
Plak!
Aku reflek menengok ke arah sumber suara. Aku benar-benar terkejut ketika mengetahui Nina menampar Harry di depan umum.
"Nin!" langsung kuhampiri dia.
"Aku nggak nyangka ya, Har. Ternyata kamu tuh jahat banget! Kamu tega ngelakuin ini semua sama Riri. Riri juga kan temen kita! Segitu pengennya kamu jadi Juara Umum sampe kamu tega lakuin ini ke Riri?" Nina menunjuk-nunjuk wajah Harry dengan penuh emosi.
"Nin, udah Nin, malu." Kutarik tangan Nina dari sana.
Belum pernah aku melihat Nina semarah ini. Dulu, pernah sekali dia marah. Waktu itu anak-anak kelas kami menjahili seorang guru PKL sampai menangis. Dia langsung menggebrak meja dan memarahi seisi kelas. Tapi saat itu dia tidak semarah ini. Sekarang bahkan aku merasa tidak mengenalnya.
"Maaf, ya. Aku sampai bikin kamu marah begini," sesalku.
"Nggak, Ri. Ini bukan salah kamu. Harry yang keterlaluan. Aku sering denger dia bilang mau ngalahin kamu. Tapi aku nggak percaya dia pake cara licik kayak gini."
"Maksudnya apa?" tanyaku bingung.
"Iya, dia mempermainkan perasaan kamu. Biar kamu down dan nggak konsen."
Ya Tuhan, benarkah ini?
"Tapi kenapa mesti perempuan itu? Bahkan untuk jadi alas kakimu aja dia nggak pantes," Nina menggerutukkan giginya.
Aku menarik napas panjang. Berusaha memasukkan banyak oksigen agar otakku bisa bekerja dengan benar.
Itukah alasannya mendekatiku selama ini? Aku yang notabene adalah sahabatnya. Hanya demi sebuah ambisi agar jadi nomor satu, dia tega melakukan ini padaku. Fix, akan kuakhiri semuanya hari ini. Hubungan ini tak hanya menyakitiku, tapi juga teman-temanku.
***Sandiwarakah selama ini
setelah sekian lama kita tlah bersama
inikah akhir cerita cinta
yang selalu aku banggakan di depan mereka
entah dimana kusembunyikan rasa malu
Kini harus aku lewati
sepi hariku tanpa dirimu lagi
biarkan kini kuberdiri melawan waktu
'tuk melupakanmu
walau pedih hati
namun aku bertahan
__ADS_1
Akhir Cerita Cinta- Glenn Fredly***
...
"Aku minta waktumu, Har," ucapku lirih, tanpa melihat ke arahnya ketika dia berjalan melewati bangkuku yang berada di barisan paling depan.
"Pulang sekolah," lanjutku masih tanpa melihatnya.
Dia berhenti sebentar, lalu melanjutkan langkahnya tanpa merespon perkataanku barusan.
Aku tahu dia sedang berpikir, aku hanya perlu menunggu jawabannya dengan perbuatan.
...
Jam pelajaran telah habis untuk hari ini. Hari yang benar-benar melelahkan.
"Ri, ada Ahmad di depan pintu," bisik Kurnia dari bangku belakang.
Aku menengok ke arah yang dimaksud Kurnia. Benar saja, Ahmad sudah berdiri di sana sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Ngapain dia di situ?" tanya Kurnia lagi. "Nggak lagi nungguin kamu kan?"
"Aku nggak tau."
"Tapi kamu inget sama apa yang aku bilang tadi pagi 'kan?"
"Bagus!"
"Aku akan mengakhiri semuanya, Om. Maaf ya, melibatkanmu dalam semua ini," lirihku.
"Apa maksud kamu?"
"Aku mau mengakhiri hubunganku dengan Harry."
Kurnia diam.
"Mungkin itu lebih baik," ujarnya pada akhirnya.
"Tapi itu berarti persahabatan kita pun akan berakhir. Aku sungguh-sungguh minta maaf, Om. Semuanya jadi gini gara-gara aku," aku berpura-pura membereskan semua buku dan alat tulisku di atas meja karena Bu Neni mulai memperhatikan kami.
Sebenarnya aku tahu, tak hanya Bu Neni yang memperhatikanku, tapi seluruh sekolah.
Bukan sesuatu yang aneh bila mereka berbisik, bahkan sengaja mengeraskan suaranya ketika membicarakanku. Dan seperti biasa, aku 'tak memperdulikannya.
"Itu bukan salah kamu. Itu salah si Pengecut itu. Dia yang merusak persahabatan kita. Dan aku tidak butuh sahabat seperti dia," umpat Kurnia.
Aku tidak mengatakan apa pun sampai Harry selesai memimpin doa dan mengucap salam kepada Wali Kelas kami.
"Ri, aku anter pulang, ya. Aku bawa mobil kok," kata Ahmad sambil tersenyum ketika aku baru sampai di depannya.
__ADS_1
"Maaf ya, Mad. Hari ini aku ada perlu dulu. Mungkin besok atau hari lain," ujarku penuh sesal.
"Iya, deh. Nggak pa pa," katanya masih dengan senyum. Dia tidak ingin memaksa.
Aku menepuk bahunya.
"Duluan ya." Aku melambai sambil mulai melangkah meninggalkannya.
Kurnia berjalan mensejajariku tanpa kata. Begitu sampai di depan gerbang, kami berhenti.
"Good luck, ya. Semoga diberi jalan yang terbaik," katanya sambil mengusap rambutku.
"Thank's ya, Om." Ingin aku menangis, bersyukur mempunyai sahabat sebaik dia.
Aku mulai berjalan pulang. Sedangkan Kurnia menunggu Fitri di gerbang sekolah.
Aku mulai menyusuri jalan yang biasa aku tapaki ini. Angin dingin membuatku mengeratkan cardigan yang membungkus tubuhku. Daun-daun pun berguguran membuat suasana hatiku makin perih. Tanpa menengok aku tahu ada yang berjalan mengikutiku dari belakang. Dan aku tahu itu Harry.
Aku berjalan seperti biasa, tanpa mempercepat ataupun memperlambatnya. Harry hanya mengekor tanpa mengatakan apa pun. Kami berjalan dengan pikiran masing-masing.
Dan sampailah kami di depan gang rumahku. Aku berhenti menunggu Harry sampai di tempatku berdiri.
Dia berjalan dengan tangan masuk ke dalam saku jaketnya, seperti biasa. Dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Makasih atas waktu kamu," kataku saat dia sudah berdiri di depanku. Berusaha agar tidak ada getaran di dalam suaraku.
"Jangan khawatir, aku tidak akan menghabiskan waktumu percuma. Aku hanya ingin mengatakan yang seharusnya aku katakan sejak kemarin."
Aku ambil napas sebanyak yang aku bisa seolah dengan demikian aku bisa mengeluarkan semua sakit hatiku.
"Mulai detik ini aku putuskan hubungan kita. Semua hubungan kita, termasuk persahabatan yang sudah kita jalin selama ini. Terima kasih atas semua yang kamu lakukan buat aku. Aku sangat menghargainya. Dan aku akan kembalikan semua barang pemberian kamu. Tolong ke depannya, jangan sapa aku, jangan tegur aku. Anggap aku angin lalu. Karena aku pun akan melakukan hal yang sama padamu. Silakan kamu lakukan apa pun yang kamu mau, dengan siapa pun yang kamu mau." Aku mengakhiri kata-kataku.
Aku menunggu. Harry tidak mengatakan apa pun. Tapi aku sempat melihatnya mengusap sudut mata sebelum dia memunggungiku.
Perih rasanya mengatakan ini. Tapi lebih baik aku mengakhirinya daripada menggantungkan hubungan yang hanya menyakiti hatiku. Aku 'tak tahu apa yang dia pikirkan. Dia belum juga berbalik menghadapku. Dia masih setia menatap kendaraan yang berlalu lalang di depan kami.
"Kamu nggak mau mengucapkan kata perpisahan buat aku?" entah kenapa kalimat itu yang meluncur dari bibirku. Kalimat yang menurutku menjatuhkan harga diriku.
Dia berbalik. Wajahnya datar seperti sebelumnya. Seolah apa yang sudah aku katakan tidak mempengaruhinya sama sekali.
"Kan kamu yang mau ngomong. Aku cuma mendengarkan. Kalo memang itu yang kamu mau, aku akan lakukan." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Aku tersenyum sinis.
"Aku nyesel ngomong kayak gini sama kamu. Aku masih ingin berpikiran positif, tapi ternyata apa yang mereka semua katakan itu benar. Kamu cuma manfaatin aku." Kutahan air mataku agar tidak sampai tumpah di depan dia.
"Kamu memang jago berakting. Selamat, kamu udah berhasil bikin aku benar-benar tersakiti." Aku segera berlari menuju rumahku tanpa menoleh ke arahnya lagi.
Aku segera membenamkan wajahku ke dalam bantal begitu aku sampai di kamar. Kutumpahkan semua air mata yang kutahan sejak tadi. Kugigit bibirku agar tangis ini tak terdengar. Cukup kamar ini yang jadi saksi berapa banyak air mata yang sudah kubuang percuma untuknya. Mulai saat ini 'tak kan lagi kusebut namanya dalam doaku dan takkan lagi ada namanya di hatiku.
__ADS_1