
Bus yang akan ditumpangi oleh anak-anak kelas 12 IPA 1 sudah siap. Bu Neni mengabsen anak-anaknya agar tidak ada yang tertinggal. Begitu Bu Neni mengizinkan untuk naik, maka naiklah kami ke atas bus dengan suara celoteh yang lebih ramai daripada pasar malam.
Aku dan Saras lebih memilih naik paling terakhir daripada harus berdesakan dengan anak-anak lain. Dan sesuai prediksiku, kami mendapatkan kursi tepat di belakang Bu Neni dan Pak Nur di baris nomor dua dari depan. Kursi paling tidak diminati. Dan tentu saja kursi paling favorit adalah kursi paling belakang. Dengan jumlah kursi paling banyak, tentu bisa menampung lebih banyak orang pula. Mereka berdesakan, tertawa-tawa, bernyanyi, juga bermain gitar bahkan sebelum bus mulai berjalan.
Aku tertawa melihat tingkah mereka. Tentu saja, masa putih-abu adalah masa paling indah. Aku dan teman-teman lainnya ikut terbawa suasana. Kami bernyanyi dan bersenda gurau di dalam bus. Tanpa sengaja, mataku bersirobok dengan mata Harry yang duduk berjarak dua kursi dariku. Aku langsung membuang muka. Aku menepati janjiku untuk menganggapnya angin lalu.
Perjalanan ini akan memakan waktu lebih dari empat jam. Itu berarti kami akan sampai sebelum tengah hari.
Bus kami ramai sekali, penuh dengan berbagai suara. Meskipun demikian, Saras tidak peduli. Dia memilih memejamkan mata dan tertidur di bahuku. Aku pun ikut menguap. Kami bangun sangat pagi karena takut terlambat dan tertinggal.
Aku pun mulai memejamkan mata, berusaha tidur untuk mengganti jam tidurku yang terpotong.
Entah berapa lama aku tertidur. Sayup-sayup aku mendengar lagu Seventeen-Jaga Selalu Hatimu.
*Kau jaga selalu hatimu
saat jauh dariku
tunggu aku kembali
Kumencintaimu selalu
menyayangimu sampai
akhir menutup mata*
Aku ikut bernyanyi dalam hati sambil menikmati cahaya matahari yang menerobos sela gorden yang kupakai untuk menutup kaca jendela bus. Di lagu Pilot-Sepanjang Hidupku pun aku masih bernyanyi. Begitu pula dengan lagu-lagu berikutnya.
Tanpa sadar, aku meraba telingaku untuk mencari earphone. Namun, aku tidak menemukannya disana. Lalu, darimana lagu-lagu itu?
Aku mulai membuka mataku yang harus beradaptasi dengan cahaya terang di dalam bus. Bus sudah sepi, hanya ada satu dua suara yang terdengar. Aku menegakkan badanku dan melihat ke sekeliling. Saras masih tidur. Teman-teman yang lain pun sama. Sepertinya mereka semua bangun terlalu pagi.
"Pak, maaf. Ini lagu punya siapa, ya?" tanyaku pada Pak Nur yang duduk tepat di depanku. Sepertinya tidak semua temanku hafal lagu-lagu ini. Mereka lebih menyukai lagu K-Pop dan lagu barat.
"Punya Harry kalau nggak salah, ya Bu Neni?"
"Iya, Harry yang tadi minta disetel. Kenapa, Ri?" tanya Bu Neni.
"Nggak pa-pa, Bu," jawabku.
Aku menengok ke belakang. Dua bangku di belakangku, Harry tengah menatap keluar jendela dengan headset di telinganya.
__ADS_1
"Apa maksudnya dia minta lagu-lagu ini disetel? Mau membuat hatiku makin sakit?" gerutuku dalam hati.
Aku pun ikut melihat ke arah luar jendela, berusaha tidak mendengar lagu-lagu favoritku yang diputar di dalam bus.
Akhirnya kami sampai di tempat tujuan kami. Kuedarkan pandanganku ke batas cakrawala dan memuji kebesaran-Nya. Kuhirup udara pantai yang segar dan membiarkan rambutku yang tergerai dipermainkan angin.
Sebuah tangan merangkul bahuku. Si Om berdiri di sampingku, juga memandang ke arah laut yang luas.
"Indah, ya?" gumamnya.
"Iya."
Tiba-tiba seseorang juga merangkulku. Nina. Dia baru turun dari busnya dan langsung bergabung bersama kami.
Bahagianya hatiku, ditemani para sahabat yang selalu ada untukku. Meskipun kini sudah tidak lengkap lagi.
Setiap kelas diberi dua buah cottage, untuk murid laki-laki dan murid perempuan. Tiap cottage memiliki dua buah kamar. Setiap kamar bisa diisi tujuh sampai delapan anak. Cottage kami berada tepat di depan pantai. Pemandangannya pun benar-benar memanjakan mata.
Jadwal kami kosong sampai nanti malam. Tentu saja kami menggunakan jadwal kosong ini untuk bermain di pantai bersama teman-teman tersayang.
Begitu pun aku. Ada Kurnia, Nina dan Ahmad yang menemaniku bermain air di belakang cottage.
"Ahmad, jangan!" teriakku pada Ahmad yang menciprati kami dengan air laut.
"Kalian kayak bocah, ih!" teriak Nina.
Dan Nina pun menjadi bulan-bulanan Kurnia dan Ahmad. Hijabnya pun tak luput dari lemparan pasir.
Aku tertawa terbahak-bahak. Akhirnya mereka serempak menoleh ke arahku dan mengejarku. Namun sial, kakiku tenggelam dalam pasir yang basah. Kurnia menangkap dan memegangi tanganku. Ahmad melempariku dengan pasir. Dan Nina mengolesi wajahku dengan pasir basah. Kami semua tertawa. Kebahagiaan yang luar biasa. Terlebih lagi bila aku mengingat besok aku akan pergi jauh dari mereka.
Tiba-tiba mataku menangkap sosok Harry yang sedang duduk sendiri tak jauh dari kami. Seolah tak terganggu dengan sekitarnya, dia menatap lautan dengan tatapan kosong. Masih ditemani headset di telinganya. Entah kenapa hatiku merasa terenyuh. Aku merasa dia kesepian.
"Udah-udah ih, kalian jail banget!" teriakku.
Akhirnya kami berhenti ketika Mira, salah seorang anak IPS 1 mendatangi kami.
"Rinjani, Kurnia, sama Ahmad ditunggu di hotel kata Bu Yetty," ujarnya membuat kami saling pandang.
"Buat apa?" tanyaku.
"Ada gladi bersih buat nanti malem katanya. Oya, kalo ketemu Harry, bilangin dia juga disuruh ke hotel, ya," tambah Mira.
__ADS_1
Kami semua mengangguk.
"Tuh orangnya tadi di situ. Kamu yang ngasi tau ya, Om. Aku mo ganti baju dulu," kataku sambil membersihkan wajahku dari pasir.
Kami pun bubar, kembali ke cottage masing-masing.
Tak berapa lama kami sudah berkumpul kembali di lobby hotel. Menunggu instruksi selanjutnya dari Bu Yetty.
Aku mengenakan kaos kebesaran dan celana jeans, tak lupa ku cepol rambutku yang selalu terbang terbawa angin dari laut.
Kami berkerumun sambil bercerita ngalor-ngidul. Hanya Harry yang memisahkan diri, ditemani Arga yang baru datang.
Harry melirikku dengan ujung matanya.
"Ri, bisa kamu urai aja rambutmu? Aku nggak suka kalau cowok lain ngeliatin leher kamu," tiba-tiba aku teringat kata-kata Harry saat terakhir kami jalan berdua.
Masa bodo. Aku mengeraskan hati.
Gladi bersih pun dimulai. Aku, Deni dan Yuyun sebagai Juara Umum dari tiap jurusan, berjalan bertiga ke arah Kepsek dengan diiringi tarian tradisional. Kemudian Kepsek akan memberi wejangan dan mendoakan kami. Setelah itu kami kembali ke barisan bersama tujuh orang terbaik. Dan terakhir kami melepaskan masing-masing seekor burung merpati.
Gladi bersih pun usai. Kami akan mengadakan acara pukul 19.30. Kami semua kembali ke kegiatan masing-masing.
"Hai, Ri," sapa Deni.
"Hai, Den," sapaku juga. Aku selalu merasa tidak nyaman apabila bertemu dengannya. Aku pernah menolak cintanya di awal semester kemarin.
"Denger-denger udah nggak sama Harry, ya?" dia mensejajariku.
Aku hanya diam tidak menjawab pertanyaannya. Aku terus melangkah ke luar hotel.
"Apa aku punya kesempatan untuk menggantikan tempat Harry?!" teriak Deni membuat orang-orang di sekitar kami menengok ke arahku.
"Kamu apa-apaan sih? Nggak liat apa banyak orang di sini?" kataku malu.
"Biarin aja, biar semua orang tau," katanya seenaknya.
"Sayangnya kamu terlambat, Den. Riri pacar aku," entah darimana Ahmad datang dan langsung merangkulku. "Ayo, Ri," ditariknya tanganku menjauh dari Deni.
Deni masih berdiri di tempatnya. Sedangkan orang-orang di sekitar kami berbisik-bisik membicarakan apa yang barusan mereka lihat.
"Kenapa kamu bilang gitu, Mad?" tanyaku.
__ADS_1
"Karena aku tau kamu nggak nyaman diperlakukan kayak gitu."
"Makasih, ya," ucapku tulus. Rasanya hatiku tenang saat Ahmad menggenggam tanganku dan membawaku pergi dari situ.