
Pagi ini aku sudah duduk di depan ruangan Pak Rifat, Wakasek bidang Kesiswaan, Pembina Pecinta Alam juga Wali Kelasku ketika kelas 10.
Aku sendiri. Harry tidak mau menemaniku. Dia tahu apa yang kulihat sampai aku berani melompat dari ketinggian 13 meter. Dan dia beneran marah.
"Lho, Ri.. lagi apa?" tanya Pak Zein yang kebetulan lewat di depanku.
"Nunggu Pak Rifat, Pak," jawabku sambil berdiri. Kuulurkan tanganku memberi salam. Setelah semua yang terjadi beberapa hari ini, beliau tetaplah guruku.
"Urusan yang kemarin?" tanyanya lagi.
"Iya, Pak. Saya nggak mau nanti anak-anak PA dilarang latihan panjat lagi gara-gara saya," kataku.
"Ya udah, Bapak temenin ya. Bentar, Bapak taruh dulu tasnya di kantor," Pak Zein pergi begitu saja menuju ruang guru sebelum aku menjawab apapun.
"Harry nggak nemenin?" Sepertinya beliau agak aneh melihatku sendiri.
"Nggak, Pak. Kayaknya dia marah."
"Kenapa?" dahinya berkerut.
"Pak Zein, Rinjani.. ada perlu sama saya?" tiba-tiba Pak Rifat sudah berdiri di depan kami.
"Iya, Pak," langsung kuulurkan tangan dan mencium punggung tangan Pak Rifat takzim.
"Ayo kalau begitu kita masuk," ajak Pak Rifat sambil mempersilakan kami masuk ke ruangannya.
Tanpa basa-basi kusampaikan maksud dan tujuanku menemui Pak Rifat.
Kuceritakan semuanya dengan jelas, kecuali penyebab aku menjatuhkan diri dari puncak papan panjat.
Pak Zein ikut membelaku dan memberikan penjelasan yang positif. Posisinya sebagai saksi tentu saja.
"Bapak malah belum mendengarnya langsung dari Ardi atau senior yang lain. Tapi setidaknya Bapak sudah mendengarkan penjelasannya dari kamu. Ya sudah, Bapak tidak akan memperpanjang masalah ini," kata Pak Rifat bijak.
"Terima kasih ya, Pak," aku benar-benar berterima kasih.
"Kalau begitu saya pamit. Sekali lagi terima kasih, Pak," aku membungkuk dan menyalaminya kembali.
Aku dan Pak Zein keluar dari ruang Wakasek.
"Makasih banyak ya, Pak. Maaf saya sering merepotkan Bapak," kataku.
"Nggak pa pa. Emang bukan salah kamu juga," katanya sambil tersenyum.
"Bapak nggak marah sama saya?" tanyaku.
"Marah kenapa?"
"Soal yang kemarin..," nggak enak ngomonginnya, "yang di perpus itu."
Pak Zein menghela nafas.
"Saya terus memikirkan yang kamu bilang, Ri. Saya sadar, saya egois. Tapi mau gimana lagi, saya memang nggak pernah ada rasa sama dia," Pak Zein memandang ke arah green house yang dipenuhi pot-pot selada.
"Beberapa hari ini saya mencoba lebih membuka diri. Malah jadi aneh rasanya," beliau tertawa kecil.
"Bapak pernah nanya nggak sama istri Bapak, beliau mencintai Bapak atau nggak. Maksudnya, apakah beliau juga menerima pernikahan ini karena dijodohkan atau beliau emang cinta sama Bapak?"
"Emang Bapak harus nanya kayak gitu?" tanyanya menatapku aneh.
"Yaelah, Pak. Ya iya dong. Kalau ternyata istri Bapak terpaksa menjalani ini, tanyain apa maunya ke depannya. Kalau istri Bapak ternyata mencintai Bapak, Bapak juga harus tau apa yang harus Bapak lakukan."
"Sok dewasa banget sih kamu," kata Pak Zein.
"Hidup memaksa saya jadi seperti ini, Pak," kataku dengan mimik wajah serius.
__ADS_1
Pak Zein tertawa terbahak-bahak.
"Jadi inget muka kamu kemaren," katanya sambil terus tertawa.
"Pak.. Bapak.. Iih.. emang kenapa sih muka saya kemaren? Bapak ketawa terus dari kemaren," tanyaku penasaran.
"Muka kamu..," bukannya menjelaskan, Pak Zein malah ketawa lagi.
"Udahlah, biar jadi kenangan buat saya aja." Dan beliau pun berlalu ke arah ruang guru.
...
Harry meletakkan selembar kertas di depanku.
Kuambil dan kubuka surat itu.
"Kata Bu Nurhayati disuruh bikin dua cerpen atau dua puisi. Besok dikumpulin," katanya ringkas.
Kulipat lagi kertasnya.
"Kok cepet banget?" tanyaku tak kalah singkat.
"Katanya surat pemberitahuannya telat," masih ngajak perang rupanya orang ini.
"Oke."
Kurnia baru saja masuk ke kelas.
"Cieeee.. yang lagi berbunga-bunga," celetukku.
Kurnia tidak menjawab, tapi wajahnya berubah warna. Aku suka menggodanya begini.
Meskipun aku tidak bertanya apa saja yang dia katakan pada Fitri, aku tahu kalau Fitri menerima cintanya.
Aku berbalik menghadap Kurnia yang sudah duduk di kursinya.
"Aamiin," katanya sambil tersenyum.
"Pasti ditraktir nih," godaku.
Kurnia mengeluarkan dua batang coklat favoritku dari dalam tasnya.
"Horeee!!!" teriakku kegirangan.
"Hush.. nanti diliatin orang. Malu," bisik Kurnia.
Aku mengulum senyum.
"Thank you," kataku.
Aku berbalik lagi.
Harry masih berdiri di depan mejaku. Dia masih menatapku dingin. Membuatku tak nyaman.
"Apa? Aku udah bilang 'oke' kan?" ucapku sinis.
"Aku beneran nggak habis pikir sama kamu," katanya.
"Nggak habis pikir ya udah nggak usah dipikirin. Habis nanti pikiranmu," aku pun melenggang keluar. Kenapa sih segitunya dia marah sama aku. Mana kemarin udah dijitak juga.
"Rinjani!" panggil seseorang ketika aku hendak berbelok ke toilet.
"Ya..," jawabku.
"Ini ada titipan buat kamu, Kurnia, Harry sama Tia," ternyata Qory yang memanggilku.
__ADS_1
"Ini apa?" tanyaku sambil menerima kertas yang disodorkan olehnya.
"Undangan seminar sekolah ke luar negeri, kata Bu Neni," jawabnya.
Kubaca tulisan diatas kertas yang mirip voucher belanja supermarket itu.
"Oya, makasih ya, nanti aku sampein ke orangnya masing-masing," aku tersenyum.
...
Aku duduk di ruang guru, ditemani oleh Pak Ade, guru Sejarah kelas 10 yang sedang piket.
Hari ini hari Sabtu, seharusnya sekolah libur. Tapi karena ada undangan untuk menghadiri seminar kuliah di luar negeri, aku harus tetap berangkat sekolah. Dan sekarang disinilah aku. Sendiri. Sebenarnya 10 orang terbaik yang diundang. Sudah pasti aku, Kurnia, Harry dan Ahmad adalah 4 diantaranya.
"Lama amat ya mereka. Pada kemana sih?" monolog Harry sambil terus menatap layar handphonenya.
Dia terus berjalan mondar-mandir di depan pintu.
Aku hanya meliriknya sebentar, lalu kembali mengalihkan pandanganku ke arah televisi yang menyala.
"Aku tunggu mereka di luar aja deh," akhirnya dia menyingkir dari depan pintu ruang guru.
Tinggallah aku dan Pak Ade berdua disini. Kami mengobrol kesana kemari. Semua hal kami bicarakan. Dari zaman Megalithicum, sejarah Borobudur, anak-anak kembarnya sampai ke gosip terhangat di sekolah.
"Kayaknya mereka langsung pergi ke tempat tujuan deh, Ri," kata Harry dari depan pintu.
Dia nggak bisa marah lama-lama sama aku. Sebelum tiga hari, dia sudah bersikap seperti biasa padaku.
"Tapi kan kita janjian disini," kataku sambil mengerucutkan bibir.
"Jadi gimana dong, mau nunggu sebentar lagi?" tanyanya.
"Seperempat jam lagi, ya," pintaku.
"Oke," jawabnya. "Oya, nih.. biar nggak boring," dia menyodorkan sekaleng minuman berkarbonasi dan sebatang coklat kesukaanku.
"Nggak usah, aku nggak laper ko," tolakku.
"Udah, nih..," diletakkannya kaleng itu di tangan kiriku dan coklat di tangan kananku.
Dan dia berlalu begitu saja.
Aku hanya termanggu menatap dua barang ini.
"Pak, mau?" tawarku pada Pak Ade.
"Nggak, makasih," jawabnya sambil tersenyum. Senyum yang aneh. Tidak hanya bibirnya yang tersenyum, bahkan matanya pun ikut tersenyum.
"Kok Bapak ngeliatinnya gitu?" tanyaku tak nyaman.
Si Bapak tertawa lepas.
"Kalian tuh serasi banget ya."
"Serasi apanya Pak, kami tuh temen berantem," bosan aku menjelaskan status kami.
"Masa sih kamu nggak liat cara dia ngeliatin kamu, Ri?"
"Pak.. kami cuma temenan, suer..," suaraku sudah memelas.
"Itu kan kata kamu, kalau kata dia? Bapak juga cowok kali, Ri. Bapak bisa liat dia tulus sayang sama kamu," si Bapak masih saja menggodaku.
"Jangan doain gitu dong, Pak. Saya nggak mau sama dia," kataku bersikukuh.
"Yang buruk menurut kamu, belum tentu buruk menurut Allah kan?"
__ADS_1
Ah, Bapak.. saya angkat tangan Pak kalau Bapak udah ceramah. Kalah saya, Pak..