DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
Asal kamu tahu, aku peduli..


__ADS_3

Kubawakan dua gelas air putih diatas nampan untuk kedua sahabatku. Ya mereka selalu merequest air putih kalau main ke rumahku. Entah emang niat hidup sehat atau niat ga ngerepotin aku.


"Eh ada nak Harry sama nak Kurnia. Ada lomba apa lagi nih?" kakekku keluar dari dalam rumah dan ikut duduk bersama kami di teras.


"Olimpiade Biologi, Kek," sahut Harry.


"Dilanjut lomba Pertolongan Pertama tingkat provinsi di PMI, Kek," lanjut Kurnia.


"Wah, hebat.. hebat.. Kakek senang punya cucu-cucu kayak kalian ini. Kalian sungguh membanggakan. Ya udah, silakan diteruskan. Kakek masuk dulu ke dalam ya," pamit kakekku.


"Iya, Kek..," sahut keduanya.


Setelah memastikan kakek masuk ke dalam rumah, aku menceritakan semua yang terjadi setelah pulang sekolah tadi.


"Tuh, kan..," seru Harry.


"Apanya yang tuh kan?" tanyaku sewot.


"Aku udah ga enak feeling kamu pulang bareng mereka. Kamu ga tau sih siapa mereka."


"Emang kamu tau siapa mereka?" tanyaku.


"Tau..," jawab Harry.


"Kalo tau kenapa ga bilang?" seruku makin sewot.


"Gimana aku ngomongnya? 'Ri awas, jangan bareng sama mereka, mereka bukan cewek baik-baik' gitu?" kata Harry dengan suara dicicit-cicitkan.


"Dari mana kamu tau mereka 'begitu'?" tanyaku.


"Kamu tau ga kalo Gita itu salah satu mantan aku?" Harry balik bertanya.


"Ngga..."


"Tuh kan, kamu ga perhatian sih sama temen," ujarnya.


"Masa iya aku harus tau kamu sekarang pacaran sama siapa, trus berapa lama, putusnya kapan, karena apa. Iiih.. males banget. Aku aja yakin kamu sendiri ga tau berapa banyak mantan kamu. Iya kan," tuduhku. Aku jadi inget adik kelas kesayanganku, Fitri, yang ngebet banget minta dijodoin sama cowok satu ini.


"Iya sih," akunya.


"Tuh kan..," gantian aku yang mengatakannya.


"Iya, intinya mereka 'begitu'," ujar Harry.


"Pantesan Gita kayaknya keki banget aku ikut sama mereka," ingatku. "Mungkin dia pikir karena aku sahabatmu aku tau tentang mereka. Trus aku memata-matai mereka, gitu kali ya."


"Mungkin..," mereka pun tidak bisa memastikan.


"Trus gimana akhirnya kamu tau kalo mereka 'begitu'?" tanyaku lagi.


"Ya aku kan jadian sama Gita, jadi gimana-gimananya langsung keliatan."

__ADS_1


Dia seperti mengingat-ingat sesuatu.


"Ngeri tau. Dia cewek tapi dia yang agresif duluan. Baru jadian udah main nyosor aja," Harry bergidik ngeri.


"Nah lho jangan-jangan kamu pernah diapa-apain sama dia," tuduhku sambil menunjuk hidungnya.


"Ih maaf ya, gini-gini juga aku masih punya iman," selorohnya.


"Punya iman ko tiap hari gonta ganti cewek," sindirku. "Yang punya iman tuh yang kayak gini nih..," aku menunjuk ke arah Kurnia. Yang ditunjuk malah melongo.


Mereka saling pandang dan tertawa. Ko bisa mereka jadi soulmate sedangkan mereka benar-benar berbeda pandangan. Keberagaman itu memang indah.


"Trus gimana ini, apa aku harus lapor ke sekolah?" tanyaku.


"Kamu mau bilang apa? Kamu punya bukti?" tanya Harry.


"Ngga..."


"Trus kamu mau bilang gitu aja tanpa ada saksi lain juga bukti yang bisa dipertanggungjawabkan?"


Aku menggeleng lagi.


"Yang ada nanti kamu malah dituduh fitnah mereka," kata Harry.


"Aku bener-bener ga percaya yang beginian ada di sekitar kita. Kirain cuma di berita-berita aja," kusangga wajahku dengan kedua tangan.


"Kalian juga udah tau duluan kenapa diem aja?"


"Yang bisa kita lakukan sekarang cuma jaga jarak sama mereka. Itu aja."


Aku bingung. Gini kali ya rasanya kalau jadi polisi, pengen nangkep orang jahat tapi ga bisa sebelum ada saksi dan bukti. Jadi geregetan.


"Awas lho, Ri, bukan ga mungkin mereka bakal cari masalah sama kamu," kata Harry.


"Baguslah, biar aku ada bukti buat ngeluarin mereka dari sekolah," kataku asal.


"Kalo mereka cari masalah, bukan Riri yang aku khawatirin, tapi mereka," Kurnia dan Harry tertawa serempak.


Aku hanya melengos. Sudah biasa diperlakukan kayak gitu.


"Tapi aku kepikiran sama Dewi. Gimana nasibnya ya..," aku menerawang ke atas. Aku merasa jauh lebih beruntung daripada dia, yang katanya bisa bersenang-senang dan beli barang apapun yang dia mau.


"Nah paling yang bisa kamu lakukan sekarang, kamu coba deketin dia, kasih pemahaman yang menurut kamu benar. Ya kalo kita ga bisa dorong dia keluar, kita harus tarik dia masuk. Soal gimana nanti dia bersikap, ya itu urusan dia," Kurnia memang jago kalau ngasih nasihat.


"Yang penting kamu sekarang gapapa," sambung Harry.


"Makasih ya," ucapku tulus. "Kalian selalu ada dalam sikon seperti apapun."


...


Aku datang lebih pagi dari sebelumnya, berharap bisa mengobrol cukup lama dengan Dewi sebelum pelajaran dimulai.

__ADS_1


Dewi duduk di meja ketiga, satu baris denganku. Aku sengaja duduk di kursinya, menunggu dia datang.


"Ngapain kamu duduk disitu?" tanya Harry yang baru datang melihatku duduk bukan di tempatku.


"Nungguin yang punya kursi," jawabku santai.


Benar saja, Dewi dan Gita datang bersamaan. Dewi melihatku dengan heran. Sedangkan Gita melihatku dengan penuh amarah. Matanya melihatku dan Harry bergantian.


"Kenapa kamu duduk di kursiku?" tanya Dewi. Nada suaranya biasa saja.


Aku tenang, berarti tidak ada apa-apa dengannya.


"Gapapa, cuma nungguin kamu," kataku sambil tersenyum.


"Heh!! Lu ga usah ikut campur urusan kami ya!" Gita tau-tau mendorong bahu kiriku dengan keras.


Aku reflek berdiri.


Dewi terlihat kaget. Begitupun dengan Harry. Tapi untung saja belum ada orang lain di kelas ini.


Aku menatapnya dengan pandangan mengintimidasi. Dia terlihat agak takut.


Kulirik bahu kiriku yang tadi didorongnya. Kulakukan gerakan mengibas seolah ada debu disana.


"Lu kalo mo rusak, rusak aja sendiri. Jangan bawa-bawa orang lain!" seruku menggaung di seisi kelas.


Gita terlihat syok.


"Apa yang gue lakuin ga ada urusannya sama lu!" tunjuknya di depan wajahku. "Awas kalo sampe lu lapor ke sekolah. Lu bakal nyesel!" gertaknya.


"Yang bakal nyesel itu lu, karena lu bakal kehilangan jari lu yang lentik itu dalam tiga detik kalo lu ga turunin jari lu sekarang," suaraku penuh penekanan.


Gita langsung menurunkan jari telunjuknya. Wajahnya pucat seketika.


"Lu lupa lu lagi ngomong sama siapa, heh!!" bentakku sambil mendekati Gita yang terlihat gemetar.


"Lu mau muka lho yang lu rawat baik-baik itu ga berbentuk lagi?" aku masih maju mendekatinya sampai dia terpojok tak bisa mundur lagi karena sudah menabrak papan tulis.


Bibirnya bergetar, badannya pun gemetar.


"Anak manja model lu ga ada apa-apanya buat gue. Jadi jangan pikir bisa ngancam gue dengan kata-kata lu itu. Gue ngomong cuma sekali. Dengerin baik-baik. Jangan deketin Dewi lagi. Jangan ajak-ajak dia lagi. Ngerti lu?!" bentakku kasar.


Gita mengangguk berkali-kali. Tanpa berani menatapku.


Brakk!!


Kupukul papan tulis di belakangnya dengan keras. Gita terlonjak saking kagetnya. Air mata sudah beruraian di kedua pipinya.


Aku segera berbalik menghadap Dewi dan Harry yang masih terpaku di tempatnya masing-masing. Langsung kupasang wajah imut tak berdosa di depan mereka. Kupasang senyum termanis sebelum melenggang ke kursiku sendiri.


"Dasar anak teather!" bisik Harry saat dia berjalan melewatiku.

__ADS_1


Kunaikkan jariku membentuk huruf V sambil tersenyum puas.


__ADS_2