DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
Pengkhianatan


__ADS_3

Aku terhenyak.


"Apa maksudmu?" tanyaku dengan nada datar.


"Kamu nggak denger? Aku bilang Harry.. bakalan.. anterin.. aku.. pulang..!" katanya penuh penekanan.


"Kenapa juga dia harus anterin kamu pulang?" tanyaku dengan nada yang mulai meninggi.


"Tanya aja sama dia. Iya kan, Sayang?" dia meletakkan tangannya di bahu Harry.


Aku langsung bereaksi. Aku berdiri. Ingin rasanya mencekiknya sekali lagi. Tapi harga diriku menahannya.


Gita tertawa mengejek, lalu berlalu pergi ke bangkunya.


"Aku butuh penjelasan Har..," kataku mengiba.


Harry tidak mengatakan apa pun. Dia beranjak dari sampingku dan kembali ke bangkunya.


"Har..?"


"Udahlah Ri, nggak usah dibahas lagi," katanya tanpa melihatku.


"Apanya yang nggak usah dibahas? Kata-kata dia atau hubungan kita?" aku paling tidak suka basa-basi.


Kurnia baru saja melangkah masuk dan mendapati kami yang sedang bersitegang.


"Kenapa ini?" tanyanya heran.


Aku buru-buru berbalik dan duduk kembali di bangkuku.


Kurnia meletakkan tasnya di samping Harry. Kemudian duduk di sampingku, di tempat tadi Harry duduk.


"Kamu sakit, Ri? Ko kamu pucat gitu?" tanyanya penuh perhatian.


"Aku nggak pa pa, Om," kataku dengan air mata yang hampir jatuh.


Kurnia menengok ke arah soulmate nya.


Dia pun tidak mendapatkan jawaban disana.


Dia mengerti ada sesuatu yang terjadi diantara kami.


Tapi dia tidak mendesak kami untuk bicara.


Sampai jam pulang sekolah, Harry tidak mengajakku bicara sepatah kata pun.


Meski hati ini ingin sekali berteriak, tapi egoku bisa meredamnya.


Tanpa berkata apa-apa, Harry berjalan di samping tempat dudukku.


Disusul oleh Gita yang tersenyum sinis padaku.


"Ri, aku nggak salah liat?" tanya si Om.


"Liat apa Om?" tanyaku seolah tak terjadi apa-apa.

__ADS_1


"Harry pulang gitu aja nggak pamit apa gimana gitu sama kamu? Kamu nggak dianter pulang sama dia?"


Aku menggeleng.


"Aku nggak ngerti Om. Dari kemaren dia gitu. Nggak ngomong nggak apa. Aku tanya apa dia marah sama aku, jawabnya nggak. Aku jadi serba salah. Dan lagi..," aku memotong kalimatku.


"Dan lagi, dia pulang sama Gita." Kataku dalam hati.


"Ah, udahlah," aku tidak mau terlihat lemah di depan Kurnia.


"Ya udah, aku anter pulang yuk," kata Kurnia.


"Fitri?"


"Dia ada ekskul dulu. Abis anter kamu, aku balik sini lagi," kata Kurnia.


"Makasih ya, Om..," kataku.


...


Waktu menunjukkan pukul 21.30. Harry belum memberiku kabar apa pun.


Aku gelisah. Kenapa jadi begini? Dengan mudahnya dia memenuhi setiap sudut hatiku dengan namanya. Dia tahu itu. Tapi kenapa dia justru bersikap seperti ini padaku?


Aku mengingat pesan Kak Hali, Pak Nur dan Pak Munawir. Apa aku salah mengambil keputusan? Ah, tidak mungkin. Sejak dulu Harry sudah menyayangiku, tidak mungkin dia tega melakukan hal jahat padaku.


Aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya pelahan. Berusaha mengeluarkan semua pikiran buruk dari kepalaku.


Aku mulai memejamkan mata. Berharap bisa segera tertidur pulas. Tapi tiap aku menutup mataku, yang terbayang adalah senyumannya yang menenangkan.


Aku mengambil gawaiku. Kuambil earphone dan mulai memasangkannya.


Kuremas baju tidurku di bagian dada. Mengusir sesak. Kenapa aku begitu menyedihkan? Ini bukan Rinjani. Ini bukan dirimu. Aku tidak boleh seperti ini. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja.


...


Masih seperti kemarin, Harry hanya melewatiku tanpa menyapa. Dan seperti kemarin pula, aku tidak bisa tidur menyebabkan ada mata panda di wajahku.


"Kami baik-baik saja, dan pasti akan selalu baik-baik saja," sugestiku pada diri sendiri.


Aku berusaha mencari celah untuk mengobrol dengannya. Tapi sepertinya Harry tahu, dan terus mengelak tiap aku mau memulai pembicaraan.


Aku terlalu lelah untuk marah. Lebih baik aku pergi bersama Kurnia ke kantin. Kami memesan bakso tahu dan segera menghabiskannya. Setidaknya bakso tahu pedas itu bisa membuat mataku tetap terbuka sampai jam pelajaran usai.


Kami kembali ke kelas dengan perut kenyang. Kata orang, perut yang kenyang bisa membuat hati tentram. Semoga.


Kurnia dan aku masuk bersamaan. Dan betapa terkejutnya kami ketika melihat pemandangan di depan mata. Gita sedang duduk di paha kiri Harry dengan sebelah tangan merangkul lehernya.


Tenggorokanku terasa tercekik. Wajahku memanas. Nafasku memburu. Dadaku terasa terbakar. Aku bersiap untuk memberi hadiah pada wanita yang tidak tahu malu itu.


"Heh, perempuan murahan! Kami semua udah tau kelakuan kamu! Tapi ini sekolahan, tau diri dong. Kalo mau jual diri sana di jalan, jangan disini!" sebelum aku melangkahkan kakiku ke arah mereka, Kurnia sudah lebih dulu menarik lengan Gita dan melemparnya dengan kasar hingga dia terpelanting.


Gita melotot, tidak menyangka Kurnia yang ramah dan kocak bisa melakukan hal itu padanya.


Wajah Harry tidak kalah kaget dari Gita. Tapi dia tidak melakukan apa pun. Bahkan untuk sekedar menolong Gita berdiri.

__ADS_1


"Dan kamu," tunjuk Kurnia pada Harry, " aku kecewa sama kamu!"


Aku hanya berdiri mematung menonton drama yang terjadi di depanku.


Harry sempat melihat ke arahku. Tapi segera memalingkan wajahnya.


Bel tanda waktu istirahat telah habis menyelamatkan kami semua. Menyelamatkan kami dari rasa malu karena jadi tontonan teman-teman sekelas.


Wajah Kurnia semerah wajahku. Aku tahu dia sedang menahan amarah. Aku begitu mengenalnya, betapa baik hatinya. Tapi hari ini untuk pertama kalinya aku lihat dia berlaku kasar pada seorang perempuan. Dan itu karena dia membelaku.


Kurnia masih duduk di samping Harry, tapi tak terdengar sedikit pun dia menyapa, bertanya, berdiskusi apalagi bercanda seperti yang biasa mereka lakukan.


Hatiku sudah tidak karuan. Tidak ada sedikit pun bahasan Bu Neni yang masuk ke dalam otakku. Yang kuinginkan saat ini adalah berlari pulang dan menangis sampai air mataku habis.


Dan saat yang aku tunggu pun tiba. Bel tanda pelajaran usai terdengar sangat nyaring. Aku ingin segera keluar dari kelas.


Bu Neni keluar lebih dulu, disusul teman-temanku yang ternyata juga ingin segera pulang. Akhirnya aku mengalah. Ketika aku mulai melangkah, Kurnia menahan tanganku.


"Aku anter pulang," katanya.


Aku hanya mengangguk.


Begitu aku menoleh lagi arah pintu, tak terasa air mataku luruh tanpa aba-aba. Disana Harry sedang merangkul pundak Gita mesra.


Kurnia langsung melepaskan tangannya yang menahanku. Dia berlari menyusul Harry dan Gita yang sudah berjalan di lorong depan kelas kami. Ditariknya tas Harry sehingga dia menoleh ke belakang.


Bug!


Bogem mentah Kurnia mendarat dengan keras tepat di wajah Harry. Harry terpental disusul teriakan Gita.


Kulihat bahu Kurnia yang naik turun menahan emosi. Sekali lagi kulihat tubuh tegap itu mendekati Harry, mencengkeram kerah seragamnya. Kurnia menarik tangannya ke belakang bersiap memberikan pukulan yang kedua kepada Harry. Aku segera berlari dan langsung memeluk Kurnia dari belakang.


"Jangan, Om.. sudah..," suaraku berubah menjadi isakkan.


"Jangan.."


Tangan Kurnia masih melayang di udara. Dan sebelah tangannya masih mencengkeram kerah Harry. Beberapa pasang mata teman-teman kami yang tersisa menatap kami dengan pandangan kaget. Tak ada seorang pun yang berniat melerai Kurnia dan Harry. Begitu pun dengan Gita. Dia hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Selama beberapa detik, Kurnia tidak merubah posisinya. Dan aku masih mendekapnya dari belakang. Akhirnya dia menurunkan tangannya dan menghempaskan Harry dengan kasar.


"Aku pikir aku cuma kecewa sama kamu, ternyata lebih dari itu. Aku benar-benar malu punya temen kayak kamu! Dasar pecundang!" teriak Kurnia.


Gita buru-buru membantu Harry untuk bangun. Tapi langsung ditepis kasar oleh Harry.


Tanpa berkata apa pun atau pun berniat membalas, Harry langsung berbalik dan pergi dengan langkah lebar.


Tinggallah aku yang masih menangis di punggung Kurnia.


Kulepaskan dekapanku.


"Om, bolehkah aku pinjam punggungmu sebentar?" tanyaku diantara isak tangis.


Kurnia tidak menjawab.


Aku menyandarkan keningku ke punggung lebar Kurnia. Menumpahkan tangisku disana.

__ADS_1


Tanpa kusadari ada orang lain selain kami di lorong.


Dia melihat semua kejadian ini.


__ADS_2