
Kami kembali ke mobil yang diparkir dekat dengan alun-alun.
"Abis ini kita kemana lagi?" tanyaku.
"Mau makan di Lembang, atau Dago Atas aja?" tawarnya.
"Dago Atas aja, kalo ke Lembang pasti macet. Nanti pulangnya telat," inisiatifku.
"Oke," jawabnya.
Dengan pelahan kami menyusuri jalan yang ramai ini.
Daerah Dago Atas terkenal dengan cafe-cafenya yang unik. Juga tentu saja pemandangan yang luar biasa indah.
Dan kami sekarang sedang berada di salah satu cafe itu.
"Bagus ya, Ri..," kata Harry sambil memandang ke ujung sana. "Adem liatnya."
Aku mengangguk.
"Lebih bagus lagi kalo malem. Jadi keliatan kayak lautan lampu kecil-kecil," kataku.
"Emang udah pernah kesini malem-malem?" tanyanya.
"Pernah lah..."
"Sama siapa?" tanyanya langsung nge-gas.
"Sama kakakku. Tiap ada yang ngajak keluar, aku pasti dibawa," kataku cuek masih melihat pemandangan yang menyejukkan mata ini.
Harry membuang nafas lega.
"Kamu kenapa sih, Har?" tanyaku.
"Nggak pa pa..," katanya. "Pesen makanan, gih."
Aku memilih menu yang sekiranya Harry dan aku suka.
Dan tak berapa lama, pesanan kami datang.
Kami menikmati makanan kami tanpa membahas apa pun.
"Makasih ya, kamu udah mau pergi sama aku," kata Harry.
"Sama-sama.. makasih juga buat makan dan snow ball nya," kataku sambil tersenyum.
"Aku pengen liat senyum tiap hari. Apa mungkin?" tanyanya.
Aku tersenyum lagi.
"Kamu lagi ngegombalin aku? Apa tiap pacar kamu juga kamu perlakukan kayak gini?"
"Kenapa sih kamu selalu nanya gitu? Aku kan udah bilang, cuma kamu yang aku perlakukan kayak gini. Bahkan Nina sama Ayudya pun blom pernah aku ajak jalan kayak gini," sepertinya dia tidak suka kalo aku membahas mantannya yang entah berapa lusin itu.
Harry menatapku lekat.
"Aku nggak pernah seserius ini sebelumnya, Ri," katanya sendu.
"Kapan kamu pernah serius, Har?" balasku.
Dia menghela nafas.
"Sekarang aku serius, Ri. Aku pengen ngomong ini dari dulu. Aku bener-bener sayang sama kamu. Aku bener-bener cinta sama kamu. Aku bener-bener ingin jadi yang pertama dan terakhir buat kamu. Mungkin konyol buat kamu, tapi aku serius. Aku takut kita nggak punya banyak waktu. Aku minta sama kamu apapun yang terjadi, percaya sama aku," digenggamnya tanganku erat.
"Iya, aku percaya sama kamu. Makanya waktu itu aku terima kamu. Udah ah, jangan gini. Aku nggak suka." Kutarik tanganku dari genggamannya.
"Kalo kamu yakin kamu bisa jadi yang pertama dan terakhir, jangan lepasin aku. Apapun yang terjadi," pintaku.
Jujur aku nggak tau perasaan apa ini. Sejak dulu aku selalu nyaman bersamanya. Begitu juga dengan Kurnia dan dua sahabatku yang lain. Tapi ketika dia menawarkan rasa selain persahabatan, aku tidak ingin melepasnya. Kami terlalu muda untuk memikirkan apa yang akan terjadi di depan. Setidaknya yang bisa kami lakukan adalah menjalani yang seharusnya dijalani.
...
"Ri, kata Kakek kamu tadi pergi sama Harry, ya?" tanya Hali, kakakku, yang baru pulang kerja.
"Iya, Kak. Ni.. dibeliin ini," kataku sambil memasang snow ball pemberian Harry yang kupasangkan pada steker listrik.
"Ini Harry temen kamu dari dulu itu kan?" tanyanya lagi.
"Iya, kenapa gitu, Kak?" aku mulai bersila menghadap Kak Hali yang duduk di kursi meja belajar.
"Nggak, nggak kenapa-napa. Kakak cuma minta kamu lebih berhati-hati. Nggak semua cowok yang kamu anggap baik itu memang baik," katanya.
"Kakak mau bilang Harry nggak baik?" aku terus bertanya.
"Bukan.. Kakak cuma nggak mau kamu dimanfaatkan," kata-katanya makin membuatku bingung.
"Aku nggak ngerti, Kak," ujarku.
__ADS_1
"Kakak udah lebih berpengalaman daripada kamu, Ri. Bukannya kamu nggak boleh pacaran, boleh, dengan siapa pun. Tapi hati-hati," kata Kak Hali.
"Aku kenal betul sama Harry. Dia anak yang baik kok Kak," belaku.
"Ya, semoga aja kamu bener," kata Kak Hali lagi. "Ya udah, Kakak mau mandi dulu," katanya sambil menuruni tangga.
Ku tatap snow ball yang menyala itu.
"Aku yakin kamu nggak akan mengecewakan aku, Har," monologku.
...
Liburan semester ini kuisi dengan belajar dan membuat kerajinan tangan yang bernilai rupiah. Setidaknya bisa menambah saldo tabunganku.
Sehari tiga kali Harry mengirim pesan. Udah kayak minum obat aja. Isinya nggak jauh menanyakan 'lagi apa' dan 'aku kangen'.
Aku hanya menggelengkan kepala. Berusaha memahami perubahan sikapnya.
Sampai akhirnya hari masuk sekolah semester 2 dimulai hari ini.
Aku sudah duduk di bangkuku seperti biasa. Dan dibelakangku, Harry dan Kurnia sedang membandingkan hasil raport mereka dengan milikku.
"Ri, kalo raportku kayak punya kamu, ibuku pasti bikin kambing guling," celoteh Kurnia.
"Kalo raportku kayak punya kamu, pasti ibuku bakal bikin syukuran tiga hari tiga malem," timpal Harry tak mau kalah.
"Lebay!" seruku. "Dah, sini raportku," aku berusaha mengambil kembali raportku dari tangan mereka.
"Bentar dong, pelit," kata Kurnia.
"Eh, Om, liat dong foto depannya," tiba-tiba Harry merebut raportku dari tangan Kurnia.
Tiba-tiba mereka terbahak berbarengan.
"Busyet, mukanya galak banget," ujar Kurnia.
"Sini!" Aku langsung berdiri mendekati mereka.
Mereka malah mengerjaiku. Mereka mengoper raportku kesana kemari.
"Har.. sini!" kutarik tangannya mendekat.
"Iya.. iya.. Sayang.. sebentar..," kata Harry.
"Sayang?" tanya Kurnia.
"Kan aku sayang sama Riri," katanya sambil menyerahkan raportku.
"Kalian ada apa-apa ya?" tanyanya dengan wajah penuh tanda tanya.
Aku diam. Lambat laun dia pasti tahu.
Harry melirikku seperti meminta pertimbangan.
Aku hanya mengangkat alis.
"Kami.. kami udah jadian," kata Harry.
"Hah?? Kalian nggak salah?" tanyanya sampai berdiri.
Beberapa orang teman kami otomatis menengok ke arah kami.
"Biasa aja kale. Teriak-teriak. Sekalian aja umumin sekelas biar tau," sungut Harry.
Si Om duduk lagi.
"Aku nggak salah denger kan?" tanyanya memastikan.
"Iya, kami udah jadian," ulangku.
"Kamu nggak salah, Ri? Kamu yakin mau ngabisin hidupmu sama dia?" tunjuk Kurnia pada Harry.
"Emang aku nggak pantes ya buat Riri?" tanya Harry tersinggung.
"Kalo dia nggak berlutut di depan aku, aku juga nggak mau sama dia," candaku.
"O.. gitu.. jadi gitu.. Kamu nggak ikhlas..," kata Harry.
"Nggak, aku becanda.. Ngambek.. ngambek..," kataku sambil menusuk-nusuk pipinya.
"Aku nggak nyangka," gumam Kurnia. "Kalian rahasiain?"
"Nggak, kami jalanin kayak biasa aja ko. Cuma mungkin pada nggak nyadar," kataku.
"Ya, selamat deh buat kalian. Aku nggak tau mau ngomong apa," kata Kurnia.
"Makasih, Om."
__ADS_1
Entah ada yang mendengar atau Kurnia bercerita pada yang lain, cerita hubunganku dengan Harry langsung menjadi trending topic. Kemana pun aku berjalan ada saja yang berbisik-bisik membicarakan kami. Mungkin image Harry sebelumnya membawa pengaruh yang besar untuk kami.
Aku tidak peduli, toh memang kenyataannya begitu.
"Ri, bisa ke ruangan Bapak sebentar?" Pak Nur, guru Kimiaku memanggil.
"Iya, Pak," aku segera mengikutinya.
"Bapak mau tanya, memang ini masalah pribadi. Tapi ini menyangkut kamu kedepannya juga. Apa benar kamu pacaran sama Harry," tanya Pak Nur to the point ketika aku sudah duduk di depannya.
"Iya, betul, Pak," aku mengiyakan.
"Kamu udah pikir masak-masak?" tanyanya lagi.
Aku mengerutkan kening.
"Maksud Bapak, apa kamu yakin dia nggak manfaatin kamu?" pertanyaan Pak Nur kok sama kayak pertanyaan Kak Hali..
"Kok Bapak nanyanya gitu sih?" aku balik tanya. "Saya udah kenal Harry sejak lama, Pak. Kayaknya nggak mungkin dia bermaksud jahat sama saya," kataku.
"Ya kalau memang demikian, syukurlah. Soalnya dari dulu ada aja kasus yang seperti ini. Akhirnya yang perempuan nilainya anjlok karena alasannya fokusnya terbagi. Lebih banyak pacarannya daripada belajarnya. Tapi semoga itu tidak terjadi sama kamu. Kamu murid kebanggaan Bapak sejak kelas 1," kata-kata Pak Nur benar-benar masuk ke dalam hatiku.
"Terima kasih, Pak atas perhatiannya. Saya berusaha untuk tidak mengecewakan siapa pun," kataku.
"Ya, baiklah kalau begitu. Silakan kalau kamu masih ada urusan lagi. Bapak cukupkan sampai disini," beliau mempersilakan aku keluar.
"Iya, Pak. Terima kasih," aku bergegas keluar dari ruangan Pak Nur.
Aku baru tahu ada guru manggil murid karena dia 'pacaran'. Apakah ada murid lain selain aku yang dipanggil untuk alasan yang sama? Aku rasa tidak. Apakah mereka juga memanggil Gita dan gengnya karena kelakuan mereka di luar sana? Rasanya tidak adil.
Aku kesal sekali.
"Ri, kamu bener pacaran sama Harry?" aku berpapasan dengan Pak Munawir, guru Fisikaku.
"I.. iya, Pak," jawabku.
"Emang nggak bisa ya ditunda dulu sampai kalian lulus?"
Aku membelalakan mata mendengar pertanyaan Pak Munawir. Pertanyaan macam apa itu. Aku yakin nggak pernah ada murid yang ditanya begitu selain AKU!!
"Pak, maaf, ini yang tadi Bapak minta," seorang murid kelas 11 memberikan banyak buku pada Pak Munawir.
"Ya, sudah. Nanti kita bicarakan lagi," Guru Fisika ku itu berlalu disusul anak yang membawa tumpukan buku.
Sebegitu pentingkah hubungan asmaraku sampai semua orang bertanya? Apa untungnya untuk mereka.
Aku berjalan ke kantin. Membeli beberapa camilan dan berniat naik lagi ke kelas.
"Rinjani..," panggil Pak Nono, satpam sekolah.
"Ya, Pak..," aku menghampiri posnya yang tidak jauh dari kantin.
"Kamu katanya pacaran sama Harry?" tanyanya.
Lagi?? Ada apa dengan orang-orang ini?
"Bapak kenal sama Harry udah lama. Bapak juga kan suka ngisi di Remaja Mesjid. Bapak tau Harry itu seperti apa," lanjutnya.
So??
Pak Nono mengambil sesuatu dari posnya. Disodorkannya sebuah buku yang cukup tebal padaku.
11 Wanita Yang Tidak Akan Mencium Bau Surga.
Kuterima buku itu.
"Bacalah," ujarnya.
Aku membawa buku itu dan langsung naik ke kelasku.
Sebegitu nistakah yang aku lakukan sampai Pak Nono meminjamkan buku ini?
Kulihat Harry sedang duduk sendiri di bangkunya. Entah kemana Kurnia, mungkin sedang ke kantin atau toilet.
"Baru sehari kita ngakuin hubungan ini, aku udah dihadiahi buku ini sama Pak Nono," kuletakkan buku yang kupegang di depan Harry.
"Maksudnya apa?" tanya Harry bingung.
Aku mengangkat bahu.
"Aku juga dipanggil sama Pak Nur sama Pak Munawir," kataku lagi.
"Kenapa?"
"Karena beliau-beliau dengar kalo kita jadian," jawabku.
"Sebenernya apa sih yang mereka dengar sampai segitunya sama kamu," aku tau ada nada kesal di suaranya.
__ADS_1
Diambilnya buku yang diberikan Pak Nono dan bergegas turun dengan wajah merah padam.