
Malam yang ditunggu pun tiba. Malam terakhir kami menyandang status sebagai siswa SMA. Entah aku harus sedih atau senang, karena aku merasakan keduanya. Sedih, karena harus berpisah dengan teman-teman tersayang, dan senang karena semua yang sudah kuperjuangkan membuahkan hasil maksimal.
Aku datang ke gedung pertemuan, tempat diselenggarakannya acara ini bersama teman-teman sekelas. Terlihat sekali semuanya begitu gembira, padahal mereka belum tahu apakah mereka lulus atau tidak. Bahkan untuk yang merasa lulus pun, mereka belum mempunyai rencana apapun ke depannya. Mereka hanya menikmati apa yang sedang terjadi. Aku sangat iri.
Gedung ini sudah hampir penuh oleh siswa siswi kelas 12 yang lain. Dan kelas kami langsung berbaris dengan rapi di tempat yang sudah disediakan. Aku, Kurnia, Ahmad dan Harry berdiri di depan barisan kelas, bersama enam orang lainnya. Termasuk Deni, yang dipermalukan Ahmad sore tadi.
Semua berjalan sesuai rencana. Rasa bahagia dan bangga melebur menjadi satu saat namaku dipanggil sebagai siswa dengan nilai terbaik oleh Bapak Kepala Sekolah.
Seusai acara, semua temanku memberiku selamat. Tak hanya teman sekelas, teman yang tak kukenal dengan baik pun mengucapkan selamat.
Semua anak berbondong-bondong menuju ruang makan. Bukannya ikut berbaris, Ahmad malah menarikku menjauh dari barisan.
"Selamat, ya," katanya sambil menjulurkan tangan kanannya.
"Kamu ngasih selamat mulu ih," ujarku sambil menyambut uluran tangannya. "Udah berapa kali coba, kamu bilang selamat?"
Ahmad tertawa. Dikeluarkannya sebuah box dari belakang tubuhnya.
"Apa ini?" tanyaku.
"Sesuatu yang bisa bikin kamu inget terus sama aku," jawab Ahmad.
"Aku nggak bisa terima, Mad."
"Kenapa?"
"Aku...."
"Anggap aja sebagai salam perpisahan. Ini beneran ikhlas kok. Aku nggak akan minta apapun sama kamu. Besok kan kamu pergi. Aku nggak bisa ketemu kamu lagi."
"Kan kita masih bisa video call," ucapku.
"Iya, ini cuma sekedar buat ngingetin kamu, kalau kamu lagi sibuk buat sekedar inget aku."
Dengan ragu aku menerima box itu. Kubuka perlahan. Sebuah jam tangan wanita dengan bahan tali dari kulit imitasi berwarna hitam.
Kulepas jam tanganku sendiri yang berbahan stainless steel. Kupasang jam tangan hadiah dari Ahmad. Dan kumasukkan jam tanganku ke dalam box darinya.
"Makasih, ya," ucapku tulus.
Dia tersenyum. Senyum yang sama dengan senyum yang membuatku terpana sampai aku masuk UKS gara-gara terkena lemparan bola basket. Senyum yang sama yang membuatku buru-buru kabur dari toilet gara-gara bertemu dengannya. Senyum yang sama yang bisa membuatku tersenyum seharian kalau berpapasan dengannya di perpustakaan. Namun sekarang, senyum itu bahkan tidak bisa mengalihkan perhatianku dari seorang lelaki yang sedang melihat ke arah kami. Harry.
"Ikut ngantri, yuk," ajakku pada Ahmad.
Aku berusaha menghindari tatapan Harry yang tidak bersahabat. Ahmad mengekor di belakangku. Tak ada yang kami bicarakan sampai makan malam selesai.
"Barusan Ahmad nyatain cinta sama kamu?" bisik Kurnia saat kami keluar dari gedung bersama.
"Nggak."
"Terus ngapain kalian ngobrol berdua? Pake acara dikasih kado segala," sahut Kurnia.
"Om, sejak kapan kamu jadi kepo?" sindirku.
__ADS_1
"Bukannya kepo. Biar nanti kalo ada yang nanya apa kalian jadian, aku bisa jawab."
"Jawabannya 'nggak'," kataku memastikan.
"Tapi dia kayaknya suka sama kamu, Ri."
"Aku tau."
"Kamu gimana sih, katanya nggak nyatain. Terus dari mana kamu tau kalo dia suka sama kamu? Nggak jelas," ujar Kurnia bingung.
"Dia pernah bilang, Om, waktu aku putus sama Harry. Dia bilang kalo dia nyesel kenapa nggak dari dulu dia tau kalo aku suka sama dia."
"Terus?"
"Apanya yang terus? Kalo terus ya nabrak!"
"Maksudnya, terusannya gimana, Rinjani?" Kurnia menggeretukkan giginya kesal.
Aku tertawa. Sekali-kali ngejailin nih orang, nggak dosa 'kan?
"Ya, mau gimana lagi. Aku udah nggak suka lagi sama dia. Aku cuma nganggep dia temen," kataku.
"Bukannya dulu kamu suka banget ya sama Ahmad?"
"Iya. Tapi sekarang udah expired."
"Mana ada cinta expired," dengus Kurnia.
"Cinta kamu sama Fitri mungkin nggak ada expirednya. Tapi cintaku buat Ahmad udah lewat masa berlakunya."
"Jangan bawa-bawa dia, Om. Aku udah menutup semua kenanganku sama dia sejak dia ngekhianatin aku."
"Tau nggak, Ri? Aku ngerasa ada yang nggak beres sama dia."
"Aku nggak peduli," sahutku.
"Eh, abis ini kalian mau ngapain?" tiba-tiba Ahmad sudah berjalan seiring dengan langkah kami.
"Kayaknya kami mau bakar-bakaran di depan cottage," jawab Kurnia.
"Boleh gabung nggak?" tanyanya.
"Kamu nggak gabung sama temen-temen kamu?" tanya Kurnia. Meskipun mereka satu organisasi, tapi ada nada keberatan di suara Kurnia.
"Paling nanti malem," jawab Ahmad enteng.
Aku tertawa.
"Kalo kamu nggak malu, ayo aja gabung sama kita," ajakku.
Dan benar saja, Ahmad lebih memilih bergabung bersama teman sekelasku daripada bersama teman sekelasnya.
Aku membantu mencari daun kelapa kering untuk dijadikan bahan api unggun. Tidak sengaja, aku melihat sesosok tubuh yang duduk di tepi pantai dengan memeluk lutut, sendirian. Kufokuskan mataku. Ya benar, itu Harry! Sedang apa dia di situ sendiri sambil menatap laut yang bahkan sudah tidak terlihat? Hatiku tergelitik untuk mendekatinya, tapi harga diri membawa kakiku menjauh dari tempat itu.
__ADS_1
Entah dari mana teman-temanku mendapatkan jagung untuk dibakar. Yang pasti kini ditanganku sudah ada sebuah jagung yang mengeluarkan wangi menggoda.
Kami bernyanyi diiringi suara gitar yang dimainkan Ahmad. Ternyata dia jago bermain gitar.
🎶 Saying i love you
Is not the words i want to hear from you
It's not that i want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words
is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say than you love me
'Cause I'd already know 🎶
More than words
Aku bertepuk tangan.
"Kamu suka?" tanya Ahmad sambil duduk di atas pasir di sampingku.
"Suka. Aku nggak tau kamu jago main gitar," kataku sambil tersenyum.
Matanya sendu menatapku dari balik kacamatanya. Aku segera mengalihkan pandangan. Pura-pura sibuk dengan jagung ditanganku.
"Besok aku yang anter kamu ke stasiun, ya," pintanya.
"Jangan. Nanti malah ngerepotin. Jadwal keretanya malem," tolakku.
"Nggak pa pa, biar aku tenang, nggak mikirin kamu terus."
Ya Tuhan, Mad. Jika seandainya kamu bersikap seperti ini saat aku masih mencintaimu, aku tidak akan pernah pergi dari sini. Jika saja..
Malam ini tidak ada yang tidur di cottage. Kami semua menghabiskan waktu dengan bernyanyi dan membakar jagung. Semoga menjadi kenangan yang indah untuk kami semua.
Pagi-pagi sekali kami kembali ke Bandung. Kali ini tidak ada yang bernyanyi atau bersenda gurau seperti saat kami berangkat. Semua anak memilih tidur di kursinya masing-masing.
Perjalanan sama sekali tak terasa. Kami merasa perjalanan Anyer-Bandung hanya sekejap mata. Sebelum pulang ke rumah, aku berpamitan kepada seluruh guru yang pernah mengajarku selama di sekolah ini. Juga tidak lupa meminta doa restu beliau semua untuk masa depanku. Sedih rasanya saat para guru memelukku bergantian.
"Nanti kamu berangkat jam berapa, Ri?" tanya Kurnia.
"Paling jam delapanan. Soalnya kasian Ahmad kalo nganterinnya terlalu malem. Kalo keretanya sih berangkat jam dua belas malem, lebih beberapa menit," jawabku.
"Nanti aku ke rumah, ya?" izin si Om.
"Iya, ke rumah aja. Aku seneng banget kalo kamu mau menyempatkan diri."
__ADS_1
"Kalo sama Harry?"
"Mending kamu nggak usah datang!" seruku.