
Pagi ini aku berangkat lebih awal. Selain karena hari ini hari Senin, aku juga mau menyempatkan mampir ke kelas 10-2, kelas Fitri. Aku mau minta penjelasan tentang pengakuannya kemarin.
Kemarin, sepanjang perjalanan mengantarku pulang, Harry tidak mengatakan apapun. Itu berarti dia lagi ngambek. Kalaupun dia ngga lagi ngambek, berarti dia lagi bad mood. Aku cukup tau diri untuk tidak mengungkit soal apapun padanya.
Aku melongokkan kepalaku di depan pintu. Sepi.
"Fitri udah dateng?" tanyaku pada seorang anak yang duduk di bangku paling depan.
"Belum, Kak," jawabnya.
Aku melirik jam tanganku. Pukul 06.10.
"Ya udah deh, makasih ya..," ucapku sambil berlalu.
Aku mulai menapaki tangga yang menuju ke kelasku.
Koridor masih terasa lenggang, padahal ini hari Senin. Apa aku kepagian ya.
"Assalammu 'alaikum.."
"Wa 'alaikum salam..," ternyata sudah ada orang di kelas.
"Hi, Om..," sapaku. Akhir-akhir ini aku lebih suka memanggil Kurnia begitu, karena dia senang sekali menasehatiku dimanapun dan kapanpun. Sok tua.
Dia hanya tersenyum.
Aku meletakkan tasku di kursi dan berniat keluar lagi.
"Ri..," panggilnya.
"Ya..," kakiku tertahan di depan pintu. "Kenapa?"
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh dong," kataku. "Aku aja segala ditanyain sama kamu, mulai dari jadwal pelajaran sampai tafsir mimpi, inget?"
Aku berjalan ke arah bangkunya. Bangku Kurnia dan Harry tepat berada di belakang bangkuku.
"Mo nanya apa?" tanyaku sambil menarik bangku Harry agar sedikit menjauh dari Kurnia.
Aku tahu betul Kurnia seperti apa. Sama seperti aku tahu seperti apa Harry. Dia bukan tipe orang yang pecicilan kayak Harry. Dia juga bukan tipe orang yang terbuka tentang dirinya sendiri. Dia peduli pada orang sekitarnya, tapi dia tidak mau orang lain peduli dengan masalahnya.
"Hei..," aku mencolek lengannya pelan.
Dia yang manggil, ko dia yang diem.
"Kamu deket sama anak-anak kelas 10 kan?" akhirnya dia buka mulut.
"Anak-anak PMR yang baru maksudnya?" tanyaku memastikan.
__ADS_1
"Iya, lumayan," aku jadi inget misi kami kemarin. Misi yang gagal total gara-gara Fitri ngaku kalo aku yang nyomblangin dia sama Harry. Konyol. Aku tersenyum.
"Kenapa senyum?" tanyanya.
"Ngga, jadi inget aja kelakuan konyol mereka," kataku.
"Ada apa sama mereka?"
"Hem.. kamu tau yang namanya Fitri kan?"
Aku langsung mengerutkan kening. Waduh.. ada apa ini..
"Tau dong, dia salah satu kesayanganku," jawabku jujur.
Ya, diantara 42 anak PMR kelas 10, dia dan lima temannya berhasil mengambil hatiku. Ada aja kelakuan mereka yang membuatku tersenyum. Aku jadi merasa punya adik setengah lusin. Instan.
"Inget ngga sama cewek yang pingsan di lapangan waktu camping yang tiga hari itu?" tanyanya.
"Camping waktu masa orientasi itu ya? Yang tiga hari aku ga mandi itu kan?" tanyaku memastikan.
"Ngga tau, kamu ga mandi berapa hari."
"Ih iya bener, yang di bumi perkemahan itu kan. Iya, aku ga mandi tiga hari itu.. Pulang-pulang kulitku jadi eksotis," kataku ngeyel. "Trus.. trus..."
"Ya itu adalah dia."
"Maksudnya Fitri? Cewek yang pingsan trus kamu gendong ke pendopo itu Fitri?" tanyaku tidak yakin.
Ko aku bisa lupa ya. Padahal waktu kejadian, aku yang nolongin cewek itu. Aku inget, pas mau aku usapin kayu putih dia menolak, karena ada Kurnia juga disitu. Akhirnya Kurnia keluar tanpa diminta.
"Aku inget kejadiannya, tapi aku ga inget kalo itu Fitri," kataku sambil terus berusaha menyusun puzzle ingatanku. "Trus gimana?"
"Hem..."
"Apa sih Om, ham hem ham hem mulu," kataku tak sabar.
"Aku suka sama dia."
"Hah!!" teriakku tak percaya. Untung kelas masih kosong. Aku menutup mulutku dengan kedua telapak tangan.
"Ngga mungkin," gumamku lirih.
"Kenapa ga mungkin?" tanyanya.
Aku salah besar nyomblangin Fitri sama Harry. Kalau sampai Kurnia tahu kalau Fitri suka sama Harry..
"Kan.. kan.. dulu kamu pernah bilang ga akan suka sama cewek kalo masih sekolah," aku gugup ga tau mau bilang apa.
"Kamu bilang, tar kalo udah kerja, udah mapan, baru mau ngomongin yang begituan."
__ADS_1
"Itu waktu aku blom ketemu sama Fitri..," ada semu merah di pipinya. Iiihhh.. jelek banget kamu Om kalo kayak gitu. Ini bukan kamu banget.
"Kamu bilang, aku satu-satunya cewek yang berani kamu ajak ngobrol berduaan," aku masih belum percaya apa yang dikatakannya.
"Ya iya.. aku kan ga nganggep kamu cewek," jawabnya.
"Iya tau, tapi maksudku, apa sekarang kamu berani ngobrol berdua sama cewek selain aku?" tanyaku. Serius aku sama sekali tidak tersinggung.
"Kan ada kamu yang nemenin aku kalo aku mo ngobrol sama dia."
"What? Ogah.. lu pikir gue obat nyamuk," suaraku langsung meninggi.
"Jadi gimana dong?" tanyanya dengan wajah memelas.
"Assalammu 'alaikum.." sebuah salam terdengar dari pintu. Dan aku tahu siapa pemilik suara itu.
Aku langsung berlari ke arah pintu sebelum pemilik suara itu terlihat batang hidungnya.
Kutarik tangan Harry menjauh dari pintu. Langsung kudorong badannya ke dinding.
"Awas lu ya, jangan ngomong apapun sama Kurnia tentang Fitri. Apapun!" kutunjuk hidungnya sebagai penegasan.
Teman-teman kami yang baru datang menatap kami dengan curiga. Tapi aku tak peduli. Tidak boleh ada yang merusak persahabatan kami. Apalagi karena masalah cewek.
"Apaan sih?" tanyanya tak mengerti.
"Pokoknya lu jangan ngomong tentang yang kemaren sama Kurnia," kataku cepat.
Ini nih, jeleknya aku. Sulit mengendalikan emosi. Kalau udah emosi, lu-gue nya keluar deh.
"Oke..," katanya, "tapi itu..." dia menaikkan alisnya sambil memainkan bola matanya.
Hah? Tiba-tiba tengkukku berasa dingin. Aku langsung mengerti, ada yang ga beres nih. Aku mengikuti arah bola mata Harry.
Oh My God!! Ahmad sedang berdiri di ujung tangga terakhir masih dengan tas di punggungnya. Sepertinya dia baru datang. Dan dia melihat adegan yang tidak senonoh ini. Tidaaaaaak..!!!
Langsung kulempar tangan Harry yang tadi sedang kupegang erat. Bersamaan dengan kusembunyikan jari yang tadi menuding hidung Harry. Reflek aku mundur beberapa langkah.
Ahmad belum juga melangkah dari tempatnya berdiri. Aku sama sekali tidak berani menoleh ke arahnya hanya untuk sekedar melihat perubahan raut wajahnya.
Baru minggu kemarin dia memujiku sempurna, sekarang.. Hiks.. rasanya pengen nangis. Pasti dia menganggapku cewek bar-bar yang ga punya etika.
"Ada apa sih, Ri?" rupanya Kurnia menyusulku. "Buru-buru amat."
Kurnia berjalan ke arahku. Kini aku dan Harry berdiri diantara Kurnia dan Ahmad.
"Gapapa, ko. Tadi Riri baru inget kalau Pak Rifat ngingetin dia buat siap-siap buat Olympiade besok. Iya kan, Ri?" ditariknya bahuku merapat ke tubuhnya. Dirangkulnya bahuku sambil berjalan ke arah kelas kami. Meninggalkan Ahmad yang aku tahu pasti masih berdiri di tempat yang sama.
"Oh, kirain ada apa," Kurnia mengekor masuk ke kelas.
__ADS_1
Aaaarggghhh.. kenapa sih nasib percintaanku gini amat. Apa ini karma karena aku menolak semua cowok yang nembak aku?