setangkup sandwich dengan selai kacang menjadi targetku. Aku segera melesat ke arah kantin.
"Riri!!" Harry dan Kurnia berteriak memanggilku bersamaan.
"Bentar. Laper!" seruku.
Setelah mendapatkan pengganjal perut itu, aku segera melongok ke kelas 12 IPS 3, kelas Nina, sahabatku.
Dia tidak ada. Mungkin masih di kantin. Akhirnya aku memilih duduk di pinggir lapangan tempat biasanya anak-anak duduk menonton pertandingan basket. Jaraknya dekat dengan kantin dan perpustakaan. Kalau Nina lewat, pasti terlihat dari sini.
"Ternyata kamu disini. Aku cari dari tadi," Harry sudah berdiri tepat di depanku.
"Hei.. ada apa? Serius banget kayaknya. Sini duduk." Kutepuk tempat kosong di sampingku. "Mau?" kusodorkan sandwichku.
"Nggak, makasih," didorongnya sandwich yang kutawarkan. "Aku mo ngomong sama kamu," katanya, masih berdiri di depanku.
"Iya.. ngomong aja."
"Aku..,"
"Eh, bentar.. bentar.. HP ku bunyi," kataku sambil merasakan getaran di saku rok seragamku.
Di jam pelajaran begini mana boleh bawa handphone. Maka, kukeluarkan handfree bluetooth ku. Kuselipkan di telinga dan kututupi dengan rambut.
"Halo..," kusapa orang yang ada di ujung sana.
[Hai, Ri. Kamu dimana?]
"Hei, Om. Aku di lapangan. Kenapa?" aku sedikit mengerutkan kening.
"Eh, Har.. mau ngomong kan, ngomong aja. Aku dengerin kok," kataku pada Harry.
Harry tahu aku orangnya bisa membagi fokus. Aku sering berbicara dengan dua orang atau lebih tapi tetap mengerti apa yang mereka bicarakan meskipun berbeda tema.
"Aku dari tadi pagi udah nungguin kamu di gerbang. Aku mau ngomong sama kamu. Kamu lagi nyariin orang yang suka ngirimin kamu pesan itu kan?"
Aku mengangguk. Sepertinya Kurnia sudah memberitahunya. Mataku tetap menatap Harry yang terus bicara, sedangkan telingaku kupertajam untuk mendengar apa yang dikatakan Kurnia.
[Ri, kemaren kan aku udah save nomor yang kamu kasih itu. Eh, sorenya aku liat starter pack dengan nomor yang sama.]
"Kamu marah, ya?" tanya Harry.
[Aku liatnya di..]
"Aku yang ngirimin kamu pesan itu!"
[atas CPU nya Harry]
Heh..!! Aku terhenyak. Aku melongo. Tak percaya apa yang kudengar.
"Wait.. wait.. Om," seruku pada Kurnia di ujung sana. Kumatikan handfree ku.
Kutatap tajam Harry yang sejak tadi berdiri di depanku. Dia masih berdiri disana, tapi kini dengan kepala tertunduk.
Aku langsung berdiri dan mengibaskan rokku dengan kasar.
Aku langsung berlari ke basement.
"Ri.. Riri!!" aku masih mendengar dia meneriakkan namaku.
Aku tidak peduli. Aku benar-benar tak habis pikir, apa maksudnya melakukan semua ini.
Bayangan Ahmad sebagai si Pengirim Pesan buyar seketika. Terbawa angin yang terasa berdesir di telingaku.
__ADS_1