DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
Menyelesaikan Masalah


__ADS_3

"Riri...," seseorang memanggilku. Aku menoleh ke arah sumber suara.


"Pak Zain. Silakan duduk, Pak," sapaku sambil bergeser memberikan tempat untuknya duduk.


"Anak kesayangan Bapak juara lagi, ya?" tanyanya sambil tersenyum.


"Alhamdulillah, Pak," jawabku dengan senyum pula, "berkat doa Bapak Ibu Guru semua."


"Bapak senang sekali. Bapak bangga padamu," Pak Zain menepuk bahuku lembut.


"Jadi kamu mau lanjutin kemana?"


"Rencananya saya mau ambil beasiswa yang di Malang, Pak. Kedokteran."


"Wah, hebat! Bapak pasti mendukungmu. Tapi biaya Kedokteran nggak sedikit lho, Ri, meskipun kamu dapet beasiswa," ujar Pak Zain.


"Iya, Pak. Saya tau. Saya sudah pikirkan itu. Saya bisa lakukan banyak pekerjaan sambilan di sana."


"Kamu selalu begitu. Kamu tidak pernah mau merepotkan orang lain. Bapak mau menawarkan bantuan. Jangan berpikir macam-macam dulu. Bapak melakukannya tulus. Bapak bisa bantu kalau kamu butuh bantuan keuangan."


"Makasih, Pak. Bapak baik banget. Saya sangat menghargai bantuan Bapak. Saya berdoa semoga saya tidak membutuhkannya."


Pak Zain tertawa terbahak-bahak.


"Iya, iya.. semoga kamu tidak membutuhkan bantuan Bapak."


Nina memperhatikan interaksi kami dengan seksama. Dia terlihat agak aneh dengan percakapan kami.


"Bapak benar-benar menganggapmu sebagai anak kesayangan Bapak, Ri. Ya, setidaknya sebelum Bapak punya anak beneran," celotehnya. "Jangan sungkan, ya."


"Iya, Pak. Terima kasih banyak."


Pak Zain beranjak dari bangku panjang tempat kami duduk.


"Bapak ke kantor lagi, ya," pamitnya.


"Iya, Pak. Silakan," aku dan Nina berkata serempak.


"Oya, seperti biasa, hadiahnya besok," Pak Zain melambaikan tangan sambil berjalan menuju ke dalam sekolah.


"Ri, kamu nggak ada apa-apa kan sama Pak Zain?" selidik Nina.


"Maksudnya?"


"Maksudnya nggak ada hubungan spesial, 'kan?" tanya Nina sambil menatapku tajam.


"Ya nggak lah, Nin. Nggak mungkin aku ada apa-apa sama Pak Zain. Kan kamu tau sendiri sejak kita kelas 10, Pak Zain gitu sama aku," protesku.


"Iya, sih. Aku takut aja kamu ada apa-apa sama Pak Zain."


"Percaya sama aku, Nin. Aku masih punya harga diri. Nggak mungkin aku macem-macem sama suami orang."


"Aku percaya sama kamu, Ri. Eh, by the way, perpisahan kita nggak boleh tukeran bis ya?" nada suara Nina langsung berubah begitu kita berganti topik.


"Nggak boleh, aku udah nanya sama Bu Neni. Katanya susah ngabsennya, tar ada yg ketinggalan lagi kalo pindah-pindah gitu."


Aku menahan daguku dengan telapak tangan di atas meja.

__ADS_1


"Padahal asyik ya, kalau kita sebis," aku menerawang.


"Kamu keingetan Harry lagi ya?"


"Nggak lah, Nin. Ko apa-apa Harry, apa-apa Harry," kataku sebal.


"Iya, iya, tapi di sana kita bebas 'kan?"


"Kayaknya bebas," sahutku.


"Setidaknya kita bisa bikin kenangan yang manis dulu sebelum berpisah," ujar Nina.


Aku pun mengiyakan.


...


Dan hari yang ditunggu pun tiba. Hari Perpisahan!


Sekolah kami akan mengadakan perpisahan di Pantai Anyer. Dan otomatis kami semua harus ikut. Setiap kelas menggunakan satu buah bus, didampingi Wali Kelas dan Ibu Bapak Guru Pendamping.


Rencananya, kami akan berangkat pagi-pagi sekali sebelum pukul 06.00 WIB, agar kami tidak terlalu siang sampai di sana.


Aku berdiri di depan kantin sambil menunggu teman-teman yang lain. Kaos putih dengan celana jeans biru dongker menjadi andalanku hari ini. Juga sepatu kets dan tak ketinggalan jaket kelas kami yang berwarna hitam.


"Kamu Rinjani, ya?" sapa seorang wanita cantik berhijab yang terlihat sangat anggun.


"I.. iya," jawabku tergagap. Siapa ini?


"Kenalkan, saya Anggun, istrinya Pak Zainal," sapanya sambil mengulurkan tangan.


"O, istrinya Pak Zain ya," aku buru-buru menyambut tangannya dan mencium tangan itu dengan sopan.


Aku tersenyum kikuk.


"Boleh bicara sebentar?" tanyanya.


"Tentu, Bu," kuajak beliau ke tempat duduk yang terbuat dari semen, tempat para siswa biasa menonton basket.


Tidak ada orang di sini, karena anak-anak sibuk di kelasnya masing-masing.


"Maaf sebelumnya kalau saya membuatmu tidak nyaman," awalannya langsung membuatku tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Ini tentang suami saya."


Aku mengangguk paham.


"Saya tahu kalau pada awalnya, suami saya tidak mencintai saya. Kami menikah pun karena dijodohkan. Dan saya sangat mengerti itu. Tapi begitu saya tahu kalau ada orang yang disukainya, saya merasa sangat tersakiti. Kak Zain tidak mengatakannya secara langsung, tapi secara tidak sengaja saya melihat banyak foto wanita lain di galeri handphonenya. Dan itu adalah foto kamu."


Sampai disitu aku masih tidak menyela pembicaraannya. Aku hanya mendengarkan dan diam.


"Sudah lama sekali saya mau menanyakannya pada Kak Zain, tapi saya tidak punya nyali untuk bertanya. Tapi beberapa bulan yang lalu, entah kenapa dia mengajak saya bicara tentang hubungan kami. Tadinya saya tidak mengerti, tapi semakin hari perlakuannya pada saya semakin baik. Sampai akhirnya saya tahu kalau dia berubah menjadi seperti itu karena kamu menolaknya. Saya sangat bersyukur."


Aku masih terdiam. Bingung mau mengatakan apa.


"Kamu kan yang bikin ini?" tanyanya sambil memperlihatkan sebuah bros bunga clay dengan mutiara berat berwarna pink yang dikombinasi dengan kristal berwarna bening.


Aku tersenyum.


"Iya, Bu. Itu saya yang bikin," kataku dengan tenang. Aku senang sekali. Kalau istri Pak Zain mau memakainya berarti hubungan mereka sekarang jauh lebih baik.

__ADS_1


"Terima kasih, ya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib pernikahan saya seandainya kamu tidak menolak Kak Zain," katanya sambil merangkulku.


"Nggak, Bu. Saya nggak mungkin mau menerima laki-laki yang sudah beristri. Lagipula rencana saya untuk menikah masih sangat jauh. Saya mau sekolah dulu, mau kerja dulu, baru mungkin memikirkan tentang pernikahan."


Wanita itu memelukku erat.


"Lagipula Pak Zain juga sudah bisa move on kok, Bu, dari saya," aku tertawa. "Pak Zain hanya terlambat menyadari bahwa ada yang lebih berharga daripada cinta yang haram untuk wanita lain, yaitu cinta untuk istri yang sudah sah dinikahinya. Saya senang Pak Zain sekarang hanya menganggap saya seperti anaknya, sama seperti yang lain. Saya selalu mendoakan semoga Pak Zain dan Ibu bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawwadah, warahmah. Maaf bila Ibu sebelumnya merasa tersakiti. Saya benar-benar nggak tau kalo Pak Zain suka sama saya, sampai Pak Zain sendiri yang mengatakannya."


"Ibu tau, bukan salah kamu. Mungkin jodoh kami memang harus seperti ini. Tapi saya benar-benar bersyukur, sekarang hubungan kami sudah sangat baik. Seperti yang saya inginkan."


Aku bisa menebak bahwa wanita ini sangat mencintai Pak Zain. Semoga Pak Zain pun demikian.


"Lho, dicariin kemana-mana malah pada duduk di sini," tiba-tiba Pak Zain datang dengan membawa sekantong besar makanan kecil.


"Udah kenalan?"


"Udah dong, Pak," seruku sambil berdiri. "Bapak ini gimana sih, udah punya yang cantik begini masih nyari yang pecicilan kayak saya," godaku.


Pak Zain mengacak rambutku dengan gemas, membuatnya berantakan.


"Iiiih Bapak!" seruku kesal.


Pak Zain dan istrinya tertawa ketika aku harus mengucir kembali rambutku.


"Jangan ngambek, jelek," ejek Pak Zain. "Nih," beliau menyodorkan kantong plastik besar yang dibawanya.


"Buat saya?" tanyaku sambil menunjuk hidungku sendiri.


"Iya, lah. Kenapa? Nggak mau? Ya udah," ditariknya lagi kantong itu.


"Mau dong, Pak," langsung kusambar plastik itu. "Makasih banyak ya, Pak, Bu," kataku sambil tersenyum lebar.


"Itu udah termasuk hadiah kamu lho, ya."


Kuintip ke dalam kantong plastik itu. Ada beberapa batang coklat kesukaanku.


"Ya ampun, Bapak baik banget. Makasih ya, Pak. Semoga Bapak diberi rezeki yang berlimpah oleh Allah SWT. Aamiin," seruku.


Istri Pak Zain pun ikut mengamini.


"Rinjani, mau ikut mobil kami?" tawar istri Pak Zain.


"Ibu sama Bapak pake mobil sendiri?" tanyaku.


"Iya, tuh," tunjuk Pak Zain ke seberang jalan.


"Ah, nggak rame, Pak. Mending di bis, rame," kataku.


"Ya udah kalau nggak mau. Kita ketemu lagi di sana, ya," ujar Pak Zain.


"Hayo, Bapak sama Ibu sambil menyelam minum air, ya," kutunjuk keduanya bergantian sambil terkikik.


Wajah istri Pak Zain merona.


"Apaan, orang kami liburan sendiri, bukan ngawal kalian," kata Pak Zain.


"Iya, iya, saya percaya. Mau bulan madu 'kan?" aku senang menggoda keduanya.

__ADS_1


"Dasar kamu...."


"Kabuuurrr!" aku langsung berlari sebelum tangan Pak Zain menarik hidungku.


__ADS_2